Madinatul Qur’an: Pesantren Unggulan yang Jauh dari Kebisingan Kota

0
3839
Masjid Pesantren Madinatul Qur'an
Masjid Pesantren Madinatul Qur'an

BOGOR (fokusislam) – Jalanan yang terjal dan berliku, pepohonan rindang berjejer di pinggir jalan berkerikil. Sesekali mobil yang yang lewat  harus mengerem pelan, karena jalan hanya cukup untuk satu kendaraan, memaksa harus mengalah jika ada kendaraan berlawanan yang melintas. Inilah gambaran wilayah Pondok Pesantren Madinatul Qur’an di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Letaknya yang jauh dari kebisingan kota, sekitar dua hingga tiga jam dari Jakarta, membuat pesantren ini dipercaya oleh para orang tua untuk menitipkan anak-anaknya.

Didirikan tahun 2011, Madinatul Qur’an kini menjadi sebuah lembaga pendidikan Islam yang besar. Jenjang pendidikan lembaga ini mulai dari TK hingga setingkat Universitas. Para pelajarnya pun dari berbagai daerah dan pelosok tanah air.

Pintu gerbang Pesantren Madinatul Qur'an
Pintu gerbang Pesantren Madinatul Qur’an

Reza Muhamamd Taufiq, santri SMP kelas 9 menuturkan, dirinya memilihi sekolah ini karena kenyamanan dan jauh dari kebisingan kota. Menurutnya, ini nilai plus sehingga bisa belajar dengan nyaman dan tenang.

Remaja asal Bandung ini bercerita, santri Madinatul Qur’an sangat jarang yang kabur keluar dari pesantren, mengingat lokasi yang jauh dari jalan raya.

“Mau kabur kemana? enak disini tenang. Ada sih yang kabur terutama santri baru, tapi biasanya langsung disusul pulang oleh ustadz karena jarak ke jalan raya sangat jauh,” kata Reza, Sabtu (23/4/2016)

Kenapa Memilih Jonggol?

Pendiri Pesantren Madinatul Qur’an tak risau memikirkan lokasi pesantren yang susah dijangkau dengan angkutan umum. Ketika mulai “babad alas” sekitar awal tahun 2011, mantap dan optimis dengan pesantren ini.

Selain sebagai pusat pendidikan Islam, komplek Pesantren Madinatul Qur’an juga ingin dibuat sebagai desa wisata Islam, saat ini sedang merencanakan pembangunan komplek perumahan Islam.

Ustadz Khairul Anam, mudir tingkat SMP berkisah, pembangunan pesantren di Jonggol karena pihak pewakaf memiliki tanah disini.

“Ada tanah wakafnya disini. Total tanah yang akan dibangun untuk pesantren ada 100 hektar, lebih dari separuh sudah ada akta ikrar wakaf,” ujar Ustadz Anam.

Informasi yang didapat, pewakaf adalah artis senior era 80-an Rudi Wahab. “Pak Rudi banyak tanahnya disini kemudian diwakafkan untuk bangun pesantren,” terang Ustadz Anam.

Letak yang jauh dari jalan propinsi dan wilayah yang susah dijangkau tak menjadi hambatan kurangnya minat santri untuk belajar, buktinya pendaftar di pesantren ini membludak, bahkan untuk tahun ajaran mendatang, ada ratusan santri yang tidak diterima karena kuota terbatas.

Prestasi yang Membanggakan

Kepala Sekolah SMK Madinatul Qur’an, Ustadz Dody Abdurrahman menuturkan, anak didiknya telah memenangkan lomba dalam tingkat nasional. Padahal SMK baru dibuka setahun yang lalu.

“Alhamdulillah beberapa bulan lalu dapat juara 3 lomba aplikasi di Kemendikbud, juga mendapatkan juara di Bandung, Semarang dan Surabaya,” ujar Ustadz Dody.

Saat ini kuota setiap angkatan hanya menampung 2 kelas. “Yang sudah jalan ada 2 kelas dan untuk santri baru mendatang juga 2 kelas,” terang Ustadz Dody.

Santri SMP Madinatul Qur'an sedang bermain bola
Santri SMP Madinatul Qur’an sedang bermain bola

Ada 2 jurusan pada sekolah ini yaitu Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Dody optimis santri bisa menguasai pelajaran-pelajaran teknik dengan cepat.

“Kita yakin lah, anak yang biasa belajar Al-Qur’an dan ilmu agama akan lebih mudah belajar ilmu dunia seperti komputer ini,” papar Ustad Dody.

Seperti diketahui, pesantren Madinatul Qur’an didirikan oleh Ustadz Fauzan Abdullah. Alumni S2 jurusan fiqih dari Universitas Islam Madinah ini bisa membuktikan bahwa tempat pesantren yang susah dijangkau tak menjadi kendala, yang penting mengedepankan mutu dan kualitas. Hingga kini ada beberapa jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMK, SMA, Tadribul Mu’allimin (persiapan guru), dan tingkat perguruan tinggi yang kerja sama dengan LIPIA Jakarta, jumlah total santri saat ini sekitar 400. (ibnu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here