Muhammad Ali, Petinju Muslim Penyeru Kebaikan dan Perdamaian Telah Tiada

0
175

LOS ANGELES (fokusislam) – Ikon tinju dunia, Muhammad Ali meninggal dunia  pada Jumat (3/6/2016). Hal ini disampaikan oleh juru bicara keluarga Bob Gunnell dalam sebuah pernyataan.

“Setelah 32 tahun berjuang melawan penyakin Parkinson, Muhammad Ali meninggal dunia pada usia 74 tahun,” kata kata Gunnell seperti dikutip kantor berita AFP.

Kepada NBC News, Gunnell mengatakan bahwa Ali meninggal di sebuah rumah sakit di Phoenix, Arizona.

“Hati saya sangat sedih namun sekaligus mengapresiasi dan lega pria paling hebat itu kini beristirahat di tempat terbaik,” kata petinju Roy Jones Jr. di akun Twitter-nya, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Aktivis Perdamaian dan Sosial

Muhammad Ali dikenal sebagai seorang aktivis yang rajin menyerukan kebaikan dan perdamaian. Hal itu dilakukannya ketika menentang keras Perang Vietnam dan menolak untuk bergabung dengan militer AS di sana, meskipun hal itu membuatnya divonis lima tahun penjara, membayar denda USD10 ribu, dan dilarang bertinju selama tiga tahun. Beruntung, hukuman lima tahun penjara tak perlu dilakoni karena Muhammad Ali menang ditingkat banding.

“Saya tidak memiliki masalah dengan Vietcong,” tegas Muhammad Ali kala itu.

Konsistensi Muhammad Ali sebagai duta perdamaian juga tampak dari pernyataannya baru-baru ini mengenai isu ekstremisme dan diskriminasi terhadap warga Muslim.

“Saya seorang Muslim dan tidak ada yang Islami tentang pembunuhan orang-orang tak bersalah di Paris, San Bernardino, atau dimanapun di seluruh dunia. Muslim sejati tahu bahwa kekerasan dan kekejaman dari mereka yang disebut dengan Jihadis Islamis berlawanan dengan prinsip-prinsip dari agama kami,” kata Ali sebagaimana dilansir IB Times, Sabtu (4/6/2016).

Syahadat Di Atas Ring

Muhammad Ali terlahir dengan nama Cassius Marcellus Clay, Jr. pada 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Namanya mengikuti nama ayahnya, Cassius Marcellus Clay, Sr.

Sebelum masuk Islam, ia menjuluki dirinya dengan “The Greatest” (Yang Terbesar) karena dia adalah petinju terbaik pada masanya. Oleh Sports Illustrated, Muhammad Ali mendapatkan anugerah “Sportsman of the Century”, senada dengan para pengamat olah raga yang juga mengakuinya sebagai petinju terbaik di abad ini. Sejarah tinju belum pernah mengenal petinju secepat Ali. Dia berlaga dengan gesit di atas ring dan memukul KO lawannya, lalu berseru dengan bangga, “Akulah yang terbesar”.

Akan tetapi setelah masuk Islam, ia membuang julukan ini, karena tidak suka membanggakan diri dan menjadi seorang yang sederhana dengan jiwa yang Islami.

Sejak kecil, Ali sudah merasakan perbedaan perlakuan karena warna kulitnya yang cokelat. Barangkali, hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk belajar tinju agar bisa membalas perlakuan jahat teman-temannya yang berkulit putih. Ketika belum genap berusia 20 tahun, ia sudah memenangkan pertandingan kelas berat di Olimpiade Roma tahun 1960.

Pada usia 22 tahun, ia merasa dilahirkan kembali ke dunia. Sebab, saat itulah, ia berganti nama dari Cassius Marcellus Clay Junior menjadi Muhammad Ali. Nama ini merupakan pemberian seorang tokoh Muslim dari Nation of Islam (NOI), Elijah Muhammad, tahun 1964.

Selain Elijah Muhammad, Ali juga banyak mendapatkan pelajaran dari Malcolm X, salah satu dai Ahlussunnah di NOI. Bahkan, sebelum mengucapkan syahadat, Malclom X secara khusus mendatangi Muhammad Ali dan banyak memberikannya wejangan.

Ali sendiri mengucapkan syahadatnya di hadapan kamera, dengan disaksikan oleh jutaan pasang mata. Setelah memukul KO Sonny Liston di ronde 7, Ali kemudian mengikrarkan syahadat.

”Aku meyakini bahwa aku sedang berada di depan sebuah kebenaran yang tak mungkin berasal dari manusia,” ujarnya.

Ali mengungkapkan, kepindahannya ke agama Islam adalah hal yang wajar dan selaras dengan fitrah yang Allah ciptakan untuk manusia. Ia meyakini bahwa Islam membawa kebahagiaan untuk semua orang. Menurutnya, Islam tidak membeda-bedakan warna kulit, etnis, dan ras.

”Semuanya sama di hadapan Allah. Yang paling utama di sisi Tuhan mereka adalah yang paling bertakwa,” ujarnya.

Keyakinannya terhadap Islam makin bertambah manakala Ali membaca terjemahan Alquran. ”Aku bertambah yakin bahwa Islam adalah agama yang hak, yang tidak mungkin dibuat oleh manusia. Aku mencoba bergabung dengan komunitas Muslim dan aku mendapati mereka dengan perangai yang baik, toleransi, dan saling membimbing. Hal ini tidak aku dapatkan selama bergaul dengan orang-orang Nasrani yang hanya melihat warna kulitku dan bukan kepribadianku,” paparnya.

Berjuang Melawan Parkinson

Pada 1984 Ali didiagnosis mengidap Parkinson yang juga terkait dengan kariernya. Hal itu membuat gerakan tubuhnya melambat, gemetar, dan tidak bisa berbicara dengan suara keras-keras. Namun, pihak-pihak yang dekat dengannya menyebut Ali tidak pernah kehilangan rasa humor atau semangatnya dalam berkeyakinan.

Kini, setelah 32 tahun berjuang dengan penyakitnya, Muhammad Ali telah kembali kepada-Nya. Selamat jalan Ali, semoga Allah memberikan rahmat dan ampunan-Nya. (azman/dbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here