Sudah Bahagiakah Hidup Anda ? ( Bag 2 )

0
194
ilustrasi bahagia
ilustrasi bahagia

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. (Baca : Sudah Bahagiakah Hidup Anda Bag 1)

Banyak anggapan yang salah dan persepsi tidak tepat akan standar kebahagiaan. Berikut diantaranya:

Gelar pendidikan tertinggi berbanding lurus dengan kebahagiaan.

Banyak orang beranggapan ketika seseorang berhasil meraih gelar pendidikan yang tertinggi, kebahagiaan pun akan datang dengan sendirinya. Benarkah demikian?. Apakah kebahagiaan itu benar-benar ada dan dirasakan oleh yang bersangkutan?. Ataukah kebahagiaan tersebut hanya ada dalam pandangan orang yang melihatnya?

Ada baiknya kita menyimak kisah salah seorang wanita yang berhasil meraih gelar doktor dalam bidang kedokteran. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa untuk masuk kuliah kedokteran tidak mudah, selain harus memiliki IQ yang di atas rata-rata tentunya dompet juga harus tebal.

Kisah ini dikutip dari majalah Al-Yamamah, dan pelakunya sendiri yang menuliskan kisahnya. Karena mengejar cita-citanya yang ingin meraih gelar pendidikan setinggi-tingginya, dia lupa akan kodratnya sebagai seorang wanita. Yaitu menjadi seorang istri yang siap berbakti kepada suami, dan juga sebagai ibu yang siap mendidik anak-anaknya.

Akan tetapi itu hanya mimpi belaka, karena dia terus menunda pernikahannya. Sampai apa yang dia inginkan tercapai yaitu berhasil menamatkan S3 dalam bidang kedokteran. Setelah selesai pun semakin tidak ada waktu lagi untuk memikirkan pernikahan, dikarenakan jadwal yang semakin padat. Seiring berjalannya waktu yang semula dia merasa senang dengan kesibukannya sebagai seorang dokter, kesenangan itu pun memudar dan menggerus rasa kewanitaannya dan berganti menjadi kegelisahan, kesepian, dan kegundahan.

Betapa tidak, setiap hari dia menyaksikan pasien ibu-ibu bersama anak-anaknya. Seragam putih ala dokternya pun serasa seperti baju besi, alat pemeriksa pasien pun serasa seperti tali yang akan menjerat lehernya. Kehidupannya hampa, gersang, dan redup. Dia pun mulai tersadar kalau kebahagiaan itu bukan diukur dengan gelar pendidikan yang tertinggi.

Dia pun berteriak dengan penuh kekecewaan : “Ambillah gelarku ini. Ambillah seragam-seragam putihku ini. Ambillah buku-bukuku ini. Kembalikan kebahagiaanku yang hilang. Aku hanya ingin mendengar ada yang memanggilku “ IBU”.

Dan masih banyak lagi kisah serupa yang bisa kita dapati di sekitar kehidupan kita.

Bahagia karena memperoleh jabatan yang tinggi.

Banyak orang yang berlomba-lomba berebut jabatan tertinggi, dari tingkat ketuaRT sampai PRESIDEN. Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh kedudukan tersebut, dari yang halal sampai yang haram pun dilibas. Namun benarkah dengan jabatan yang tinggi kebahagiaan akan ada di depan mata. Jawabannya pun masih tetap sama seperti jawaban-jawaban sebelumnya, yaitu “Tidak”.

Kita ambil contoh dua pemimpin yang Alloh abadikan kisahnya dalam Al-Qur’an yaitu Fir’aun dan Haman. Dimana kehidupan mereka berakhir dengan kesengsaraan karena selama hidupnya bertindak semena-mena serta menyalah-gunakan kepemimpinannya.

Lantas, bagaimanakah kiat agar kita benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang hakiki?

Simak dalam tulisan selanjutnya insya Allah.

Oleh        : Insan Amrun
Redaktur : Aziz Rachman

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here