Mengenalkan Mahram Kepada Anak

0
154
Ilustrasi
Ilustrasi

Orang tua memiliki tanggung jawab yang besar untuk membentuk keluarga yang sesuai dengan ajaran Islam. Suami dan istri harus memiliki ilmu dalam berkeluarga dan mampu untuk mengamalkannya. Salah satu ilmu yang perlu dipahami adalah silaturahmi.

Silaturahmi adalah salah satu ajaran Islam yang sangat dianjurkan bagi kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa kali memberikan nasihat apa saja keutamaan bersilaturahmi. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Tidak hanya itu saja, silaturahmi adalah amalan yang sangat mulia. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)

Selain itu Nabi shallallahu ‘alaihia wa sallam juga memberikan peringatan untuk kaum muslimin. Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu‘anhu bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus (tali silaturahmi).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rambu-Rambu dalam Silaturahmi

Berinteraksi dengan keluarga dan kerabat sudah menjadi bagian dari silaturahmi. Tidak bisa dipungkiri juga di dalamnya kita saling berjabat tangan, berbicara, dan lain sebagainya. Hanya saja, banyak dari kaum muslimin yang belum tahu ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah pengetahuan tentang mahram.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahram adalah orang (laki-laki atau perempuan) yang masih sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, atau hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah di antaranya. Selain itu, penjelasan tentang mahram juga tertulis panjang di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 22 sampai dengan 24.

Islam mengajarkan bahwa sesama mahram diperbolehkan untuk saling berinteraksi langsung seperti berjabat tangan. Sebaliknya dengan keluarga atau kerabat yang bukan mahram. Kaum muslimin dilarang untuk berinteraksi langsung seperti berjabat tangan atau hanya sedikit bersentuhan kulit saja. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi peringatan keras. Beliau bersabda, “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani, dishahihkan Al Albani)

Bekali Anak yang Beranjak Remaja

Silaturahmi memiliki keutamaan yang begitu luar biasa dalam Islam. Jangan sampai keutamaan itu terhapus karena ketidaktahuan kaum muslimin. Orang tua perlu memahami siapa mahram di dalam keluarga dan kerabat.

Pemahaman tentang silaturahmi, mahram, dan batasan-batasannya menjadi tugas ayah dan ibu. Anak perlu dibekali pemahaman tersebut agar searah dengan ajaran Islam. Jangan sampai anak-anak yang beranjak remaja dan akil balig tidak tahu menahu tentang hal itu.

Orang tua harus menghadirkan rasa sabar dalam memberikan nasihat pada anak. Ayah dan ibu perlu menyampaikan nasihat tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jika hal tersebut dilakukan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan anak dalam memahami rambu-rambu dalam silaturahmi dan mahram.

Penulis: Arief Rahman Hakim
Redaktur: Budi Marta Saudin

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here