Iran, Kampium Radikalisme dan Terorisme

0
277

Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Iran bukan saja layak disebut sebagai penjahat perang di abad 21 ini tetapi layak disebut sebagai kampium (baca : dedengkot) gerakan radikalisme dan terorisme di berbagai penjuru dunia, khususnya di dunia Arab. Kalau selama ini Arab Saudi dengan faham Wahabinya selalu dituduh sebagai akar radikalisme dan terorisme, namun kejadian di Aleppo, Suriah ini membalikkan keadaan, dan menguatkan opini dunia bahwa Iranlah sebenarnya yang layak disebut sebagai kampium radikalisme dan terorisme.

Iran dan Terorisme di Dunia Arab

Pernyataan bahwa Iran sebagai kampium radikalisme dan terorisme bukanlah omong kosong. Pasca penyerangan dan  penghancuran terhadap warga Aleppo, Iran justru memproklamasikan akan melakukan hal yang sama dengan mengintervensi negara Bahrain dan Yaman.

Pernyataan ini dikatakan oleh Wakil Komandan Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami, yang mengancam akan melakukan intervensi di Bahrain dan Yaman setelah melakukan hal yang sama di Aleppo, Suriah. Sebagaimana diberitakan oleh kantor berita ISNA. ”Kemenangan di Aleppo akan membuka jalan untuk membebaskan Bahrain. Selanjutnya, Yaman dan Mosul (Irak) sebagai target intervensi Iran selanjutnya. Bahkan Juru bicara Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Ramadan Sharif juga mengisyaratkan rencana Teheran untuk melakukan intervensi militer di dunia Arab. (Sindonews.18/12/ 2016)

Dalam konteks ini, sangat wajar bila Arab Saudi menyebut rezim Bashar Assad sebagai penjahat perang sekaligus sebagai bencana kemanusiaan terburuk. Hal ini karena Bashar Assad telah melakukan pembantaian terhadap warga Aleppo, warganya sendiri. Penghancuran dan pembunuhan terhadap warganya sendiri belum pernah dilakukan oleh pemimpin manapun kecuali dilakukan oleh Bashar Assad.

Kebiadaban Bashar Assad ini tidak berjalan dengan mulus, tanpa ditopang oleh keberadaan Iran. Dukungan penuh Iran terhadap rezim Syiah di Suriah ini, tidak bisa dipungkiri, sangat mencolok, sehingga ribuan kaum muslimin mengalami pembaantaian secara sadis. Oleh karena itu, kalau Bashar Assad disebut sebagai penjahat perang maka Iran layak disebut sebagai negara yang menebarkan perang terselubung di beberapa negara, termasuk Suriah. Apa yang terjadi di Aleppo merupakan skenario Iran sebagai upaya untuk memperluas pengaruhnya di dunia Arab.

Bukti bahwa Iran sebagai ancaman dan sumber konflik di Timur Tengah, sebagaimana dikatakan oleh beberapa pemimpin negara. Di antaranya, Perdana Menteri Inggris Theresa May yang menyatakan bahwa Iran merupakan penyulut berbagai konflik di Timur Tengah sehingga kekacauan yang terjadi di dunia Arab tidak bisa dilepaskan dari peran dan kontribusi Iran.

Hal yang sama juga dikatakan presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama yang secara tidak langsung menunjuk peran Iran di balik konflik di Aleppo. Obama secara terbuka menunjuk rezim  Bashar Assad, Rusia dan Iran sebagai pelaku kekejaman di Suriah. Artinya, aksi kebrutalan dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah tidak lepas dari ideologi Syiah yang menginduk kepada negara Iran.

Pernyataan yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Forbes Kerry yang mengungkapkan bahwa Iran berperan cukup signifikan dalam konflik di Suriah. Dia secara langsung menuduh rezim Presiden Suriah Bashar Assad sebagai pelaku dalam pembantaian warga sipil di Aleppo. Menurut John Kerry bahwa rezim Suriah berani melakukan kejahatan ini dikarenakan sokongan yang kuat dari Iran, sehingga seorang pemimpin berani melakukan kebrutalan biadab terhadap warganya sendiri di negaranya.

Syiah dan Pembantaian Kaum Muslimin

Pernyataan tiga orang penting di atas menguatkan adanya peran Iran demikian dominan dalam konflik di timur Tengah khususnya di Aleppo. Iran sebagai negara yang selalu ingin membuat kekacauan di kawasan Timur Tengah tidak lepas dari ideologi Syiah yang selalu mengobarkan permusuhan dan perlawanan terhadap Ahlus Sunnah di manapun berada.

Kekacauan yang terjadi di Suriah dan berujung pembantaian terhadap warga sipil merupakan implikasi dari ideologi Syiah yang menggerakkan Bashar Assad untuk bertindak tanpa memperhatikan aspek kemanusiaan. Mayoritas warga Suriah adalah penganut Ahlus Sunnah, dan hal ini menjadi sasaran empuk bagi rezim Bashar Assad yang berpaham Syiah.  Dalam sejarah Islam, agama Syiah selalu menjadi duri dalam daging, bagi kaum muslimin berfaham Ahlus Sunnah, dan selalu menghalalkan darah kaum muslimin.

Apa yang terjadi di Yaman, Bahrain, atau Iraq merupakan contoh kongkret bagaimana peran agama Syiah yang selalu membuat ulah dan menggoyang pemerintahan yang sah yang berujung untuk membantai kaum muslimin yang berfaham Ahlus Sunnah. Pemberontak Houtsi yang begitu gigih untuk menggulingkan pemerintah Yaman, yang berfaham Ahlus Sunnah, tidak lain karena sokongan Iran yang demikian kuat.

Demikian pula perlawanan dan upaya penggulingan terhadap pemerintahan Bahrain, tidak lepas dari jumlah warga yang menganut agama Syiah yang cukup signifikan. Peran Iran untuk menopang perlawanan agama Syiah di Bahrain cukup besar di tengah gigihnya penguasa Bahrain dalam mengeluarkan agama Syiah dari negaranya. Bahkan yang terjadi di Iraq, pasca jatuhnya presiden Saddam Husein, merupakan buah dari gerakan Syiah yang berhasil menggulingkan presiden berfaham Ahlus Sunnah ini.

Berbagai konflik dan kekacauan yang terjadi di dunia Arab, tidak lepas dari peran Iran yang ingin menanamkan ideologi Syiahnya di wilayah Ahlus Sunnah. Dukungan total Iran terhadap rezim yang berpaham Syiah, guna membunuh warga yang berfaham Ahlus Sunnah, sangat jelas terlihat ketika membiarkan rezim Bashar Assad dalam membantai warganya yang berpaham Ahlus Sunnah. Iran juga menopang para pemberontak yang berfaham Syiah guna menggulingkan pemerintah yang berfaham Ahlus Sunnah, sebagaimana yang terjadi di Yaman, Bahrain, dan Iraq.

Surabaya, 19 Desember 2016

*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here