Pemblokiran Situs Islam dan Kebijakan Paranoid

0
368
Media Islam kembali diblokir
Media Islam kembali diblokir

Oleh: Dr. Slamet Muliono*

Pemblokiran terhadap situs Islam kembali terjadi. Alasannya klasik, karena situs-situs itu mengajak atau mempengaruhi masyarakat untuk membenci kelompok lain, sehingga berpotensi  menimbulkan kekacauan sosial. Pemblokiran adalah sebuah upaya untuk menciptakan stabilitas sosial.

Yang unik sekaligus aneh bahwa sasaran pemblokiran bukan bersifat menyeluruh,  tetapi hanya untuk situs-situs Islam. Maka muncul berbagai spekulasi bahwa Islamphobia kembali menjadi momok atau hantu sekaligus sebagai ancaman bagi negara.

Sebagaimana berkembang di media sosial bahwa pemerintah, melalui Menkominfo, kembali melakukan pemblokiran terhadap sejumlah situs yang dianggap melakukan politik kebencian terhadap kelompok lain dengan menyebarkan berita yang dianggap membahayakan.

Hal ini bukan hanya berpotensi melahirkan kekacauan sosial tetapi menjadi ancaman negara. Tentu saja kebijakan ini membuat sejumlah situs, yang berlatar belakang Islam, kaget dan merasa ada diskriminasi karena bertentangan dengan prinsip-prinsip jurnalistik dan keadilan sosial.

Ketidakadilan itu bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, yang diblokir hanyalah situs Islam. Situs yang diblokir adalah situs-situs berbasis Islam, sementara situs-situs lain yang tidak kalah provokatifnya, tidak mengalami pemblokiran. Situs-situs yang dikelola oleh tim buzzer Ahok tidak kalah bahayanya, dalam menciptakan kebencian terhadap kelompok Islam, tetapi tidak mengalami pemblokiran. Hal ini berbeda dengan yang dialami oleh situs-situs Islam yang begitu mudah dan rentan menjadi sasaran pemblokiran.

Kedua, tidak ada peringatan sebelum diblokir. Sebelum mengalami pemblokiran, tidak ada peringatan, baik berupa surat atau pemberitahuaan. Pemblokiran itu bukan hanya mendadak sehingga tidak memberi peluang untuk memberi hak jawab. Bagi situs-situs Islam, kondisi ini tidak memberi kesempatan untuk mengajukan keberatan atau mempertahankan argumentasi.

Pemblokiran terhadap situs Islam tanpa memberi peringatan merupakan bentuk stigmatisasi terhadap umat Islam, dan hal ini merupakan upaya untuk membendung kekuatan Islam yang semakin membesar dan menguat.

Umat Islam saat ini mulai sadar akan terjadinya marginalisasi di negeri ini, sehingga mulai bangkit untuk melawan kekuatan represif ini. Pemblokiran ini sekaligus sebagai upaya untuk menanamkan opini publik bahwa umat Islam merupakan ancaman. Pelabelan radikal merupakan pembenaran terhadap pandangan bahwa umat Islam adalah anti toleransi dan anti Bhinneka Tunggal Ika.

Islamphobia: Ketakutan Kolonial    

Pemblokiran media atau situs Islam secara sepihak itu tidak lepas dari fenomena Islamphobia. Islamphobia adalah sebuah ideologi yang sangat membenci dan khawatir terhadap Islam. Islam bukan hanya dipandang sebagai faham yang membahayakan keberagaman dan keberagamaan, tetapi juga mengancam eksistensi negara.

Islamphobia merupakan ideologi warisan penjajah kolonial, yang beranggapan bahwa Islam merupakan agama yang membahayakan pemerintah, sehingga harus diawasi. Bagi pemerintah kolonial Belanda Islam merupakan kekuatan yang membahayakan dan mengancam kebijakannya di negeri jajahannya.

Kekhawatiran terhadap Islam itu melahirkan kebijakan-kebijakan yang anti Islam. Salah satunya adalah membatasi atau melarang umat Islam Indonesia terlibat dalam politik. Di antara sarana untuk mengerti politik adalah melakukan ibadah haji. Disadari betul bahwa umat Islam yang melakukan ibadah haji akan bertemu dan berkomunikasi dengan pihak lain. Dengan bertemu orang-orang Islam yang ada di Timur Tengah, maka ditakutkan ada transfer pengetahuan tentang Islam. Dengan bertemunya antar umat Islam akan saling memberi informasi tentang apa yang mereka alami. Dengan demikian umat Islam memahami dunia politik.

Pemerintah kolonial Belanda menyadari bahaya ini sehingga mengeluarkan kebijakan mulai dari membatasi jamaah haji hingga melarangnya terlibat dalam politik.

Apa yang dilakukan penjajah Belanda dilanjutkan oleh pemerintah Orde Baru ketika melihat kekuatan umat Islam yang telah menyadari adanya marginalisasi politik bagi mereka. Kebijakan Orde Baru yang anti Islam itu benar-benar memberi suntikan kesadaran dan pikiran kritis, sehingga mulai mengadakan perlawanan. Era keterbukaan telah membuat generasi terdidik muslim mengadakan langkah-langkah politik. Untuk menekan kekuatan umat Islam ini, Orde Baru mengadakan langkah-langkah represif. Salah satunya adalah pemberedelan terhadap media-media yang kritis terhadap pemerintah.

Kebijakan Orde Baru ini muncul karena bisikan dan masukan dari mereka yang anti Islam. sebagaimana diketahui bahwa era Orde Baru dikendalikan oleh orang-orang Kristen yang memiliki kesamaan dengan ideologi penjajah kolonial, bahwa Islam sebagai bahaya yang harus diwaspadai.

Pemblokiran dan Tumbuhnya Mental Paranoid

Apa yang terjadi saat ini, dengan pemblokiran situs-situs Islam, tidak berbeda dengan perspektif penjajah kolonial yang memandang Islam sebagai bahaya yang harus dilawan dengan melakukan pemblokiran.

Dengan pemblokiran, maka kran-kran informasi bisa dibatasi, sehingga bisa menutup peluang bagi situs-situs Islam untuk membangunkan kesadaran bersama. Dengan kata lain, watak penjajah kolonial masih diwarisi oleh sang pemblokir situs Islam.

Apa yang dilakukan oleh rezim saat ini, dengan memblokir media, seolah mengkhianati peran media sosial yang telah membesarkan dirinya melalui pencitraan. Pemblokiran situs-situs Islam saat ini tidak jauh berbeda dengan pemberedelan di era Orde Baru yang ketakutan terhadap kekuatan Islam.

Kekhawatiran yang dialami oleh rezim saat ini tidak lain sebagai warisan kolonial yang ingin dilanjutkan dalam rangka untuk menghadang kekuasan Islam yang sudah sulit dibendung.

Pemblokiran terhadap situs Islam menunjukkan mental kolonial yang masih melekat pada rezim ini. Pemblokiran situs-situs Islam bukan hanya menunjukkan hilangnya akal sehat, tetapi merupakan tindakan paranoid setelah melihat kekuatan umat Islam yang sulit dibendung.

Penulis adalah Dosen STAI Ali bin Abi Thalib dan UIN Sunan Ampel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here