Dakwah Tauhid Pondasi Kemuliaan Politik Negara Islam

0
119
Raja Salman
Raja Salman

Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Sinergitas Dakwah dan Politik

Sinergitas antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud telah membentuk negara Arab Saudi yang kokoh di atas pondasi tauhid. Muhammad bin Abdul Wahhab berkonsentrasi pada dakwah tauhid dan Muhammad bin Saud berfokus pada perjuangan politik. Namun keduanya bekerjasama dan saling menopang sehingga terwujud sebuah negara dengan memperjuangkan panji-panji tauhid. terlebih lagi, Mekkah dan Madinah merupakan wilayah yang sangat strategis dalam dua hal.

Pertama, strategis dalam konteks tempat. Artinya, Mekkah dan Madinah merupakan tempat bertemunya seluruh bangsa, dengan berbagai budaya dan karakternya, saat melakukan haji. Kedua, strategis dalam sosialisasi dakwah. Artinya, Mekkah dan Madinah sangat efektif dipergunakan untuk mengkomunikasikkan dan mensosialisasikan dakwah tauhid kepada mereka yang datang berhaji maupun umroh.

Keberhasilan duet Muhammad itu benar-benar teruji hingga saat ini. Muhammad bin Abdul Wahhab benar-benar berdakwah dengan menekankan pemberantasan unsur-unsur syirik dan pengkeramatan terhadap benda apapun. Apa yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab itu dilindungi oleh  Muhammad bin Saud sebagai pmegang kendali politik. Sementara Muhammad bin Saud berkonsentrasi memperjuangkan tegakkan kehidupan politik dalam kehidupan bernegara. Apa yang diupayakan Muhammad bin Saud didorong oleh spirit dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab. Perjuangan dua sayap, dakwah dan politik, berjalan simultan hingga saat ini, sehingga berhasil menopang kokohnya negara Saudi Arabia.

Perkawinan dakwah dan politik ini juga memunculkan sorotan dan kritik tajam. Satu pihak memandang bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab diperalat untuk mengokohkan kepentingan politik Muhammad Bin Saud. Atau sebaliknya bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab justru memperalat Muhammad bin Saud untuk meraih kepentingan duniawi. Namun kritik itu terbantahkan dengan dua hal.

Pertama, Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan sosok ulama yang benar-benar berjuang untuk menegakkan dakwah tauhid. Dia tetap hidup sederhana hingga akhir hayatnya tanpa mengambil manfaat untuk kepentingan pribadi. Kedua, Muhammad bin Saud konsisten dalam menegakkan negara dengan pondasi tauhid tanpa terpengaruh oleh ideologi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dakwah tauhid. Upaya untuk mendeskreditkan perkawinan dakwah dan politik itu tidak pernah berhenti.

 Ketika Dakwah dan Politik Asimeteris

Pembagian fokus perjuangan duet Muhammad (Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud) penting untuk dijadikan sebuah model praktek bernegara modern, sekaligus menjawab berbagai keraguan bahwa agama dan politik tidak bisa berjalan seiring. Apa yang ditunjukkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang begitu gigih menegakkan dakwah tauhid, benar-benar besar pengaruhnya dalam penegakan nilai-nilai agama di masyarakat. Tegaknya dakwah tauhid ini ditopang oleh kekuatan politik, sehingga pihak-pihak yang memusuhi dakwah tauhid akan berhadapan dengan negara. Perjuangan dakwah tauhid inilah yang menjadi kata kunci suksesnya duet Muhammad ini.

Hal ini berbeda dengan kondisi dakwah dan politik di Indonesia. Agama dan politik berjalan sendiri-sendiri dan cenderung saling memusuhi. Dakwah tauhid bukan hanya menjadi rintangan di negeri mayoritas muslim ini, tetapi menjadi musuh bersama (common enemy). Yang ironis, yang memusuhi dakwah tauhid adalah internal umat Islam sendiri. Di dalam tubuh umat Islam sendiri banyak firqah (golongan), dan masing-masing golongan memiliki praktek beragama yang berbeda-beda. Di sisi yang lain, praktek politik di Indonesia dikuasai oleh kelompok nasionalis. Kelompok nasionalis memandang bahwa agama lebih banyak dianggap sebagai pembenar perilaku politik, bukan sebagai rujukan praktek politik mereka.

Ketika agama dipergunakan sebagai pembenar perilaku politik mereka, maka agama hanya dipergunakan saat dibutuhkan dan akan dicampakkan ketika merugikan kepentingannya. Dengan kata lain, agama digunakan sebagai kendaraan politik dan akan terus dimanfaatkan sebagai stempel atau pembenaran terhadap perilaku politik. Di sisi yang lain, agama yang menekankan kepada “dakwah tauhid” justru menjadi ejekan, cemoohan, dan kambing hitam. Bahkan dakwah tauhid menjadi sebagai musuh dan membahayakan negara, seperti tuduhan sebagai akar gerakan terorisme dan radikalisme.

Ketika persatuan Islam menjadi acuhan utama, tanpa memprioritaskan dakwah tauhid, maka yang sering terjadi adalah “perselingkuhan” antara kelompok agama dan politik yang berujung memarginalkan aspirasi politik umat Islam. Bahkan umat Islam banyak menjadi korban dan terus menerus menjadi bulan-bulanan kelompok nasionalis. Perlindungan terhadap pelaku homoseksual, bolehnya pernikahan beda agama, bebasnya peredaran minuman keras merupakan contoh kongkret bagaimana kegagalan perjuangan kelompok Islam dalam bernegara. Bahkan yang lebih menyakitkan sebagian besar umat Islam adalah kerjasama di antara mereka, sehingga menyepakati kebolehan kelompok non muslim menjadi pemimpin negeri mayoritas muslim ini.

Tidak sinergisnya antara pejuang dakwah dan pemimpin politik di negeri ini menjadi bencana besar bagi umat Islam. Terlebih lagi, kosongnya dakwah tauhid dalam praktek bernegara dan bernegara menjadi bencana politik dan bencana sosial bagi umat Islam. Yang lebih parah dan tragis adalah dakwah tauhid menjadi musuh bersama yang harus dimusnahkan di negeri ini karena dianggap membahayakan kehidupan bernegara. Padahal rusak dan hancurnya negeri ini adalah karena adanya upaya sistematis terhadap dakwah tauhid.

Tidak akan berdiri tegak sebuah negara secara hakiki ketika pejuang dakwah dan pemimpin politik membiarkan kebergantungan kepada selain Allah dan memusnahkan dakwah tauhid. Inilah pelajaran penting dari sinergi Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud dalam menegakkan dakwah tauhid di negara Saudi Arabia.

Surabaya, 11 Juni 2016
*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP) Surabaya

LEAVE A REPLY