Punya Anak Autis? Jangan Khawatir, Ini Cara Menghadapinya

0
168
Ilustrasi anak autis
Ilustrasi anak autis

JAKARTA (fokusislam) – Membesarkan anak dengan kondisi autisme bukanlah hal yang mudah dijalankan untuk para orang tua. Anak autis yang kadang asik dengan dunianya sendiri dan lamban dalam merespon komunikasi membuat orang tua membutuhkan kesabaran lebih. Belum lagi stigma negatif yang melekat dengan kondisi ini.

Berdasarkan pengalaman orang tua, seperti dilansir CNN, beberapa langkah berikut dapat dilakukan oleh orang tua untuk menghadapi anak yang berkebutuhan khusus.

Menerima kondisi autism

Menerima hal yang tak diinginkan memang tak mudah. Ini juga yang dialami oleh Lusiana Handoko saat mengetahui sang anak ternyata memiliki autisme.

“Sehabis tes berupa daftar pertanyaan tentang perilaku anak, dokter saya bilang anak saya autisme. Saya tanya lalu bagaimana, sang dokter bilang saya harus menerima terlebih dahulu baru akan dijelaskan,” kata Lusiana di acara Autism Awareness Month di Grand Indonesia, Rabu (6/4).

Lebih bersabar

Makna penerimaan ternyata baru terasa setelah sang anak, Gevin, mulai beranjak dewasa. Lusi harus menghadapi berbagai tingkah Gevin yang kadang asik dengan dunianya sendiri. Belum lagi dengan berbagai terapi yang mesti dilakukan, semakin besar anak autis, orang tua mesti lebih bersabar.

“Sebenarnya kendala yang besar itu datang dari diri sendiri. Capek memang, tapi hadapi kenyataan yang ada. Saya juga tersemangati begitu melihat ada teman yang lebih keras usahanya mengurus anak autis dibanding saya,” kata Lusi.

Saling berbagi

Lusi menilai, saling berbagi informasi antar orang tua anak autis sangat membantu dalam menghadapi dan membesarkan anak autistik. Seperti sebuah sistem penyokong, saling berbagi bukan hanya menguatkan namun juga memberikan informasi serta mencegah kesalahan yang pernah dilakukan orang lain.

“Jangan malu untuk membuka diri kepada orang lain. Kesediaan untuk terbuka itu justru dapat mendatangkan berbagai info yang bisa berguna ketika mengurus anak,” kata Lusi.

Pilah-pilih informasi

Berbagai informasi tentang autisme banyak tersebar di dunia maya. Lusi pun pernah menghadapi banyaknya komentar, tanggapan, ataupun mitos tentang berbagai terapi untuk anak autis. Tapi tak semuanya benar, baginya untuk anak keputusan orang tua sangatlah harus dipikirkan dengan masak.

“Semua informasi yang saya dapatkan saya kumpulkan dan saya pilih. Pokoknya saya mau yang logis, kisah suksesnya juga lebih banyak. Lalu saya konsultasikan lagi dengan dokter,” kata Lusi.

“Namun seringkali ketika bertemu dengan dokter, anak dalam kondisi tidak bermasalah. Sehingga akhirnya saya dokumentasikan semua kejadian dengan video. Ketika saya bertemu lagi dengan dokter, saya konsultasikan beserta video itu,” lanjutnya.

“Dokumentasi sangat membantu, apalagi ketika sang anak kemudian sadar kondisinya ketika ‘kumat’. Jadi muncul keinginan untuk tidak mau menjadi seperti itu. Lagipula, bisa jadi bahan pembanding perkembangan,” katanya.

Jangan jadikan olokan

Pakar autisme, Melly Budhiman, mengisahkan pernah ada seorang anak autis yang dengan diterapinya berhasil masuk sekolah reguler seperti Sekolah Menengah Kejuruan. Melly menganggap hal seperti ini adalah kemajuan bagi seorang penderita autis.

Namun ternyata sang anak tersebut menjadi bahan olokkan dan bullying oleh tiga temannya. Sang anak mendapatkan tindakan kekerasan hingga gendang telinganya pecah. Akibatnya, sang anak mengalami trauma dan tak ingin kembali ke bangku sekolah.

“Ini sangat sayang, padahal anaknya pintar dan potensinya bagus,” kata Melly.

“Kalau saya, saya lebih baik anak diingatkan oleh keluarga besarnya dibandingkan orang lain. Sehingga ketika ia mulai mengoceh, saya minta keluarga saya mengingatkan ia, bisa seperti ‘sudah dong, ganti topik lain’ atau yang lainnya. Ini juga melatih dia untuk mengendalikan diri ketika berhadapan orang lain,” kata Lusi.

Tidak lupa istirahat

Menghadapi anak autis diakui Lusi cukup melelahkan. Untuk itu, orang tua harus pintar-pintar juga mengendalikan diri supaya dapat lebih sabar.

“Saya kalau capek ya jalan-jalan bersama teman-teman. Itu saya lakukan ketika saya tidak ingin berurusan dengan autisme dahulu. Ada juga teman saya kalau sudah capek justru ia sikat WC, karena itu metode untuk menenangkan dia,” katanya.

“Penting juga untuk mempunyai teman-teman orang tua yang non-autis, jangan orang tua dengan anak autis semuanya. Jalan sama mereka. Jadi nanti begitu kembali ke rumah sudah segar dan bisa lebih sabar,” kata Lusi.

“Karena kalau tidak seperti itu, lama-lama jadi hilang kesabaran dan gampang stress, dan kondisi seperti itu membuat rumah menjadi tidak enak yang jadinya akan berdampak ke anak lagi.” jelasnya. (ibnu/cnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here