Bantuan Korban Banjir Bima Sangat Minim, Warga Berebut Makanan yang Dibagikan Relawan

0
65
Korban banjir Bima mengambil pakaian yang terseret oleh air
Korban banjir Bima mengambil pakaian yang terseret oleh air

BIMA (fokusislam) – Hujan deras yang melanda kota Bima membuat air sungai meluap. Dua kali warga Bima diterpa banjir bandang, pada Rabu (21/12/2016) dan Jumat (23/12/2016). Banjir ini menyebabkan ribuan rumah rusak, serta harta benda dan barang-barang lainnya hanyut terbawa arus air.

Bencana yang menimpa Bima, tak ditanggapi seperti bencana di tempat lain. Di Bima, bantuan tidak diberikan secara merata dan pihak-pihak terkait kurang tanggap.

Warga Bima mengais pakaian yang hanyut di sungai
Warga Bima mengais pakaian yang hanyut di sungai

Sepekan setelah banjir bandang, Tim Relawan Cinta Sedekah terjun ke Bima untuk menyalurkan bantuan kepada warga korban banjir. Meskipun sudah berangsung pulih, tetapi masih banyak warga yang membutuhkan bantuan.

“Tiba di Bima Rabu (28/12/2016). Sepanjang jalan menuju posko bersama tampak sampah masih menggeliat dan menumpuk begitu pekat sekali. Lumpur pun masih begitu hangat belum terangkat,” kata Ujang Ahmad Solihin, Kordinator Tim Relawan Cinta Sedekah, kepada Fokus Islam, Kamis (29/12/2016) malam.

Bocah kecil berdiri di depan rumahnya yang hancur karena banjir
Bocah kecil berdiri di depan rumahnya yang hancur karena banjir

Saat Tim Relawan CInta Sedekah berjalan menuju posko bantuan, di SDIT Imam Syafi’i Jl. Karantina Kedo Tolotongga Kelurahan Jatiwangi Kec. Asakota, mendapati banyak warga yang lari mengejar mobil yang ditumpangi oleh tim.

“Dijemput pakai mobil tim relawan, setiap melewati kerumunan orang, mereka berteriak pak turunin bantuan, pak kami butuh bantuan, sampai ada yang mendekat langsung ke mobil, padahal posisinya lagi jalan,” ujar Ujang.

Saat meninjau langsung lokasi korban, warga berebut kepada tim relawan agar membagikan bantuannya.

“Pak turunin donk bantuannya disini, pak jangan yang rumahnya rusak saja yang dikasih”. Sampai tim relawan yang menyalurkan bantuan tadi sore, kondisinya hampir rebutan dan di hadang di tengah jalan sebelum sampai ke lokasi penyaluran,” terang Ujang.

Ujang yang terbiasa menyalurkan bantuan kepada korban bencana, melihat Bima ini berbeda sekali seperti bencana Garut dan Aceh.

“Jika di aceh sepanjang jalan raya begitu mudah didapati tenda- tenda biru dari Kemensos dan BNPB hadir, namun di Bima yg kondisi dan medannya lebih sulit dari Garut dan Aceh, berbeda sekali,” tandas Ujang.

Seorang bocah membaca buku yang mengering terkena air banjir
Seorang bocah membaca buku yang mengering terkena air banjir

Senada dengan Ujang, Tim Relawan dari Misi Medis dan Sosial (MMS) membenarkan ketidaktertibannya warga dalam menerima bantuan.

Kordinator Tim Relawan MMS, Yudhi Pratama mengungkapkan, warga Bima banyak yang tidak sabar sehingga rebutan bantuan.

“Ketika kami datang, mereka langsung menyerbu dan tanpa permisi ingin mengambil barang-barang,” ujar Yudhi.

Yudhi menilai, pihak aparat setempat tak tanggap menghadapi kondisi demikian. Tak ada pengamanan dan penertiban yang ketat terhadap warga.

“Aparat tak terlihat menertibkan, ada kesan membiarkan, jadi bantuan tidak diberikan secara merata,” papar Yudhi.

Ada pemandangan miris yang dilihat Yudhi, dimana dia melihat ada organisasi dan tokoh yang memanfaatkan bencana ini untuk menarik dukungan massa.

“Ada bantuan datang yang langsung di ambil oleh kelompok tertentu dan diklaim sebagai hasil pengumpulannya, dengan membawa bendera kelompok tersebut,” tukas Yudhi.

Semoga warga Bima tetap sabar!. (ibn)

LEAVE A REPLY