Sejarah Pendidikan Kedokteran Gigi: Islam, Barat dan Indonesia

0
341
fakultas kedokteran gigi
fakultas kedokteran gigi

Oleh : Fadh Ahmad Arifan*

Ilmu kedokteran gigi diyakini sudah ada sejak Fir’aun Ramses II. Dr Ja’far Khadem Yamani menyatakan bahwa pada saat itu sudah ada tabib ahli gigi yang tinggal di istana Fir’aun yang bernama Bahab Azz. Seribu tahun sebelum kelahiran Nabi Musa ‘alaihissalam, orang-orang Akadia dan Mesir sudah mampu membuat alat berupa pinset gigi, pengikir gigi dan tang pencabut gigi.

Di zaman modern sekarang, untuk yang mengambil jurusan kedokteran gigi di mesir, wajib menempuh pendidikan selama 5 tahun plus 1 tahun magang di klinik gigi. Misalnya di Ain Shams University, Alexandria University, Suez canal University dan al-Azhar.

Di negerinya para filosof, Yunani, orang-orang yunni baru mengenal ilmu kedokteran gigi setelah mereka menamatkan belajarnya di Mesir Kuno. Mereka pulang ke Athena sambil membawa buku-buku kedokteran gigi. Sementara pada masa pendirian Baitul Hikmah di Baghdad, menurut Dr Ja’far Khadem sudah banyak kitab/buku tentang kedokteran gigi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Di Baghdad, sudah ada kursi khusus untuk pasien yang akan memeriksakan giginya. Hampir di setiap kota dari Baghdad, Damaskus, Cordoba sampai Iskandariyah terdapat balai pengobatan gigi. Dr Ja’far menyimpulkan bahwa sesungguhnya ilmu kedokteran gigi modern sekarang ini merupakan pengembangan dari kedokteran gigi di Andalusia (Kedokteran islam: Sejarah dan Perkembangannya, Dzikra 2005, hal 95-96).

Di Benua Amerika, ilmu kedokteran gigi tak luput dari sejarah pendirian University of Maryland School of Dentistry. Kampus yang didirikan tahun 1840 ini dinobatkan sebagai kampus yang menyediakan fakultas kedokteran gigi pertama di dunia. Prof Chapin A. Harris adalah dekan pertama di kampus tersebut sekaligus guru besarnya. Kampus ini resmi membuka pendaftaran pada 3 November 1840. Ketika itu hanya ada 5 peserta didik (William J. Geis, Dental Education in the United States and Canada, hal 40).

Bila di Benua Amerika ditandai dengan berdirinya fakultas kedokteran gigi, maka di Eropa khususnya Inggris ditandai dengan berdirinya rumah sakit gigi pada tahun 1858 di kota london. Dua tahun berikutnya, menurut Amolak singh disana baru didirikan The Royal College of Surgeons (Paul Lambden, Dental Law and Ethics, 2002, hal 22).

Bagaimana dengan Indonesia? Sewaktu masih bernama Hindia belanda, di kota Surabaya telah berdiri sekolah kedokteran yang bernama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913. Karena lembaga kedokteran gigi belum ada maka kebutuhan akan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi) didatangkan langsung dari Eropa (Belanda). Namun jumlah dokter gigi dari Eropa yang bisa dan mau bekerja di Hindia Belanda pada waktu itu amat terbatas, itupun sebagian besar hanya untuk melayani orang-orang Eropa yang tinggal di sini. Jika orang-orang pribumi menderita penyakit gigi maka sebagian besar dibawa ke dukun atau tabib dengan pengobatan tradisional, dan sebagian lagi dibiarkan untuk sembuh dengan sendirinya (Potret ketersediaan dan Kebutuhan tenaga Dokter gigi, Dikti 2010, hal 4).

Sampai tahun 1950 Indonesia baru memiliki dua universitas negeri, yaitu Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya tanggal 10 Nopember 1954 secara resmi Universitas Airlangga berdiri. Dengan berdirinya Universitas Airlangga maka Fakultas Kedokteran dan Institut atau Lembaga Kedokteran Gigi yang semula merupakan cabang dari UI kemudian dipisahkan dari induknya dan digabung ke Universitas Airlangga (Potret ketersediaan dan Kebutuhan tenaga Dokter gigi, Dikti 2010, hal 7).

Penutup

Sayangnya, penyebaran institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia sampai saat ini juga masih belum merata. Hal ini juga merupakan salah satu faktor yang menghambat upaya peningkatan pelayanan kesehatan gigi. Saat ini institusi pendidikan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di pulau jawa. Sementara di Papua dan Maluku belum memiliki institusi pendidikan kedokteran gigi (Potret ketersediaan dan Kebutuhan tenaga Dokter gigi, hal 1). Semoga di masa yang akan datang, pelayanan dan institusi pendidikan gigi bisa merata dan tersebar di seluruh Indonesia. Semoga bermanfaat. Wallahu’allam

*Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTS Muhammadiyah 2 kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here