Berkunjung ke Ponpes Tunas Ilmu, Ustadz Syafiq sampaikan 4 Butir Nasehat Untuk Santri

0
958
Ustadz Dr. Syafiq Basalamah dan Ustadz Abdullah Zaen di depan santri Ponpes Tunas Ilmu

PURBALINGGA (fokusislam) – Sabtu (21/11) pagi, Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA berkunjung ke Ponpes Tunas Ilmu Purbalingga. Dalam pertemuan singkat dengan para santri Ponpes Tunas Ilmu, dosen Sekolah Tinggi Dirosah Islamiyyah Imam Asy Syafi’i tersebut memberikan beberapa nasehat kepada para santri.

Kepada anak-anak didik Ustadz Abdullah Zaen ini, beliau memotivasi agar mereka bertambah giat dalam menuntut ilmu. Menurut beliau sabar, ikhlas dan kekuatan untuk mengatasi hambatan adalah kunci sukses belajar.

“Menuntut ilmu butuh kesabaran. Imam Ibnul Qoyyim rahimahulloh berkata, orang-orang yang berakal semua bersepakat. Kenikmatan tidak bisa diraih dengan kenikmatan. Barangsiapa yang bersantai-santai, dia akan kehilangan waktu santainya yang sesungguhnya,” ujar Alumni Universitas Islam Madinah tersebut.

Merinci nasehatnya, Ustadz Syafiq mengatakan bahwa ada diantara para ulama dahulu yang berkata, “Barangsiapa yang awal melangkahnya membara (semangatnya dalam menuntut ilmu), maka akhir dari hidupnya akan berseri-seri.”

Diantara contoh kesabaran dalam belajar, kata Ustadz, adalah apa yang dilakukan Jabir bin Abdillah Rodhiyallohu ‘anhu pernah. Sahabat Rasulullah ini meninggalkan Madinah menuju ke Syam, mengendarai unta selama satu bulan, hanya untuk mendengar satu hadits. Bahkan sebagian Ulama, keluar meninggalkan rumahnya (untuk menuntut ilmu) di usia 20 tahun, dan ia kembali ke rumahnya saat berusia 60 tahun.

Usai mengingatkan pentingnya kesabaran, beliau melanjutkan nasehatnya kepada para santri terkait halangan-halangan, yang akan dihadapi dalam belajar. Beliau mengingatkan agar jangan sampai keterbatasan biaya dan kemudahan fasilitas menurunkan semangat belajar.

“Jangan sampai keterbatasan biaya menghalangi kita untuk menuntut ilmu. perhatikan ucapan salah seorang ulama, yang disampaikan Imam Adz Dzahabi, “Aku sampai kencing darah dalam mendapatkan ilmu hadits ini, suatu kali di baghdad, di waktu yang lain di mekkah. Dan aku terpaksa jalan kaki, tidak pernah aku mengendarai kendaraan.” Karena beliau orang yang kurung mampu. Contoh lain adalah Imam Asy Syafi’i dan Imam Malik, yang menulis dengan ludahnya di atas tangannya dan menjual atap rumahnya untuk kebutuhan mencari ilmu,” jelasnya.

Lebih spesifik tentang ketersediaan fasilitas, Ustadz Syafiq mengatakan kepada para santri agar jangan sibuk dengan urusan perut.

“Syaikh Ibnu Adi rohimahullohu berkata, “Aku berusaha mempersingkat waktu makanku sesingkat mungkin. Aku hancurkan kue kering, lalu aku campur dengan air. Karena waktu yang digunakan untuk mengunyah kue kering bisa digunakan untuk membaca kitab. Bahkan ketika di Universitas Islam Madinah, mengantri makanan bisa sampai satu jam, bisa digunakan untuk muroja’ah hafalan Al Qur’an,” paparnya memberi contoh.

Terakhir dan yang terpenting, peraih nilai sempurna saat belajar di Universitas Islam Madinah ini mengungkap peran ikhlas dalam menuntut ilmu.

Pekerjaan apapun, katanya, jika didasari dengan niat yang ikhlas, cinta dengan pekerjaan tersebut, maka akan terasa ringan bagi kita untuk menyelesaikannya.

Rep: Ian/Red: Ariza

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here