Genocida Rohingya dan Kekompakan Kaum Kafir Memerangi Islam

0
138
warga Rohingya di salah satu kamp pengungsian
warga Rohingya di salah satu kamp pengungsian

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Muslim Ronghingya sedang mengalami proses pembersihan etnis (genocida), secara terang-terangan, namun kaum kafir menunjukkan sikap diam dan seolah-olah tidak tahu. Betapa tidak, pemerintah Myanmar bekerjasama dengan tokoh agama Budha melakukan pembunuhan secara massal dan terencana, sementara kaum kafir, dalam hal ini Barat seolah-olah tidak peduli dan membiarkan rakyat Rohingya mengalami pembunuhan massal.

Bahkan ketika ada sebuah negara yang memiliki kepedulian terhadap nasib kaum muslimin di Myanmar ini justru tidak mengalami pembelaan, tetapi justru pelaku genocida berani menyalahkan dan negara-negara kafir mendiamkannya.

Politik Genocida secara Terencana

Genocida terhadap muslim Ronghingya secara terencana bisa dilihat dari beberapa strategi dan langkah yang dilakukan oleh pemerintahan Myanmar.

Pertama, menuduh adanya kelompok militan. Pemerintahan Myanmar menyatakan bahwa serangan terhadap muslim Rohingya karena adanya serangan dari kelompok militan yang ada di kalangan kaum muslimin Rohingya. Dengan alasan itu, maka militer Myanmar melakukan serangan dan pembunuhan secara sadis terhadap muslim Rohingya. Merujuk pada laporan Badan Pengungsi PBB (UNHCR), lebih dari 10.000 orang Rohingya telah meninggalkan Myanmar selama beberapa pekan terakhir. Mereka melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine, tempat militer melancarkan operasi terhadap para pemberontak. Operasi militer ini dilaporkan sangat berdampak buruk bagi penduduk sipil.

Kedua, tidak mengakui Rohingya sebagai bagian Myanmar. Setelah melakukan pembunuhan secara massif, pemerintah Myanmar mulai mengelabui dan menutup sejarah Rohingya dengan mengatakan bahwa Rohingya adalah pendatang gelap dari Bangladesh. Padahal kaum muslimin Rohingya telah hidup berabad-abad dengan melahirkan generasi secara turun-temurun. Dengan kata lain, Myanmar ingin menghapus sejarah muslim Rohingya di bumi Myanmar, dan menganggapnya tidak pernah ada di negara itu.

Ketiga, penolakan negara tetangga. Setelah berbagai ancaman dan teror pembunuhan, muslim Rohingya mencoba melarikan diri untuk menghindari politik genocida, namun bukan sambutan hangat dan adanya suaka politik atau perlindungan yang dialami. Mereka justru diusir untuk dikembalikan ke negaranya. Sebagaimana dilaporkan oleh BBC bahwa sedikitnya, 13 perahu yang membawa sejumlah pengungsi Rohingya dipaksa mundur oleh penjaga perbatasan di Bangladesh. Mereka dikembalikan lagi ke wilayah Myanmar setelah dicegat di sungai yang memisahkan antara Myanmar dan Bangladesh. Pemerintah Bangladesh sendiri semakin memperketat pengamanan di perbatasan untuk mencegah membanjirnya etnik Rohingya. (BBC,12/12/2016).

Persatuan Barat dalam Memerangi Islam

Apa yang dialami oleh muslim Rohingya dan diamnya Barat terhadap tiga fakta di atas menunjukkan pola pikir orang-orang Barat terhadap Islam dan kaum muslimin. Apa yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar yang disokong oleh para Bhiksu Budha jelas-jelas tindakan teror terhadap kaum muslimin. Namun tidak ada kecaman atau tindakan Barat untuk mengatakan telah terjadi tindakan terorisme di Myanmar.

Barat selalu responsif terhadap serangan yang dilakukan umat Islam, dan langsung menuduh, atau minimal mengaitkannya dengan gerakan radikalisme dan terorisme. Hal ini bisa kita lihat ketika terjadi serangan yang dilakukan oleh kaum muslimin, maka Barat langsung dengan sigap dan cepat dengan menyatakan telah terjadi tindakan terorisme. Namun ketika tindakan biadab dan tak berperikemanusiaan itu menimpa kaum muslimin, maka kata-kata terorisme tidak meluncur dalam mulut orang-orang Barat. Dengan kata lain, Barat seolah-olah buta dan hilang nalar kritisnya dan bahkan terkesan dungu ketika tindakan teror menimpa kaum muslimin. Hal ini bisa kita lihat dalam kasus di Rohingya. Tidak ada rasa simpati dan empati terhadap kaum muslimin Rohingya, atau berupa pernyataan Barat yang mengecam pemerintah junta militer dan pemimpin Budha yang sedang menerapkan politik genocida.

Bahkan ketika pemerintah Malaysia menunjukkan kepeduliannya, terhadap muslim Rohingya, dengan mengkritik tindakan biadab pemerintah Myanmar, maka pemerintah Myanmar langsung mengkritik balik Malaysia agar tidak mengurusi urusan dalam negerinya. Pemerintah Myanmar bahkan  menegaskan bahwa Kuala Lumpur seharusnya menegakkan prinsip non-intervensi sebagai sesama negara anggota ASEAN.

Ganjil dan super aneh, dimana politik genocida yang dilakukan terhadap kaum muslimin, dalam pandangan pemerintah Myanmar, dipandang sebagai urusan internal dalam negerinya, dan pihak lain tidak boleh ikut campur. Padahal apa yang dilakukan oleh Myanmar bukan semata merusak hubungan dan menyakiti muslim Rohingya, tetapi mengkhianati kesepakatan negara-negara Asia Tenggara. Sebagaimana menjadi kesepakatan negara-negara Asia Tenggara bahwa setiap negara anggotanya harus saling menciptakan perdamaian dan menjaga keharmonisan di antara anggotanya.

Apa yang menimpa pada muslim Rohingya menunjukkan bersatunya orang-orang kafir dalam memerangi Islam. Myanmar yang beragama Budha, Amerika yang beragama Nasrani, Rusia-China yang Marxis-ateis, Israel yang beragama Yahudi, semuanya sepakat bahwa Islam sebagai musuh bersama (common enemy). Mereka bersatu padu untuk menghancurkan Islam dengan strategi dan langkah yang berbeda. Mereka memiliki solidaritas yang sama dengan tidak mengganggu satu sama lain ketika mengeluarkan kebijakan atau bertindak yang ingin menghancurkan Islam. Apa yang terjadi di Myanmar merupakan contoh kasat mata adanya solidaritas kaum kafir untuk menghancurkan Islam. Tidak adanya kecaman atau kutukan terhadap pemerintah Myanmar, membuat politik genocida terhadap muslim Rohingya berlangsung mulus.

Surabaya, 14 Desember 2016

*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here