Mengenal Imam Bukhari

0
349
Peta perjalanan Imam Bukhari saat mencari ilmu
Peta perjalanan Imam Bukhari saat mencari ilmu

Kiranya tidak ada seorang muslim didunia ini yang belum pernah mendengar namanya. Baik laki-laki maupun perempuan, besar ataupun kecil, tua ataupun muda, pasti pernah membaca dan mendengar namanya. Namanya harum dan tak lekang oleh waktu, serta selalu ada dalam buku-buku yang bernafaskan keislaman. Sosok ulama yang betul-betul berjuang meninggikan agama ini dengan menjaga hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang apabila seorang muslim berpegang teguh dengan Al-Quran dan Hadits, maka ia tidak akan tersesat selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitabulloh dan Sunnah Rasul-Nya” (Hadits Shahih Lighairihi, HR Malik dan Al-Hakim).

Biografi Singkat

Beliau terlahir dengan nama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al-Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Beliau lahir pada malam Jumat 13 Syawal 194 H (Al Bidayah wan Nihayah 11/30, Al-Maktabah Asy-Syaamilah).

Bukhari kecil dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayah Bukhari dikenal sebagai orang yang wara’ (berhati-hati) terhadap hal-hal yang bersifat syubhat (samar), apalagi terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayah beliau adalah seorang ulama besar dan ahli fikih bermadzhab Maliki dan ia meninggal tatkala Imam Bukhari masih kecil.

Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Alloh menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadits. Ketika berusia 10 tahun, beliau sudah banyak menghafal hadits. Kemudian beliau banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh ilmu dan belajar hadits, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibnu Mubarak dan Waki’, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bukti Kejeniusan Imam Bukhari

Kehebatan daya hafal Imam Bukhari diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti pelajaran dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan pelajaran. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam pelajaran dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Dalam kesempatan yang lain, pernah Imam Bukhari singgah di Baghdad. Para ahli hadits yang tinggal di Baghdad berkumpul untuk menguji kepintaran dan ketahanan daya hafal Imam Bukhari. Mereka mengambil seratus buah hadits, lalu menukar-nukar sanad dan matannya. Tampillah sepuluh orang ulama, masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan tentang hadits yang telah diputarkan sanad dan matannya tersebut.

Orang pertama tampil mengajukan sepuluh hadits kepada Imam Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadits, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadits yang Anda sebutkan ini.” Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang kesepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahwa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama yang mengajukan pertanyaaan tadi saling berkata diantara mereka: “Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya.”

Setelah 10 orang ulama ini selesai mengajukan semua pertanyaannya, Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: “Hadits pertama yang anda kemukakan sanadnya yang benar adalah begini; sedangkan pada hadits kedua sanad yang benar adalah begini, demikian seterusnya….”

Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadits. Kemudian beliau menoleh kepada penanya yang kedua, hingga selesailah beliau menjawab semua pertanyaannya. Kemudian beliau menoleh kepada penanya yang ketiga hingga sampai pada penanya yang kesepuluh. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadits-hadits yang sebenarnya dengan cermat tanpa kesalahan sedikitpun dan beliau menjawab dengan jawaban yang berurutan berdasarkan pertanyaan yang diajukan.

Maka para ulama Baghdad tidak dapat berkata apa-apa, selain menyatakan kekaguman mereka kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai “Imam” dalam bidang hadits (Tarikh Baghdad 2/20, Al-Maktabah Asy-Syaamilah). Oleh sebab itu pantaslah jika beliau digelari dengan sebutan Amirul Mu’minin Fil Hadist (Pemimpinnya kaum mu’minin dalam bidang hadits).

Shohih Bukhari

Banyak kitab-kitab yang telah dituliskan oleh Imam Bukhari. Tapi inilah kitab beliau yang paling terkenal. Beliau menuliskan kitab ini tak kurang dari 16 tahun. Di dalamnya beliau menuliskan lebih dari tujuh ribu hadits yang shohih. Ada kisah menarik yang melatarbelakangi penulisan kitab ini. Suatu ketika Imam Bukhari sedang duduk-duduk bersama Ishak bin Rohawayh, kemudian Ishak bin Rohawayh berkata kepada Imam Bukhari :

لَوْ جَمَعْتُمْ كِتَابًا مُخْتَصَرًا لِصَحِيْحِ سُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

“kalau sekiranya engkau mau untuk menuliskan kitab yang ringkas yang memuat hadits-hadits shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Mendengar hal tersebut Imam Bukhari berkata : “Sungguh perkataan itu telah melekat dihatiku dan mulailah aku mengumpulkan hadits”. (Fathul Baari 1/7, Al-Maktabah Asy-Syaamilah)

Shohih Bukhari adalah kitab rujukan yang pertama dan utama dalam bidang hadits. Hal ini dikarenakan Imam Bukhari begitu ketat dalam menyusun kitab tersebut. Imam Bukhari juga menambahkan persyaratan yang lebih ketat lagi di dalam kitabnya yaitu perowi-perowi haruslah sezaman dan betul-betul mendengar dari perawi yang diriwayatkannya. Dan para ulama telah sepakat bahwa Kitab Shohih Bukhari adalah kitab yang paling shohih setelah Al-Quran. Melalui kitab ini panji-panji sunnah menggema lebih jauh dan semakin berkibar. Imam Adz-Dzahabi berkata :

وَأمّا جَامِعَ البُخَارِي الصَّحِيْحِ ، فَأَجَلُّ كُتُبِ الإسْلَامِ وَأَفْضَلِهَا بَعْدَ كِتَابِ اللهِ تعالى ، فَلَوْ رَحَلَ الشَّخْصُ لِسِمَاعِهِ مِنْ أَلْفِ فَرْسَخٍ لَمَا ضَاعَتْ رِحْلَتُهُ

“Adapun Shohih Bukhari, maka ia adalah kitab islam yang paling agung dan mulia setelah Al-Quran. Kalau sendainya ada orang yang bepergian lebih dari seribu farsakh untuk mendengarkannya, maka sungguh kepergiannya itu tidaklah sia-sia”

Penutup

Demikianlah sejenak perkenalan kita dengan Imam Bukhari. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memberi motivasi kepada kita untuk bisa terus mempelajari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengamalkannya di kehidupan nyata. Wallohu Ta’ala A’lam.

Dinukil dari Majalah Jariyah Ilmu yang diterbitkan oleh Wesal TV, hal 52-54

Red : Aziz Rachman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here