Ketika Khalid bin Walid Dipecat : Pelajaran dari Dua Sahabat Mulia

0
1845
ilustrasi
ilustrasi

Siapakah yang tidak mengenal Khalid bin Walid. Sosok pejuang Islam, dan salah satu panglima terbesar dalam sejarah manusia. Khalid adalah penunggang kuda tangguh, pemanah ulung, ahli pedang, serta peracik strategi dalam peperangan.

Kenyataan bahwa Khalid tidak pernah kalah dalam setiap peperangan yang diikutinya, cukuplah membuat kita yakin dan mengakui kehebatannya. Namun, Khalid tetaplah manusia biasa, yang roda kehidupan mau tidak mau berputar dalam perjalanan hidupnya.

Dari Panglima Perang Menjadi Prajurit Biasa

Pada tahun 13 H, kaum muslimin tengah berperang di Yarmuk, dengan Khalid bin Walid menjadi panglimanya. Ketika itu, Khalifah Abu Bakar meninggal dunia di Madinah. Abu Bakar, mewasiatkan agar Umar menjadi penggantinya.

Di saat perang sedang berkecamuk, dan Khalid yang tengah mengatur pasukan dan strategi perang, tiba-tiba ada utusan dari Khalifah Umar yang mendatangi pasukan kaum muslimin. Utusan itu mendatangi Abu Ubaidah Al-Jarrah dan menyampaikan perintah dari Khalifah Umar tentang pemecatan Khalid bin Walid dari jabatan panglima perang.

Kabar itu tidak langsung disampaikan oleh Abu Ubaidah hingga Perang Yarmuk berakhir, dan kemenangan di pihak kaum Muslim. Begitu perang usai, keputusan itu pun disampaikan oleh Abu ‘Ubaidah kepada Khalid.

“Mengapa Anda tidak menyampaikan keputusan itu, begitu sampai kepada Anda?” tanya Khalid kepada Abu ‘Ubaidah. “Saya tidak ingin mengganggu kosentrasi Anda dalam memimpin serangan. Lagi pula, kita bersaudara (sesama Muslim). Apa salahnya, jika saudara dipimpin oleh saudaranya sendiri.”

Dengan adanya surat tersebut, Khalid resmi diberhentikan dari panglima perang dan statusnya berubah menjadi prajurit biasa. Adapun Abu Ubaidah kemudian diangkat oleh Umar untuk menjadi Panglima Perang.

Setelahnya Khalid berperang di bawah komando Abu Ubaidah selama enam tahun lamanya.

Umar Yang Bertakwa dan Khalid Yang Begitu Ikhlas

Terkait pemecatan Khalid bin Walid, para ahli sejarah menyebutkan tiga pendapat tentang hal itu. Akan tetapi, terlepas dari perbedaan pendapat para ahli sejarah tentang pemecatan Khalid, ada pelajaran besar yang bisa dipetik dari dua sahabat yang mulia, Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid.

Tatkala mengeluarkan surat pemecatan untuk Khalid, Umar berkata : “Sesungguhnya aku memecat Khalid bin Walid bukan karena aku benci kepadanya atau dia berkhianat. Akan tetapi orang-orang terlalu menghormatinya. Aku khawatir mereka akan menggantungkan kemenangan dalam medan pertempuran terhadap dirinya. Aku juga berharap mereka mengetahui bahwa Allah lah yang memberikan kemenangan. Aku juga berharap supaya mereka tidak tergoda dengan kehidupan dunia”.

Dari sini, terlihat besarnya ketakwaan yang dimiliki oleh Umar bin Khattab. Apa yang diucapkan Umar juga merupakan bentuk penjagaannya kepada kaum muslimin agar mereka hanya bergantung kepada Allah saja. Agar mereka btul-betul men-tauhid-kan Allah.

Selain itu, bukti bahwa tidak ada kebencian adalah ketika Umar berkata kepada Khalid : “Wahai Khalid, sesungguhnya engkau di sisiku sangatlah mulia dan engkau adalah kekasihku.”

Sementara itu Khalid yang menerima surat pemecatannya, ia berkata : “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Umar sebagai Khalifah. Sungguh aku sangat mencintai Abu Bakar dibandingkan Umar. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Umar sebagai Khalifah, aku sangat mencintai Umar”.

Diantara perkataan Khalid lainnya yang begitu terkenal tatkala ia dipecat : “Aku berjihad bukan karena Umar, tapi aku berjihad karena Allah”.

Pelajaran ketakwaan dari Umar bin Khattab, dan keikhlasan luar biasa dari Khalid bin Walid. Semoga Allah meridhai keduanya dan para sahabat lainnya. (azman)

Diterjemahkan secara ringkas dari ahlelhadeeth, islamstory dan islamweb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here