Ketika Pasangan Tidak Sesuai Harapan

0
699
ilustrasi (foto dari situs abiummi)

Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan hidup ideal? Setiap kaum muslimin di seluruh dunia tentunya sangat mengharapkannya. Memiliki pasangan yang baik agama, akhlak, dan bertanggung-jawab.

Pernikahan adalah ikatan suci pembuka sejuta kebaikan. Melalui gerbang pernikahan, dua insan akan terjaga agama, kehormatan, dan keturunannya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu berumah tangga hendaknya menikah, karena sesungguhnya nikah (itu) lebih menundukkan pandangan (dari sesuatu yang haram dipandang, –pen.) dan lebih menjaga kemaluan. Bagi siapa belum mampu hendaknya berpuasa, karena sesungguhnya puasa (itu) sebagai perisai baginya (dari sesuatu yang haram, –pen.).” (HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

Terkait panduan memilih pasangan idaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat kriteria; hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang kuat agamanya, niscaya kamu akan meraih keberuntungan.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna yang benar untuk hadits tersebut adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang kebiasaan yang terjadi di tengah masyarakat (dalam hal memilih pasangan hidup, –pen.). Mereka menjadikan empat kriteria tersebut sebagi acuan dalam memilih. Kriteria agama biasanya kurang diperhitungkan oleh mereka, maka pilihlah wanita yang kuat agamanya—wahai seorang yang meminta bimbingan— niscaya akan meraih keberuntungan (Syarah Shahih Muslim 10/51).

Meski hadits tersebut secara spesifik hanya menyebut panduan memilih istri, namun secara umum juga bisa dijadikan acuan kaum hawa memilih suami.

Ketika agama menjadi pertimbangan pertama dalam memilih pasangan, tentunya kaum muslimin perlu tahu bahwa baik di sini bermakna insan yang paham kewajiban dan haknya. Jika suami, maka ini berkaitan dengan tugasnya sebagai kepala rumah tangga, pemimpin keluarga, yang wajib memberikan nafkah lahir-batin. Begitu pula dengan istri, wanita yang harus taat kepada Allah ta’ala kemudian suaminya. Ikatan pernikahan juga menggariskan aturan saling menyayangi satu sama lain, lembut dalam bertutur kata, dan saling mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Harapan Tidak Sesuai Kenyataan

Meski panduan yang Islam gariskan telah dijalankan, namun masih banyak kasus di masyarakat kasus teman hidup, yang tidak sesuai harapan. Hal semacam ini dialami oleh lelaki atau wanita yang tertipu oleh pencitraan semu. Menyangka bahwa apa yang dilihat pada diri calon suami atau istri, sebelum menikah, sesuai dengan jati diri mereka.

Boleh jadi suami adalah laki-laki yang menjaga ibadahnya, penuntut ilmu sejati, tidak kurang dalam memberi nafkah, pandai bergaul di masyarakat tapi ternyata tidak pandai berakhlak kepada istri dan anak. Pun sebaliknya, ada seorang istri berhijab syar’i, yang selalu hadir di pengajian namun tidak bisa mengamalkan ilmunya di kehidupan rumah tangga.

Sabar dan Nasihat

Kalau sudah terjadi, bagaimana seharusnya suami atau istri mengikapi? Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Selain itu, Allah ta’ala juga berfirman yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Dua ayat di atas memiliki 2 pesan penting untuk umat Islam, sabar dan maaf atas dasar kasih sayang. Sabar yang maknanya sabar menyikapi kesalahannya, sabar dalam memberikan nasehat dan melakoni kesabaran dengan penuh kasih. Selain itu hati yang lapang memaafkan juga merupakan amat diperlukan dalam menyelesaikan pertikaian. Melalui sabar, kasih sayang dan nasihat mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala merubah karakter pasangan, seperti yang termaktub pada ayat berikut ini

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al Baqarah: 45)

Penulis: Arief Abdurrahman Hakim/Ed: Ariza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here