Peristiwa Paris dan Pintu Masuk Memerangi Islam

0
203
Islamophobia di Eropa (alarabiya.net)
Islamophobia di Eropa (alarabiya.net)

Oleh: Dr. Slamet Muliono*

Serangan di Paris pada Jumat (13/11/2015) lalu menjadi alasan bagi pihak yang berseberangan dengan Islam untuk menekan, menteror hingga mengkerdilkan Islam di berbagai belahan dunia. Salah satu di antaranya adalah pemerintah Prancis yang langsung melancarkan serangan kepada ISIS. Berikutnya adalah pemerintahan China yang akan menekan muslim Uighur. Demikian pula Amerika Serikat akan menutup masjid yang dianggap menanamkan kebencian.

Presiden Perancis Francois Hollande, pasca-serangan di kota Paris, langsung menunjuk bahwa pelaku dari penyerangan tersebut adalah kelompok ISIS. Tindakan yang dilakukannya berupa penyerangan lewat Angkatan Udara Perancis dengan mengerahkan sebanyak 12 pesawat, termasuk 10 pesawat tempur, untuk melancarkan gempuran ke Kota Raqqa, Suriah, ibukota ISIS pada Ahad (15/11/2015) malam.

Mereka menjatuhkan sebanyak 20 bom ke Kota Raqqa yang dianggap sebagai kantung kekuatan kelompok ISIS. Kementerian Pertahanan mengklaim bom-bom itu menghantam sejumlah target, termasuk pusat komando, depot amunisi, dan kamp pelatihan milisi ISIS. (Fokusislam. Senin, 16/11/2015)

Tindakan berikutnya, dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Kanzov yang melakukan ancaman penutupan terhadap masjid-masjid. Kanzov, pada channel televisi “French II”, menerangkan bahwa pemerintah akan melakukan pembahasan pada pertemuan mendatang untuk menetapkan keputusan terhadap masjid-masjid, untuk mengusir dengan tegas mereka yang melakukan penghasutan baik itu terang-terangan ataupun hanya menjurus ke dalam hal-hal yang berbau terorisme. Pada saat yang sama, Kanzov memberi semangat kepada warga Perancis untuk tetap meneruskan hidup dengan argumentasi bahwa para teroris ingin menanamkan ketakutan pada bangsa Perancis. (fokusislam. Selasa, 17/11/2015)

Dalam konteks lintas negara, peristiwa Paris menyulut pemerintah China untuk menekan muslim Uighur di daerah Xinjiang. Sebagaimana dituturkan Menteri Dalam Negeri China, Wang Yi bahwa peperangan melawan kaum muslimin di daerah Xinjiang di belahan barat Cina harus menjadi bagian penting dari perang melawan teroris. Hal itu dipertegas dengan pernyataannya bahwa orang-orang Uighur telah pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Wang Yi menegaskan bahwa negaranya, di samping merasa berkepentingan untuk turut serta dalam memerangi terorisme, juga menjadi pemain utama yang PBB yang akan memerangi teroris sepenuhnya. Bahkan China merasa dirinya sebagai  korban teror, maka dengan cara menindas gerakan Islam di Turkistan Timur merupakan bagian penting untuk melawan teroris. Disinilah pintu masuk untuk mencari alasan bagi China untuk melanjutkan pembantaian terhadap umat Islam dari etnis Uighur yang sudah dilakkan sebelumnya tanpa alasan yang jelas. Bahkan China menyalahkan dan menuduh kaum muslimin sebagai pelaku atas semua kekerasan yang terjadi, sehungga mereka menuduh umat Islam dengan sebutan “kaum ekstrimis. (fokusislam. Senin, 16/11/2015).

Terompet memerangi Islam juga disuarakan oleh bakal calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menyebut bahwa negaranya akan mempertimbangkan penutupan masjid-masjid milik kaum muslimin. Dia menunjukkan bahwa Amerika Serikat harus “benar-benar melakukan pertimbangan” untuk menutup sejumlah masjid sebagai bagian dari upaya mencegah serangan garis keras di negara itu. Bahkan apabila dia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat, maka dia akan mempertimbangkan penutupan sejumlah masjid, karena ide kebencian bermula dari masjid-masjid milik kaum muslimin. (fokusislam. 17/11/2015).

Dampak lain juga bisa kita lihat, sebagaimana dilakukan oleh Senegal, Afrika, yang  berencana melarang penggunaan Cadar  atau burka (busana muslimah yang menutup seluruh wajah selain mata). Hal ini sebagai upaya untuk mengatasi aksi terorisme. Jika disahkan menjadi undang-undang maka Senegal menjadi negara kelima di Afrika yang membatasi penggunaan busana Muslim yang menutup seluruh tubuh dengan hanya memperlihatkan mata saja. Sebelumnya, Chad, Gabon, dan Congo-Brazzaville memberlakukan larangan tersebut sementara Kamerun memberlakukannya untuk wilayahnya di sebelah utara. Yang menarik adalah bahwa kelima negara tersebut merupakan negara-negara bekas koloni Prancis. (Fokusislam. 19/11/2015)

Yang perlu digarisbawahi bahwa implikasi dari peristiwa Paris tidak hanya menguatnya sentimen terhadap Islam, tetapi sudah mengarah kepada praktek dan aksi untuk menghentikan dakwah Islam. Bahkan masjid -masjid menjadi sasaran penutupan karena dianggap sebagai tempat penanam kebencian terhadap mereka. Padahal, tindakan seperti itu sangat menggeneralisir persoalan. Pelaku bukan arus besar, tetapi merupakan sekelompok kecil yang menamakan dirinya sebagai kelompok Islam.

Sir Richard Branson, seorang pengusaha internasional berkebangsaan Inggris melalui blog pribadinya, mengatakan bahwa tendensi untuk menghakimi seluruh populasi (Islam) dengan berdasarkan perbuatan segelintir kelompok radikal adalah sebuah masalah besar.

Dia menunjukkan bahwa saat ini banyak orang yang mencoba menyalahkan komunitas muslim global atas serangan yang terjadi di Paris. Tidak sedikit pula yang mencoba menyebarkan ketakutan terkait masuknya gelombang pengungsi asal Syiria ke negara-negara Barat, dengan menyebutnya pintu masuk kelompok ekstrimis. Hal ini merupakan bahan bakar paranoid kolektif yang cenderung mengarah kepada prasangka, yang berat sebelah, ketimbang kebenaran.

Islam adalah agama global, yang dipraktekkan secara damai oleh hampir seperempat penduduk dunia. Dia menunjukkan bahwa tidak menyalahkan seluruh warga negara Amerika atas kejahatan kelompok Ku-Klux di masa lalu. Dia bahkan menunjukkan bahwa yang menjadi motivasi kelompok ekstrim melakukan aksi brutal karena kebijakan-kebijakan pemimpin-pemimpin dunia yang banyak merugikan banyak orang. (Fokusislam. 21/11/ 2015)

Peristiwa Paris benar-benar merupakan pintu masuk untuk memerangi Islam lebih intensif dan terbuka. Sebagaimana yang terjadi pada insiden WTC September 2001, yang diopinikan dan kemudian dipublikasikan sebagai kejahatan yang dilakukan oleh kelompok Islam teroris. Sejak itu Islam dijadikan negara Barat dan sekutunya sebagai musuh bersama (common enemy) dengan alasan memerangi terorisme. Terorisme, dalam hal ini kasus Paris, merupakan barang yang diciptakan dan dijadikan momentum untuk memerangi Islam secara terbuka dan sistematis.

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here