Tafsir Surat Al-Fatihah (Bagian Pertama)

0
291
surat Al-Fatihah
surat Al-Fatihah

Oleh : Aziz Rachman, Lc

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.

Muqaddimah

Surat Al-Fatihah adalah surat yang mulia. Surat ini memiliki banyak keutamaan serta kandungan makna yang luas lagi mendalam. Surat ini termasuk kedalam surat-surat Makkiyyah dan jumlah ayatnya adalah tujuh ayat.

Surat Al-Fatihah memiliki beberapa nama lain seperti Ummul Kitab atau Ummul Quran (induk Al-Quran), As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang), As-Syifa (penawar), Al-Kafiyah (yang mencukupi), Ar-Ruqyah dan beberapa nama lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir 1/15, Tafsir Al-Qurthubi 1/93)

Disyariatkan bagi setiap muslim yang hendak membaca surat Al-Fatihah ataupun surat-surat lainnya, agar mengawalinya dengan membaca Isti’adzah. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Maka apabila kamu membaca AlQuran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.,” (QS An-Nahl : 98)

Hal itu dimaksudkan agar seorang hamba terhindar dari godaan syaitan tatkala ia sedang membaca Al-Quran. Secara umum, isti’adzah merupakan doa agar seorang hamba dijauhkan dari kejelekan syaitan, serta dihindarkan dari mara bahayanya baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.

 Makna ayat secara umum

Surat ini diawali dengan bacaan basmalah. Para ulama sendiri berbeda pendapat dalam hal “apakah basmalah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah?”. Imam Malik bin Anas rahimahullah menyebutkan bahwa bacaan basmalah bukan termasuk bagian dari surat Al-Fatihah. Pendapat kedua dikemukakan oleh Abdullah ibnu Mubarak bahwa bacaan basmalah adalah termasuk ayat dalam setiap surat. Sementara itu Imam Syafi’i dalam salah satu pendapatnya menyebutkan bahwa bacaan basmalah merupakan bagian dari surat Al-Fatihah.

Namun, dari semua perbedaan pendapat tersebut, jumhur ulama bersepakat bahwa bacaan basmalah dibaca oleh seorang muslim yang membaca setiap permulaan surat, kecuali dalam surat Bara-ah/At-Taubah. (Tafsir Al-Qurthubi 1/93).

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi rahimahullah berkata : “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan bahwa segala bentuk puji-pujian, baik sifat-sifat yang mulia atau yang sempurna hanyalah milik Allah semata, bukan milik yang lainnya. Hal itu karena Allah adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta serta Pemilik seluruh alam semesta. Karena itulah wajib bagi makhluk-Nya untuk senantiasa memuji dan memuja-Nya.

Adapun Ar-Rahman dan Ar-Rahim merupakan dua nama dari nama-nama yang dimiliki Allah. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa dua nama tersebut termasuk kedalam puji-pujian yang Allah berhak dipuji dengannya.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Pemilik segala sesuatu yang akan terjadi di hari kiamat. Pada hari kiamat nanti, seseorang tidak akan memiliki kepemilikan terhadap sesuatu bahkan terhadap dirinya sendiri dan tidak ada yang Maha Memiliki kecuali Allah.

Dari ayat-ayat sebelumnya Allah telah mengajarkan kepada kita semua bagaimana caranya bertawassul kepada Allah sehingga doa-doa kita bisa dikabulkan. Allah berkata : “Sampaikanlah puji-pujian kalian kepada Allah, serta muliakanlah Dia. Berpegang teguhlah dengan keyakinan bahwa kalian hanya menyembah-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya. Mintalah pertolongan hanya kepada Allah semata, dan jangan meminta tolong kepada selain-Nya. (Aysarut Tafasir 1/4).

Perbedaan lafadz

Syaikh Muhammad Amin As-Syinqithy rahimahullah dalam kitab tafsirnya Adhwaul Bayan menyebutkan pendapat para ulama terkait perbedaan antara lafadz (الرحمن) dan (الرحيم) . Disebutkan bahwa makna lafadz (الرحمن) adalah Dzat yang memiliki kasih sayang yang luas, baik di dunia maupun di akhirat, baik kepada manusia maupun selain umat manusia, baik kepada kaum mukminin ataupun yang selain mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy,” (QS Thaha : 5)

Maksudnya adalah bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah kepada seluruh makhluk-Nya.

Juga firman Allah Ta’ala :

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّات وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَن

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah),” (QS Al-Mulk : 19).

Dan diantara kemurahannya adalah diberikan untuk binatang-binatang seperti yang disebut dalam ayat ini.

Adapun makna lafadz (الرحيم) adalah Dzat yang mengasihi orang-orang yang beriman. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَكَانَ بالمؤمنين رَحِيماً

Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman,” (QS Al-Ahzab : 43)

Keutamaan Membaca Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah merupakan surat yang mulia. Surat ini memiliki banyak sekali keistimewaan dan keutamaan. Diantaranya :

  1. Surat Al-Fatihah merupakan surat paling mulia dalam Al-Qur’an. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ubay bin Ka’b: “Apakah engkau suka aku ajarkan kepadamu surat yang belum diturunkan di Taurat, Injil, Zabur tidak juga dalam Al-Furqan?” Ubay menjawab, “Ya. Wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagaimana anda membaca dalam shalat?” Beliau menjawab, “Membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya. Tidak diturunkan dalam Taurat, Injil, Zabur tidak juga dalam Al-Furqan (surat) semisalnya.” (HR At-Tirmizi no 2875)
  1. Surat Al-Fatihah termasuk rukun shalat. Shalat seorang hamba tidak sah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah. Diriwayatkan dari Ubadah bin Somit radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب

“Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini (menunjukkan) kewajiban membaca Al-Fatihah dan itu merupakan keharusan. Shalat tidak sah kecuali dengan membacanya. Lain halnya, jika orang tersebut tidak mampu. Ini adalah mazhab Malik, Syafii dan mayoritas para ulama dari kalangan para shahabat, tabiin dan (generasi) setelahnya.”

  1. Surat Al-Fatihah disebut dengan As-Sab’ul Matsani. Artinya surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat yang senantiasa diulang-ulang. Seperti kita ketahui bersama, seluruh kaum muslimin yang ada di dunia hafal dengan surat ini dan senantiasa mengulang-ulangnya. Maha Benar Allah tatkala berfirman :

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْ‌آنَ الْعَظِيمَ

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung” (QS Al-Hijr : 87)

  1. Meskipun pendek, surat ini memuat tiga macam tauhid, tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma’ was sifat.
  1. Surat ini mengandung obat hati dan obat badan. Ibnu Qoyyim rahimahulah berkata : “Adapun terkait obat bagi hati, maka sungguh surat ini memiliki kandungan tersebut. Karena penyakit hati berkisar pada dua sumber yaitu rusaknya ilmu dan rusaknya niat dimana dua hal tersebut berdampak pada dua penyakit mematikan yaitu kesesatan dan kemarahan. Kesesatan adalah dampak dari rusaknya ilmu.

Sementara kemarahan adalah dampak dari rusaknya niat. Keduanya termasuk unsur pokok semua penyakit hati. Adapun bahwa surat ini mengandung obat bagi fisik, terdapat dalam sebuah hadits dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa ada sekelompok shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam melewati sebuah perkampungan arab. Dalam perkampungan itu, sang kepala kampung tengah mengalami sakit akibat disengat oleh seekor binatang dan belum mendapatkan kesembuhan meskipun telah berobat lama. Hingga akhirnya sekelompok sahabat tersebut meruqyah sang kepala kampung dengan membacakan surat Al-Fatihah dan tak lama kemudian sang kepala kampung tersebut sembuh dengan izin Allah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa bacaan surat Al-Fatihah mengandung kesembuhan dari sengatan binatang, maka cukup dengannya sebagai obat, bahkan bisa jadi kesembuhannya melebihi obat-obatan lainnya. (Madarijus salikin, 1/52-55, islamqa/fadhail surat Al-Fatihah).

Penutup

Demikian tafsir ringkas dari surat Al-Fatihah bagian yang pertama. Semoga kita bisa memahami surat yang paling sering kita baca ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu Ta’ala A’lamu Bisshawab. (Bersambung)

Dinukil dari Majalah Wesal TV Vol 1 Bulan Desember 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here