Musdah Mulia dan Penghapusan Pendidikan Agama

0
2184
Pesantren Al Irsyad (Ilustrasi)
Pesantren Al Irsyad (Ilustrasi)

Oleh: Dr. Slamet Muliono*

Bukan kali ini saja Siti Musdah Mulia mengeluarkan pernyataan kontroversial. Pernyataan terbaru yang disandarkan pada dirinya telah menjadi pembicaraan hangat dan ramai di media sosial.

Musdah Mulia, Direktur eksekutif Megawati Institute, baru-baru ini menyarankan agar sekolah Islam seperti Muhammadiyah atau sekolah pesantren untuk dikurangi dan kalau bisa disamakan dengan sekolah Kristen yang dikatakannya sangat jarang.

“Mungkin sekolah Islam harus dikurangi. Ini sangat penting agar generasi Indonesia ke depannya semakin baik, jadi tidak berkembang lagi terorisme di negeri ini. Musdah Mulia mengharapkan agar sekolah Kristen dan Islam akan berdiri sama rata. Tidak hanya itu saja, pembelajaran agama Islam sebaliknya ditiadakan saja. (suaranasional.com. 11/11/2015).

Untuk memperkuat gagasannya, di akun facebooknya, Musdah Mulia mengutip pernyataan temannya :

Mari belajar dari Singapura tentang agama. Sekitar 22 tahun yang lalu Singapura melarang pengajaran agama di sekolah. Hasilnya, penduduk negeri itu dikenal paling tertib, disiplin, dan toleran. Padahal mereka terdiri dari beragam etnik, bahasa dan agama.

 PM Singapura, Lee Hsien Loong tetap menegaskan, pemerintahnya tidak akan mengijinkan pengajaran agama masuk sekolah. Sejak PM Lee Kuan Yew ditetapkan bahwa agama adalah urusan pribadi, bukan urusan sekolah atau negara. Keputusan itu diambil karena Lee Kuan Yew melihat pengajaran agama justru menimbulkan perpecahan dan konflik, bukan perdamaian.

Sebaliknya, Indonesia menjadikan pengajaran agama wajib di sekolah. Bahkan, ada kementerian agama yang memiliki jutaan pegawai di bidang agama, puluhan ribu sekolah agama, ratusan ribu rumah ibadah, trilyunan rupiah untuk pembangunan bidang agama. Namun hasilnya Indonesia masuk negara terkorup di dunia, bahkan korupsipun marak di Kementerian Agama. Ringkasnya, semua orang Indonesia beragama kecuali jika berhadapan dengan uang, kekuasaan dan proyek.

Gagasan dan pernyataan Musdah Mulia perlu untuk didiskusikan dan dikritisi secara jernih. Pertama, pengurangan sekolah Islam. Kedua, peniadaan pelajaran agama di sekolah. Ketiga, negara rujukan untuk peniadaan pelajaran agama. Keempat, maraknya tindak korupsi dan aksi terorisme karena kontribusi agama.

Untuk pengurangan sekolah Islam, dan pada saat yang sama memberikan kesempatan kepada sekolah Kristen agar memiliki kesempatan yang sama dengan sekolah Islam. Gagasan ini tidak hanya mengerdilkan peran sekolah-sekolah Islam, tetapi justru memberi peluang dan spirit kepada sekolah-sekolah Kristen untuk mengambil peran di sektor pendidikan ini. Hal ini bukan saja akan menutupi kontribusi sekolah Islam tetapi menyemai pertumbuhan kelompok Kristen untuk berkontribusi di sektor yang sangat vital dan strategis.

Peniadaan pelajaran agama merupakan sebuah usulan yang tidak hanya naif, tetapi mengubur peran dan gagasan para pendiri negeri ini yang menginginkan bangsa ini dibangun di atas pondasi agama. Kalau pun terjadi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bukan dengan menghilangkan pendidikan agama tetapi perlu mengevaluasi mengapa korupsi di negeri ini terjadi.

Mungkin pelajaran agama selama ini lebih pada pelajaran untuk tes (memperoleh nilai), bukan sebagai sarana membangun karakter dan budaya. Agama selama ini semarak hanya di masjid, saat ceramah atau perayaan. Maka perlu membumikan nilai-nilai pada realitas kehidupan. Kalau agama menjadi realitas hidup tidak mungkin terjadi ketidakadilan struktural di lembaga pemerintah. Dengan demikian korupsi yang sudah mengakar bisa diberantas.

Negara rujukan yang digunakan untuk peniadaan pelajaran agama adalah negara berbasis sekuler. Apakah bukan sebuah pengkhianatan terhadap pejuang negeri ini. Pendiri negeri ini berhasil mengusir penjajah tidak hanya diinspirasi oleh nilai-nilai agama, tetapi untuk menegakkan nilai-nilai agama di negeri ini. “Negara sekuler memang tidak mengajarkan agama, tetapi nilai-nilai moral ditanamkan.” Itulah yang selalu menjadi jargon sehingga harus dirujuk oleh pemikir sekuler di negeri ini.

Semestinya Indonesia dengan nilai-nilai agama yang bersumber dari “Yang suci” akan jauh lebih powerful bila nilai-nilai agama ini betul-betul membumi di dalam realitas. Bagaimana membumikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial sehingga tercipta sebuah tatanan sosial yang menghargai sesama muslim, itu yang seharusnya dirumuskan. Kita harus mendorong agar sesama muslim tidak saling mengkafirkan, saling menghujat, sehingga saling olok dan mudah diadu domba. Bagaimana seorang pemimpin Ormas Islam terbesar bisa menahan diri untuk tidak mengumbar pernyataan yang membuat muslim yang lain merasa terhina dan terinjak-injak. Hal ini berujung agama sebagai kambing hitam. Dengan demikian, agama harus disingkirkan. Itulah logika yang dipakai.

Maraknya tindak korupsi dan tindakan terorisme karena kontribusi agama. “Indonesia mayoritas beragama Islam dan korupsi menjadi sebuah budaya dan mengakar kuat serta banyak kasus terorisme di negeri ini. Mengakarnya budaya korupsi dan maraknya terorisme itu ditopang dan didorong oleh agama.” Begitulah kira-kira narasi dan alur yang ingin ditunjukkan adanya peran dan kontribusi agama dalam membiarkan budaya korupsi dan terorisme.

Konsekuensi dari narasi di atas adalah minggirnya atau marginalisasi agama (Islam) dalam kehidupan sosial dan digantikan oleh nilai-nilai yang disandarkan pada norma dan karakter bangsa ini. Pertanyaannya adalah norma seperti apa untuk menggantikan agama Islam di negeri ini ? Bukankah negeri dan bangsa ini dahulu ditegakkan oleh founding fathers, atas dasar nilai-nilai agama yang diambil dari tradisi Islam. Sudah begitu naifkah bangsa ini yang ingin menukar dan menyandarkan diri pada bangsa sekuler tanpa melihatnya secara komprehensif?.

Yang perlu dievaluasi adalah agama seperti apa yang diajarkan pada anak bangsa ini sehingga membentuk karakter dan budaya bangsa yang berperadaban mulia sebagaimana yang diajarkan Nabi yang Agung, Muhammad bin Abdullah.

*Penulis adalah Dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here