Wahai Suami : Biarkan Senyumnya Tetap Merekah

0
207
Ilustrasi senyum
Ilustrasi senyum

Seorang suami yang baik adalah suami yang mau berkorban demi kebaikan sang istri. Istri yang baik pun demikian, mau menepikan egonya demi bisa membahagiakan sang suami. Ada hubungan timbal balik antara keduanya yang menjadikan kehidupan rumah tangga dapat mengalun dengan indahnya.

Diantara kewajiban suami adalah mencari nafkah untuk keluarganya. Diantara kewajiban istri adalah bagaimana menghilangkan atau minimalnya mengurangi rasa lelah yang menggelayut sang suami setelah seharian bekerja keras. Sungguh sebuah kerjasama yang baik kan?

Terkadang, seorang suami pulang ke rumah dengan rasa lelah tak tertahankan. Sambutan hangat istri, senyum renyahnya, wajah tedauh dan sapaan manisnya bisa menjadi obat mujarab bagi keletihan yang mendera sang suami. Sungguh pelayanan terbaik yang tidak bisa didapatkan dari hotel berbintang lima manapun.

Istri juga manusia

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Seorang istri adalah manusia jua. Sebarapa hebatnya istri kita, ia hanyalah manusia biasa.

Bisa jadi suatu ketika, senyum yang renyah menyapa yang tersungging di wajah istri  berganti dengan bibir yang datar, atau bahkan cemberut di wajah. Sapa hangat yang biasanya hadir, berganti dengan jawaban singkat atas setiap tanya. Wajah yang biasanya antusias mendengar cerita, kini lebih banyak tertunduk lesu.

Dengan senyum yang tertahan ia mengatakan :

“Paa, Mama Lagi Ngambek Lho !”

Aduhai, dialah istri kita. Wanita yang selama ini melayani kita dengan hati yang tulus, sedang gundah hatinya. Dia ingin tetap berbakti, meski menyimpan resah dalam hati. Dia ingin melayani sang suami, tapi terganjal sesuatu dalam hatinya.

Maka sebagai suami, pahamilah sang istri dalam kondisi seperti ini. Lihatlah apa yang dicontohkan manusia terbaik, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berkata kepada istri tercintanya, Aisyah radhiyallahu anha :

“Wahai ‘Aisyah, Sungguh aku tahu kapan engkau rela dan kapan engkau marah kepadaku”

Aisyah bertanya “Darimana engkau tahu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Bila engkau sedang ridha, maka engkau akan mengatakan `Tidak demi Rabb Muhammad, dan bila engkau marah, engkau mengatakan `Tidak, demi Rabb Ibrahim”

Aisyah pun berkata :“Benar, Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak menghindar kecuali menyebut namamu saja” (Bukhari dan Muslim)

Jika saat itu tugas kantor tengah menumpuk di depan meja, segera tinggalkan. Hadapkan wajah ke istri, berikan perhatian kepadanya. Lalu katakan :

“Duhai istriku, aku bukan manusia dengan sederet kehebatan. Bahkan aku adalah seorang suami yang banyak kekurangan. Jikalau ada perilakuku yang membuat hatimu resah, berkenankah engkau memaafkannya? Dan sebagai pelajaran bagiku, beritahukan kepadaku, letak kesalahanku”

Sempatkan menggenggam tangan istri, sekedar meyakinkannya bahwa tangan kita cukup kokoh untuk menerima semua curahan hatinya. Dalam banyak hal, mengakui diri paling bersalah adalah cara terbaik menuntaskan resah.

Boleh jadi selang beberapa menit kemudian, senyum hangat itu kembali merekah. Dengan malu-malu, ia akan berkata :

“Maaf pa, mama udah ngambek ke papa”.

Oleh        : Muhammad Nur Faqih
Redaktur : Aziz Rachman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here