Drama Saenih, Adu Domba dan Tipu Daya Media Sekuler

0
459
artis Ruben Onsu saat makan siang di warteg Ibu Saenih
artis Ruben Onsu saat makan siang di warteg Ibu Saenih

Tipu daya murahan media sekuler melalui drama warung Saeni masih bergulir sampai saat ini.  Banyak pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa yang penuh dengan rekayasa komunikasi.  Aktor intelektual pembuat skenario ini telah berhasil membuat kericuhan di media sosial.

Tak hanya berhenti di situ, aktor intelektual yang difasilitasi oleh media sekuler berhasil mebuat drama warung Saeni berujung adu domba yang sangat memprihatinkan, sehingga terjadi perseteruan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.  Jelas ini perbuatan yang sangat nista, karena sempat memunculkan beradu pernyataan yang saling bertentangan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat mengenai Perda bernuansa Syariah yang dijadikan tujuan dari kericuhan Drama Warung Saeni.  Akhirnya, pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri menyatakan secara resmi, tidak ada penghapusan Perda Syariah.  Kita harapkan pemerintah tetap dalam pendiriannya tersebut.

Demikian juga Saeni yang akhirnya menuturkan permintaan maaf kepada umat Islam atas apa yang dilakukannya.  Pengakuan ini jelas diungkapkan di sebuah layar kaca swasta, bahwa menurutnya berjualan makanan pada bulan puasa tidak boleh pada siang hari.  Hal ini sesuai dengan Perda yang dikeluarkan oleh Pemkot Serang.

Namun, begitulah media sekuler ini berhasil memprovokasi perseteruan horizontal, baik antara muslim dengan non muslim, juga antara sesama muslim.  Keduanya berada pada dua sisi yang berlawanan antara yang pro dan yang kontra.  Memang, konflik horizontal yang terjadi hanya di dunia media sosial saat ini.  Namun, target buruk mereka adalah menajamkan perpecahan pendapat terhadap ajaran-ajaran Islam.

Bersyukur, kejadian di bulan Ramadhan, saat umat Islam menjalankan ibadah shaum.  Ibadah yang bertujuan untuk menahan dan mengendalikan diri dari segala hawa nafsu.  Bersyukur pula terjadi pada bulan penuh Rahmat, sehingga begitu mudahnya tipudaya para oknum yang tidak menyukai Islam terungkap.  Wajah-wajah dan identitas para pelaku tipudaya bermunculan di media sosial.

Namun demikian, sudah sepatutnya umat Islam mengambil pelajaran yang sangat berharga dari drama Saeni ini.  Bahwa saat ini fitnah yang melanda umat Islam semakin beragam.  Apalagi kelompok yang tidak suka dengan ajaran Islam terus melakukan berbagai upaya untuk menyudutkan ajaran-ajaran Islam yang ingin diamalkan oleh umat Islam.

Umat Islam sudah sepatutnya selalu bersatu dalam menghadapi fitnah-fitnah besar yang bertujuan memecahbelah umat.  Tetap istiqomah menjalankan ajaran-ajaran Islam, karena hal ini adalah Hak Asasi Manusia.  Mereka yang menyudutkan bisa dikatagorikan sebagai pelanggar Hak Asasi Manusia.   Umat Islam juga harus siap menghadapi rongrongan dan tipudaya yang bertujuan untuk mengadu domba umat.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”  (Ali Imron: 54). (eri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here