Ummahatul Mukminin, Ibunda Sejati Orang-Orang Yang Beriman

0
265
Ummahatul Mukminin
Ummahatul Mukminin

Oleh : Aziz Rachman

Momentum 21 April banyak diingat oleh masyarakat kita dengan perjuangan Kartini. Tidak sedikit diantara mereka yang kemudian mendandani anak-anak perempuan mereka dengan dandanan yang wah, dengan busana kebaya dan make-up yang tidak sewajarnya.

Sayangnya, ketika masyarakat berbangga-bangga dengan sosok Ibu Kartini, banyak diantara mereka yang lupa dengan sosok istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau Ummahatul Mukminin, Ibunda orang-orang yang beriman. Padahal dalam catatan sejarah, kita bisa melihat begitu besar peranan mereka dalam perkembangan dan tersebarnya ajaran agama Islam.

Istri-Istri Nabi dan Kedudukannya Dalam Islam

Menjadi pendamping hidup bagi seorang utusan Allah merupakan berkah tersendiri bagi seorang wanita. Dan diantara keutamaan yang dimiliki oleh para pendamping hidup Nabi adalah bahwasanya mereka telah ditetapkan sebagai ibunda bagi orang-orang yang beriman. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. Dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka” (QS Al-Ahzab : 6)

Al-Imam Ath-Thabary rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan : “Kehormatan istri-istri Nabi adalah seperti kehormatan ibu-ibu kalian. Mereka tidak boleh dinikahi sepeninggal beliau, seperti halnya kalian juga tidak boleh menikahi ibu-ibu kalian” (Jamiul Bayan : 10/258)

Sementara itu, Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari firman Allah : “Dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” adalah dalam hal menjaga kehormatan dan memuliakan. Meninggikan kedudukan mereka serta menghargainya. (Tafsir Ibnu Katsir :3/566).

Artinya adalah bahwa kita selaku orang yang beriman dituntut untuk beradab kepada istri-istri Nabi selayaknya kita beradab kepada ibunda kita sendiri. Bukankah kita diperintahkan untuk memberikan bakti kita kepada ibunda kita?.

Selain itu, diantara keutamaan para istri Nabi adalah bahwa mereka lebih memilih kehidupan akhirat dan keridhaan dari Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi para istri Nabi sebagaimana tertera dalam salah satu firman-Nya:

وَإِن كُنتُنَّ تُرِ‌دْنَ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ وَالدَّارَ‌ الْآخِرَ‌ةَ فَإِنَّ اللَّـهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرً‌ا عَظِيمًا

“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab : 28)

Oleh karena itu, setiap muslim selayaknya mengetahui perikehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para istri beliau. Terkandung pelajaran yang sangat banyak dari kehidupan rumah tangga beliau yang kalau diterapkan akan membawa dampak yang baik dan kebahagiaan.

ibunda kaum mukminin

Peranan Istri-Istri Nabi dalam Dakwah

Diantara hal yang paling pokok dalam ajaran Islam adalah wajibnya menyampaikan sebuah kebenaran. Hal inilah yang ditanamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang hidup dengan beliau, baik dari kalangan para sahabat maupun istri-istri beliau sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat” (HR Bukhari)

Inilah yang benar-benar dilaksanakan oleh para Sahabat Rasulullah maupun istri-istri beliau. Mereka menyampaikan dakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing, karena mereka tahu bahwa pertolongan Allah dan kenikmatan akan datang bagi siapa saja yang mendengar perkataan Allah dan Rasul-Nya lantas menjaganya dan kemudian menyampaikannya kepada umat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا

“Allah akan mencerahkan seseorang yang mendengar perkataanku, lalu dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya.” (HR. Tirmidzi)

Lihatlah keberadaan syariat Islam. Kalaulah sekiranya generasi yang hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyampaikan dakwah, niscaya risalah yag mulia ini tidaklah akan sampai kepada kita. Dan diantara bentuk dakwah para istri Nabi adalah penjagaan mereka terhadap hadits-hadits dan penyampaiannya kepada generasi berikutnya.

Hampir seluruh istri Nabi memiliki andil dalam penyampaian syariat, terutama dalah hal penjagaan terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha termasuk kedalam golongan para sahabat yang banyak meriwayatkan dari Nabi Muhammad dan menyampaikannya kepada para sahabat dan generasi setelahnya.

Sekedar gambaran, lebih dari 2 ribu hadits merupakan riwayat yang berasal dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Begitu juga dengan para istri Nabi yang lainnya.

Penutup

Dari apa yang sudah disebutkan di atas, pantaslah jikalau para ulama menyebut bahwa kiprah dakwah istri-istri Nabi begitu besar dan pentingnya kedudukan mereka dalam agama Islam. Bahkan, para ulama menyebutkan bahwa ‘Aisyah telah menyampaikan seperempat dari syariat Islam yang mulia ini. Artinya, siapa saja yang mencela ‘Aisyah, berarti ia telah mencela syariat agama ini.

Semoga kita senantiasa bisa mengambil ibrah dan pelajaran dari Ummahatul Mukminin, Para Ibu dari kalangan orang-orang yang beriman. Semoga kita bisa mencontoh, dan mencetak anak-anak perempuan kita, dan mengajarkan mereka kecintaan kepada Ummahatul Mukminin. Wallahu Ta’ala A’lamu Bishhowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here