Kisah Juru Parkir Dirikan Sekolah Gratis ; “Tak Perlu Menunggu Kaya Untuk Bisa Berbagi”

0
204

BANDUNG (fokusislam) – Namanya Undang Suryaman. Sehari-hari pria yang biasa dipanggil Jack ini nongkrong di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengais rejeki. Recehan dari para mahasiswa Fikom Unpad ia kantongi sebagai balas jasa karena telah menjaga kendaraan mereka.

Ya, Jack bekerja sebagai tukang parkir. Namun, statusnya sebagai tukang parkir tidak membuatnya kehilangan kepedulian terhadap pendidikan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Bersama istrinya, Jack yang sudah 24 tahun bekerja sebagai juru parkir ini kemudian mendirikan sekolah gratis. Biaya operasional sekolahnya itu diambil dari hasil pekerjaannya memarkir.

Mengadakan pendidikan yang baik bagi anak-anak merupakan cita-cita tinggi nan mulia. Keinginan ini, tertanam dalam diri Bang Jack lantaran masa lalunya yang tak bisa mengenyam pendidikan dengan baik.

“Saya inisiatif mendirikan sekolah gratis karena teringat latar belakang pribadi yang dahulu ingin sekolah namun terbentur masalah dana,” kata Undang, di Kampus Fikom Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang, yang dikutip dari kantor berita Antara, Sabtu (19/9/2015).

TK dan TPA gratis yang didirikan Jack berada di Desa Babakan Loa, Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung, Jawa Barat. TK dan TPA yang didirikan itu bernama Araudhatul Jannah. Saat ini telah menampung 130 peserta didik yang sebagian besar merupakan anak-anak sekitar Desa Babakan Loa.

“Ketika baru didirikan empat tahun lalu, muridnya hanya 18 orang dan kelasnya memakai area masjid, muridnya masih anak dari satu RT, tapi sekarang sudah meluas,” katanya.

Belajar Shalat dan Baca Iqra

Jack mengaku mulai mendirikan sekolah dengan modal nekat. Ia sadar, hanya niat kuat yang ia miliki. Ia tak punya pendidikan yang bagus, tak punya uang yang banyak, dan tak punya kenalan hebat yang dapat membantunya mendirikan sekolah. Namun, niat itu segera ditunaikan. Menurut Jack, tak perlu jadi orang kaya dulu jika ingin berbagi.

Terkait dengan ilmu yang diajarkan pada para siswa, kata Jack, lebih berorientasi pada pendidikan agama disamping juga mengajarkan pengetahuan umum lainnya.

“Yang paling utama itu belajar shalat dan baca Iqra, setelah itu baru masuk ke pelajaran, kurikulum pelajarannya sudah sesuai,” kata dia.

Beruntung, keluarga Jack banyak memberi dukungan, disamping juga kenalan-kenalan lainnya. Dikutip dari BBC, Senin (26/12/2016), istri Jack, yang ikut mengajar, kini bahkan sedang melanjutkan kuliah untuk gelar sarjana pendidikan.

“Saat ini tenaga pengajar selain dari pihak keluarga juga dari teman-teman relawan yang mau mengajar tanpa dibayar, bantuan seperti buku sekolah juga mulai berdatangan,” katanya lagi. (azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here