Penolakan Dakwah Ustadz Firanda di Samarinda dan Pelajaran dari Kisah Perjanjian Hudaibiyah

0
1699
Ustadz Firanda saat mengisi ceramah di Masjid Nabawi
Ustadz Firanda saat mengisi ceramah di Masjid Nabawi

Oleh : Aziz Rachman*

Rencana kedatangan ustadz Firanda Andirja, Lc MA ke Samarinda mendapat penolakan dari sejumlah massa. Mereka, yang menyuarakan penolakan, bahkan sampai harus turun ke jalanan, berpeluh serta berpanas-panasan agar keinginan mereka terpenuhi.

Demonstrasi pun mereka lakukan, meskipun dengan mengatas-namakan aksi damai. Beragam alasan mereka kemukakan demi berusaha menolak dakwah akan yang disampaikan oleh Ustadz Firanda.

Salah satunya adalah mereka tidak ingin ketenangan dan ketentraman mereka terusik dengan kehadiran ustadz Firanda yang notabene merupakan pengisi tetap di Masjid Nabawi ini, demikian seperti dikutip dari radarkaltim, Jumat (29/7/2016).

Berkat “kegigihan mereka”, Ustadz Firanda yang sedianya mengisi dan menyampaikan dakwah di Samarinda, akhirnya batal datang. Namun, pengajian di Samarinda tetap berjalan dengan pemateri pengganti yang tidak kalah tenar, Ustadz Abu Qatadah.

‘Kedzaliman’ Dalam Perjanjian Hudaibiyah

Tahun Ke 6 Hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya berencana untuk melakukan ibadah ke Baitul Haram. Rasulullah yang datang bersama seribu empat ratus orang sahabatnya dihalang-halangi oleh kaum Quraisy.

Buntutmya,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menandatangani perjanjian dengan kaum Quraisy, yang di kemudian hari dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah.

Setelah kesepakatan itu ditekan, sahabat Umar bin Khattab merasa gelisah. Pasalnya, poin-poin dalam perjanjian Hudaibiyah sebagian besar terkesan menyudutkan dan mengerdilkan posisi umat Islam.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury dalam Ar-Rahiqul Makhtum menyebutkan beberapa poin dari perjanjian Hudaibiyah, diantaranya :

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus pulang dan tidak boleh memasuki kota Mekkah kecuali di tahun berikutnya bersama dengan kaum muslimin. Mereka akan mendapat kesempatan tiga hari di Mekkah dan hanya diperkenankan membawa senjata yang biasa dibawa musafir (bukan senjata perang). Kaum Quraisy tidak akan menghalang-halangi mereka dengan cara apapun.
  2. Gencatan senjata yang terjadi antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun, sehingga semua merasa aman dan tidak boleh saling memerangi.
  3. Siapa yang ingin bergabung dengan kelompok Muhammad, maka ia boleh melakukannya dan akan menjadi bagiannya. Siapa yang ingin bergabung dengan Quraisy, maka ia boleh melakukannya dan akan menjadi bagiannya.
  4. Siapa saja yang datang ke Madinah dari penduduk Makkah harus dikembalikan ke Makkah, dan siapa yang datang ke Makkah dari penduduk Madinah (muslim) tidak boleh dikembalikan ke Madinah

Umar bahkan mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbicara halus kepada beliau.

“Bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?” tanya Umar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Benar wahai Umar”.

Umar menimpali : “Kalau begitu, kenapa kita memberikan kerendahan pada agama kita ?”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan aku tidak akan mendurhakai-Nya dan Dialah penolongku”.

Umar masih tetap gelisah. Umar pun mendatangi Abu Bakar dan menyampaikan keberatannya. Abu Bakar memberikan penjelasan yang tidak berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat pintu-pintu kemenangan di depan mata beliau. Dengan disepakatinya perjanjian Hudaibyah, kaum Quraisy telah memberikan pengakuan kepada kota Madinah. Ketika suku paling terpandang di kabilah Arab, yaitu Quraisy telah memberikan pengakuan, maka suku-suku yang lain pun tinggal menunggu waktu saja untuk ikut mengakui kota Madinah.

Dari situlah dakwah kemudian berkembang pesat, tanpa ada gangguan berarti dari kaum kafir Quraisy. Itulah kemenangan yang besar sebagaimana ayat yang turun tak lama setelah perjanjian Hudaibiyah, dimana Allah berfirman :

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS Al-Fath : 1)

Allah memberikan kemenangan kepada Rasulullah dan kepada dakwah tauhid melalui perjanjian Hudaibiyah, meskipun pada awalnya terkesan mendzalimi kaum muslimin.

Kebaikan Akan Dibukakan Mekipun Melalui Para Pendengki

Apa yang terjadi pada dakwah tauhid di Samarinda, tak ubahnya seperti awal dari kebangkitan dakwah tauhid itu sendiri. Tak lama setelah penolakan dan aksi demo, MUI Kaltim ikut berkomentar.

“Saya dari MUI menyayangkan sekali, itu cerminan masyarakat yang tidak cerdas,” ucap KH Zaini Naim, perwakilan dari MUI.

radar kaltimAksi demo, menurut KH Zaini, merupakan suatu hal yang berlebih-lebihan.

“Kok sangat menggebu-gebu sekali? Kalau ada perbuatan maksiat tidak demo, ini ustaz yang mau berceramah dan menyampaikan ilmu malah dilarang. Ini akan menjadi preseden tidak baik bagi umat Islam,” tambahnya lagi.

Sementara itu, Panitia Pengajian ustadz Firanda memberikan pernyataan yang sangat menenteramkan. Berikut sebagian dari pernyataan panitia pengajian sebagaimana yang tersebar di grup-grup Whatssap.

” Terima kasih kepada Saudara-saudara kami dari Kalangan ASWAJA dan Habaib atas usaha mereka berletih-letih, panas-panasan dalam demonstrasi yang menghantarkan kami dan Dakwah Mubarakah ini dapat masuk ke Pemerintahan Kalimantan Timur secara resmi tanpa kami harus berdemonstrasi dan berletih-letih, Walhamdulillah.

– Kami bisa menyalurkan dan menyampaikan materi dan visi dakwah ini secara singkat.

– Kami bisa ber”silaturahmi” dengan Para Pejabat Pemerintahan, yang mungkin tanpa sebab dari mereka (yang berdemonstrasi) kami jadi saling mengenal dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

– Kami bisa menyampaikan informasi berkenaan jadwal-jadwal kajian Dakwah Salafiyah di Samarinda

– Kami juga bisa sampaikan media-media dakwah (TV dan Radio-radio) yang terkenal dalam sekala Nasional yang mendukung Dakwah ini.

– Dukungan dan Support untuk Dakwah Kita dari Pihak Keamanan dari Polresta, Sat Intel, Dandim, Satpol PP dll.

– Dan Juga yang tidak kalah penting dan Utama, do’a dan dukungan dari orang tua kami, guru kami Ketua MUI Samarinda Al Ustadz KH. Muhammad Zaini Na’im. (Beliau juga sangat mendukung kedatangan Ust Firanda Andirja)

– dan juga hikmah-hikmah yang lain, yang tidak dapat kami paparkan semua disini.” (selesai kutipan)

Karena itu, benarlah ucapan Abu Tammam Habib bin Aus, seorang penyair kenamaan di abad 3 Hijriyah. Abu Tammam mengatakan :

وإِذا أَرادَ الله نَشْرَ فَضيلةٍ                     طُويَتْ أَتاحَ لها لسانَ حَسُودِ

Dan jika Allah menghendaki untuk menyebarkan sebuah keutamaan,

Allah akan membukakannya melalui lisan dari para pendengki.

Semoga dakwah sunnah ini semakin tersebar, meskipun banyak yang berusaha untuk menghalanginya. Boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu, padahal itu adalah baik di sisi Allah. Boleh jadi kita tidak menyukai penolakan dakwah di Samarinda, padahal ada lebih banyak hikmah di balik itu semua.

*Penulis adalah guru di salah satu Madrasah Aliyah Kota Cirebon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here