Inilah Alasan Mengapa Penghasilan Harus Dihabiskan

0
821
ilustrasi (foto: republika)
ilustrasi (foto: republika)

Penghasilan kok dihabiskan? Harusnya kan disisihkan. Karena ada kebutuhan dan rencana jangka panjang kan. Kalau dihabiskan, bagaimana bisa merencanakan?

Sabar, jangan emosi dulu. Sesungguhnya artikel ini justru akan mencerahkan. Pembaca akan belajar dengan sederhana bagaimana menghabiskan penghasilan dengan cara yang benar. Makna penghasilan di sini luas. Bisa saja sumber penghasilan tersebut dari gaji untuk karyawan, atau laba bersih bagi wirausaha.

Menghabiskan Belum Tentu Boros

Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi peringatan kepada hambanya agar tidak boros.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menasihati kita dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)

Berdasarkan dua wahyu di atas dapat ditarik benang merah bahwa boros adalah perilaku yang buruk. Namun apakah menghabiskan penghasilan juga termasuk perilaku boros?

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas rahimahullah mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.”

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qotadah rahimahullah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475)

Berdasarkan penjelasan pakar tafsir di atas, boros adalah perilaku yang mengeluarkan seluruh hartanya di jalan yang salah. Apabila diarahkan ke jalan yang benar, maka hal itu bukan termasuk perilaku boros. Lalu, bagaimana caranya menghabiskan penghasilan dengan cara yang benar?

1. Pertama Untuk Allah

Saat kita mendapatkan penghasilan, hal pertama yang perlu dialokasikan adalah infaq di jalan Allah. Bisa berupa zakat (jika sudah mencapai nisab) ataupun sedekah. Hal inilah yang harus diutamakan oleh kaum muslimin dalam mengelola penghasilannya. Lalu, apa hikmah dari mengutamakan zakat dan sedekah di jalan Allah?

Allah ta’ala berfiman yang artinya,

“Apapun harta yang kalian infakkan maka Allah pasti akan menggantikannya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS. Saba’: 39),

Kabar gembira serupa juga datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532]),

2. Lunasi Utang

Saat memiliki penghasilan yang cukup untuk mencicil atau bahkan melunasi utang tersebut, maka saat itulah wajib mengeluarkannya. Karena menunda pembayaran utang dalam keadaan mampu, apalagi berniat untuk tidak bayar sama sekali, maka hal termasuk perbuatan zalim yang besar.

3. Tabungan dan Investasi

Setelah penghasilan dihabiskan untuk zakat, sedekah, dan melunasi utang, maka alokasi selanjutnya adalah untuk tabungan dan investasi. Untuk keduanya ini tidak bisa disisihkan di akhir, namun harus dialokasikan setelah dua pengeluaran di atas, sesuai dengan kondisi rumah tangga dan rencana jangka panjang seperti apa. Tentunya setiap keluarga memiliki ukuran ideal yang berbeda-beda.

4. Belanja Rumah Tangga

Inilah yang menjadi alokasi terakhir bagaimana cara menghabiskan penghasilan dengan benar. Menempatkan belanja untuk kebutuhan rumah tangga di akhir mengajarkan pasutri  berhemat dan tidak mengeluarkan harta dengan sia-sia. Hal ini juga sesuai dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmannya di surat Al Furqan ayat 67 yang artinya,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan: 67)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melindungi umatnya dari sikap boros dan menjaga kaum muslim agar mampu menghabiskan penghasilan dengan benar.

Penulis: Arief Abdurrahman Hakim/Ed: Ariza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here