Pemimpin Dalam Perspektif Islam

0
126

Oleh : Aziz Rachman*

Seorang pemimpin merupakan bagian tak terpisahkan dalam konsep keislaman. Dalam kehidupan berjamaah, pemimpin adalah kepala dari seluruh anggota tubuhnya. Peranan yang dimilikinya begitu strategis dalam pengaturan dan pembinaan ummat. Kecakapannya dalam memimpin akan mengarahkan kepada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan ummat dengan iringan ridha Allah.

Dalam lingkup individu, masing-masing dari manusia merupakan seorang pemimpin. Dalam hal ini masing-masing manusia juga akan dimintai pertanggung-jawabannya atas apa yang diamanatkan kepadanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وكُلُّكُم مَسؤولٌ عن رعيَّتِهِ

“Masing-masing diantara kalian adalah pemimpin, dan masing-masing dari kalian akan dimintai pertanggung-jawabannya atas apa yang ia pimpin” (HR Bukhari dan Muslim)

Pengertian Pemimpin

Dalam bahasa Arab, pemimpin biasa dikenal dengan sebutan Ulil Amri. Para ulama memberikan definisi yang bermacam-macam terkait istilah Ulil Amri, namun secara umum istilah ini memiliki dua makna yaitu Ulama dan Umaro. Ulama merupakan orang yang diberikan anugerah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan keluasan ilmu dan wawasan fiqih.

Sementara Umaro, sering diartikan sebagai sulthon, atau orang yang diamanahi untuk mengurus hajat hidup orang banyak. Dalam hal ini, Umaro merupakan pemerintah yang sah, yang membawahi kaum muslimin dan mengurusi kepentingan dan kemashlahatan mereka. (lihat :  Jamiul Bayan Fii Tafsiiri Ayil Quran 8/899, Maktabah Syamilah)

Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja untuk rakyatnya. Seorang pemimpin yang baik, tentu harus memiliki sifat-sifat yang baik pula. Allah sungguh telah mengajarkan kepada umat-Nya sifat-sifat yang sedianya dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam kisah Nabi Musa, Alloh dengan gamblang menyebut bahwa seorang pemimpin yang baik setidaknya harus memiliki beberapa sifat ini.

Allah berfirman :

إِنَّ خَيْرَ‌ مَنِ اسْتَأْجَرْ‌تَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“Sesungguhnya orang paling baik yang kamu tunjuk untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS Al-Qoshosh : 26)

Al-Qowiyyu berarti kuat dan mampu bekerja secara baik dan professional. Sementara Al-Amin berarti mampu menjaga amanah dan bisa dipercaya. Kekuatan dan amanah ini harus betul-betul ada dan bukan sebatas polesan demi meraih simpati rakyat. Keduanya merupakan sifat dasar seorang pemimpin kaum muslimin.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan makna Al-Qowiyyu Al-Amin dalam ayat ini. Beliau mengatakan : “Sifat ‘kuat’ untuk setiap pemimpin, tergantung dari medannya. Kuat dalam memimpin perang kembali kepada keberanian jiwa dan kelihaian dalam berperang dan mengatur strategi. Karena inti perang adalah strategi. Demikian pula kembali kepada kemampuan dalam menggunakan senjata perang.Kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat berarti kembali kepada tingkat keilmuannya memahami keadaan yang diajarkan Al-Quran dan As-Sunnah, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum itu.

Sementara sifat amanah, itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjual belikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. Tiga hal inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi penentu hukum bagi masyarakat.” (As-Siyasah As-Syar’iyah hal 25, Ibnu Taimiyah/ Maktabah Syamilah)

Sayangnya, di zaman yang penuh dengan fitnah seperti sekarang,  dua hal ini terkadang tidak secara bersamaan dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena itu, harus diprioritaskan, sifat mana yang lebih layak untuk dimiliki, apakah sifat Al-Qowiyy (kuat dan professional) atau Al-Amin (bisa dipercaya).

Pemimpin Yang Adil

Seseorang yang telah terpilih untuk menjadi pemimpin maka hendaklah ia berusaha menjadi pemimpin yang bisa menjaga amanat serta berbuat adil. Mampu melihat kebutuhan rakyatnya secara baik dan proporsional, lantas berbuat demi kebaikan rakyatnya.

Bukan malah berbuat untuk kebaikan pribadi, keluarga maupun golongannya lantaran sudah diberikan dukungan dan perjanjian tertentu. Bukan pula menjadi pemimpin yang justru dipimpin atau bahkan disetir oleh pihak lain.

Keberadaan pemimpin yang adil akan membawa dampak positif bagi rakyat yang menjadi tanggungannya. Rakyat yang jumlahnya tidak sedikit, mesti diarahkan dengan arahan yang tepat, berimbang dan jelas.

Selain berdampak positif terhadap rakyat yang dipimpin, sifat adil juga menjadi kebaikan bagi pemiliknya. Salah satunya adalah Allah akan memberikan serta mengabulkan permintaan yang diajukan oleh para pemimpin yang adil sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Tiga golongan yang tidak ditolak do’anya: orang yang berpuasa hingga dia berbuka, seorang pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terdzalimi. Alloh mengangkatnya di atas awan dan membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Alloh berfirman: “Demi kemuliaan-Ku, aku pasti akan menolongmu kapan saja.” (HR At-Tirmidzi)

Dalam riwayat yang lain, Allah memuliakan para pemimpin yang adil ini, dengan naungan di hari kiamat nanti, dimana tidak ada naungan selain naungan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: Pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah Ta’alaa, seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: “sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. (HR.Bukhori dan Muslim).

Semoga kita mendapat keberkahan dari Allah dengan para pemimpin yang kuat, amanah lagi adil. Tidak lupa agar kita menyertakan kebaikan pemimpin dalam setiap doa yang kita panjatkan. Semoga bermanfaat.

*Penulis adalah pengajar di salah satu Madrasah Aliyah di Kota Cirebon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here