Ini 10 Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan

0
907

Sudah 20 hari bulan Ramadhan berlalu. Artinya, tinggal tersisa 9 atau 10 hari terakhir dari bulan suci ini, yang para ulama menyebutkannya sebagai Al-‘Asyrul Awakhir.

Dalam fase ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin getol beribadah kepada Allah. Dalam sebuah hadits, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya” (HR. Bukhari).

Salah satu yang beliau kerjakan di sepuluh hari terakhir adalah dengan berdiam diri di masjid dan mendekatkan diri kepada Allah. Berdiam diri di masjid dan melakukan peribadahan demi mendekatkan diri kepada Allah sering diistilahkan dengan I’tikaf.

Lantas apa sajakah keutamaan I’tikaf?. Berikut diantaranya :

  1. Wujud istiqamah

Seseorang yang bei’tikaf di masjid adalah orag yang mendapatkan taufik dari Allah untuk beristiqamah. Setelah 20 hari berlalu dari bulan Ramadhan, ia tidak mengendur dalam beribadah. Justru di sepuluh hari terakhir semakin giat beribadah

  1. Dimudahkan untuk berbuat kebaikan

Tingga di masjid dan bergabung bersama banyak orang yang berbuat baik, akan memudahkan seseorang untuk berbuat baik pula. Bagaimanapun, seseorang akan termotivasi intuk berbuat kebaikan jika berada di ligkungan yang penuh dengan orang-orang yang baik.

  1. Ungkapan rasa syukur

Mendekatkan diri kepada Allah merupakan sebentuk ungkapan rasa syukur. Terlebih jika peribadahan tersebut dilakukan secara kontinue dan langgeng di akhir dari bulan Ramadhan.

  1. Mengikuti sunnah Nabi

I’tikaf adalah salah satu dari sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits disebutkan :

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau,” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i, dan Ahmad)

  1. Mudah untuk shalat berjamaah

Berada di dalam masjid akan membuat seseorang begitu mudah melakukan shalat berjamaah. Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan shalat berjamaah sementara ia berada di dalam masjid?

  1. Mendekatkan diri kepada Allah

Orang yang beri’tikaf akan banyak melakukan peribadahan seperti shalat, membaca Al-Quran, berdzikir dan juga berdoa. Itu senua dilakukan demi ber-taqarrub dan mendekatkan diri kepada Allh.

  1. Malam Lailatul Qadar

Di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, Allah telah menyiapkan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Rasululluah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk mendapatkan malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir, terutama di malam-malam ganjil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Carilah malam lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari dan Muslim)

  1. Mendapat pahala karena menunggu waktu shalat

Selain mendapatkan pahala shalat berjamaah, orang yang beri’tikaf di masjid juga mendapatkan pahala lainnya tatkala ia menunggu waktu shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

“Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendo’akannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia,’” (HR Ahmad)

  1. Membiasakan hidup sederhana, zuhud, dan berlaku tak tamak terhadap dunia

Orang yang sedang beri’tikaf sebagian besar waktunya dipergunakan untuk beribadah. Hidup di masjid merupakan upaya untuk membuat hati menjadi lembut, serta tidak memiliki rasa tamak terhadap dunia.

  1. I’tikaf membiasakan jiwa untuk senang berberlama-lama di masjid, dan menggantungkan hati pada masjid. Dan orang yang menggantungkan hatinya di masjid akan mendapatkan naungan dari Allah. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Allah akan memberikan naungan dan perlindungan kepada tujuh golongan, diantaranya :

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ

“Orang yang menggantungkan hatinya dengan masjid” (HR Bukhari)

Demikian sepuluh keutamaan dari I’tikaf. Semoga kita dimudahkan untuk melakukannya. (azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here