Mata-Mata Zionis Hafidz Qur’an, Sebuah Kisah Dari Palestina

0
1605
mushaf Al-Quran
mushaf Al-Quran

Oleh: Fajri Matahati Muhammadin

Kisah ini saya dengar di awal bulan Juni 2014, saat masih belajar di strata Pascasarjana di University of Edinburgh, Britania Raya. Ketika di sana, saya menyempatkan diri Umrah ke Tanah Suci, bersama rombongan, yang berisi 12 orang warga Negara UK keturunan Pakistan atau Bangladesh.

Di sela-sela umrah, kelompok laki-laki bercengkrama bersama. Dan saat itulah Omar, salah seorang anggota rombongan berdarah Pakistan, menceritakan sebuah kisah, yang ia peroleh dari gurunya.

Menurut Omar, gurunya beberapa kali berkunjung ke Palestina, dan di sana ia memperoleh kesempatan silaturahmi dengan para mujahidin. Dari situ beliau mengetahui kesalihan para pejuang Islam, diantaranya tradisi menghafal Al Qur’an.

Pada suatu kunjungan ke Palestina, sang Ustadz kembali berkumpul dengan kawan-kawan mujahidin. Namun pada kesempatan tersebut beliau menyadari ada salah satu sahabatnya –sebut saja namanya Fulan— yang tidak hadir. Segera beliau bertanya kepada yang lain, kemana gerangan teman yang raib.

“Sudah kami bunuh.” Inilah jawaban mereka, yang membuat Ustadz kaget.

Kepada kelompok pejuang, ustadz bertanya-tanya. Mengapa Fulan, sebagaimana kebanyakan mujahidin, adalah seorang hafidz, yang dikenal kesalehan akhlaqnya dibunuh oleh para mujahidin.

Menjawab pertanyaan ustadz, Mujahidin melanjutkan cerita tentang sebuah kamar tersendiri yang dilabeli ruang belajar, di rumah fulan dan sang pemilik melarang siapapun masuk ke sana. Sampai suatu ketika ada yang berhasil mengintip isi ruangan tersebut menemukan berkas-berkas, yang membuat komunitas mujahidin tercengang

Dari semua dokumen dan peralatan elektronik, yang ditemukan di dalam ruangan tersebut, menurut para mujahidin mengarah pada kesimpulan bahwa Fulan adalah mata-mata Zionis. Sebetulnya hal ini lumrah karena tidak sedikit warga Palestina yang tergoda uang lalu mengkhianati umat Islam. Akan tetapi si fulan ini berbeda, barang bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa ia bukanlah pembelot tapi orang Yahudi asli, yang menyamar menjadi orang Palestina.

Allahu musta’an, sungguh luar biasa upaya musuh-musuh Islam memerangi kaum muslmin. Di saat sebagian besar pengikut Rasulullah di masa kini tidak berusaha menghafal al-Qur’an, meski hanya Juz Amma, ternyata ada Yahudi, yang mau berperih-perih mengingat setiap firman Allah, demi menjadi informan Zionis

Setelah mendengar kisah tersebut saya merenung, banyak mata-mata seperti ini di Palestina, atau bahkan di komunitas umat Islam seluruh dunia. Sungguh hebat usaha mereka menghancurkan umat Islam, bahkan jika di bandingkan dengan usaha mayoritas kaum muslimin itu sendiri dalam membela agamanya.

Selain itu kisah si fulan ini juga membuat saya terheran-heran. Bagaimana bisa ada penghafal al-Qur’an, yang paham maknanya, tapi tidak tergugah sama sekali untuk mengimani Islam. Betapa Allah telah mematikan hati-hati orang seperti ini.

Lagi-lagi saya harus memuji nama Allah, yang dengan hikmahnya menjaga hati umatnya tetap hidup sehingga mampu mengambil manfaat iman dan Islam dari membaca al-Qur’an.

Dialah yang telah meridhoi Islam dan menjaminnya, sejak masa Nabi hingga saat ini. Kepastian yang Allah berikan seiring perjuangan umat Islam dari masa ke masa, yang berwujud fisik atau daya intelektual. Sehingga pada akhirnya Islam akan selalu Allah menangkan.

وَمَڪَرُواْ وَمَڪَرَ ٱللَّهُ‌ۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَـٰكِرِينَ

“Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.” (Surah Al Imran ayat 54)

Terakhir, saya ingin bertanya kepada diri saya pribadi dan pembaca, apakah siap melakukan perjuangan untuk menjadi bagian dari pemenang?

Allahu a’lam.

Penulis adalah dosen dan peneliti di Fakultas Hukum UGM

Ed: Ariza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here