Kisah Sukes Pengusaha Muslim ; Dengan Berbagi, Bisnis Akan Menjadi Berkah

0
739

Cerita Inspiratif Pemilik Restoran Sari Bungo di Caman, Jatibening, Bekasi (Bagian 1)

Namanya Achmad Syah Rizaldy, 72 tahun. Lelaki berdarah Minang kelahiran kota Pontianak, Kalimantan Barat ini menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 1964.

Saat itu, Rizaldy bercita-cita melanjutkan pendidikannya di Jakarta.  Ia mendaftarkan diri sebagai mahasiwsa Fakultas Kedokteran Ibnu Khaldun (sebelum pecah jadi YARSI), di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.  “Saya bersama-sama teman-teman dari Kalimantan Barat, tinggal di Asrama Kalbar”, ungkap Rizaldy.

Bekal Tiga Nasihat

Rizaldy meninggalkan kota Pontianak dengan bekal tiga nasehat dari orangtuanya.  “Saya dipesankan, belajar yang benar, jaga pergaulan, dan jaga sholat lima waktu.  Nasihat inilah yang selalu menjadi pedoman selama merantau ke tanah Jawa.  Ayah saya sudah mengajarkan sholat ketika usia saya masih lima tahun,” ujar Rizaldy.

Pendidikan agama menjadi pegangan yang sangat berbekas dan bermafaat bagi bekal perjalanan hidup Rizaldy selama di Jakarta.  Dasar pendidikan agama tersebut juga yang membawa Rizaldy berperan aktif dalam kegiatan sosial, mulai dari masa mahasiswa sampai di usia tuanya.  Ketika mahasiswa, ia aktif di Bidang Dakwah di Asrama Kalbar.

Lalu, apa ya yang membawa Rizaldy menjadi pengusaha Restoran? Ia mengaku bahwa dirinya menggemari kuliner.  Ketika saat masa kuliah, ia banyak bergaul dengan mahasiswa Universitas Indonesa di asrama mahasiswa Daksinapati, Rawamangun.

“Waktu itu saya memburu Sate Padang yang katanya enak di kawasan Mayestik, kawasan Kebayoran.  Menuju ke sana harus berganti kendaraan umum.  Pertama naik bus kota Robur, lalu dilanjutkan dengan naik bemo,” kata Rizaldy mengenang masa itu.

Namun, Saat itu belum terbayangkan akan usaha Restoran.  Rizaldy mengungkapkan bahwa dirinya memiliki tekad yang menggelora untuk usaha.  Ketika masih mahasiswa, ia pun menyambi pekerjaan sebagai detailer sebuah perusahaan farmasi.  Lalu, Ia pun sempat bekerja di perusahaan BUMN, Panca Niaga.  Di sela-sela kesibukan bekerja, Rizaldy juga menyibukan diri usaha me-leasing-kan peralatan elektronik dan meubel.

”Alhamudlillah, saya dapat keuntungan dari usaha leasing tersebut.  Marjin hasil  usaha leasing tersebut dikumpulkan ditambah dengan gaji dari Panca Niaga.  Tabungan yang terkumpul inilah yang kelak dijadikan modal usaha,” kata Rizaldy.

Selama 30 tahun menabung, terkumpulah uang sekitar Rp. 2 Miliar Rupiah.

Muncul Ide Membuka Restoran

Kenapa memilih Restoran Masakan Padang?  Ternyata, obsesi Rizaldy muncul karena ibunya rahimahallah.  “Ibu saya pintar memasak.  Rasanya enak, ini yang membuat saya terobsesi dan terbawa sampai mahasiswa,” kata Rizaldy.

Obsesi Rizaldy, mendorong ia ingin selalu mencari makanan yang enak.  Pergaulannya dengan mahasiswa Universitas Indonesia di asrama Daksinapati, mendapatkan info bahwa ada makanan enak di pasar Mayestik.  Untuk menuju Mayestik, Rizaldy harus berdesak-desakan naik bus Robur atau Ikarus sampai CSW dan naik bemo sampai ke pasar Mayestik.

“Pasar Mayestik kalo sore menjadi pusat Kuliner.  Sejak itulah saya kerap ke pasar Mayestik.  Di sana ada warung makan yang menjual Sate Padang.  Saya lihat warung makan tersebut selalu ramai.  Ini yang membuat saya semakin terobsesi,” kata Rizaldy.

Namun, Obsesi Rizaldy terpendam puluhan tahun.  Rizaldy ternyata harus melalui sebuah proses panjang. Perjalanan sejak menginjak di Jakarta pada 21 Agustus 1964, obsesi membuat Restoran Masakan Padang baru terwujud  pada tahun 2000.

“Saya hanya ingin membangun usaha dari uang sendiri.  Tentu saja memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan uang untuk modal,” kata Rizaldy.

Lalu, apa saja yang menjadi sumber uang Rizaldy?  Semasa kuliah, Rizaldy sudah mencari uang di sebagian waktunya.  Ia menjadi representative detailer obat.  Demikian juga setelah bekerja, gaji selama menjadi karyawan di BUMN Panca Niaga sebagian dikumpulkan.  Sebagian gajinya dipergunakan untuk usaha leasing.

“Saya mengkreditkan barang-barang, seperti furniture dan elektronik.  Dari pembayaran tempo, saya mendapatkan keuntungan.  Karena sudah dipercaya oleh toko, saya pun diberikan harga diskon.  Jadi, saya dapat tambahan keuntungan dari diskon,” kata Rizaldy.

Selain mempersiapkan permodalan, Rizaldy juga selalu menjalankan ibadah kepada Allah Subhana wa Ta’ala.  Ia ingat pesan bapakanya, “menjaga sholat lima waktu dan menjaga pergaulan.  Maksunya, harus memilih teman yang baik,:” kata Rizaldy yang juga terbiasa menjalankan shaum Senin-Kamis.  Ia pun selalu memohon pertolongan Allah Subahana wa Ta’ala agar tidak bergantung kepada orang lain.

Sampai suatu saat, sekitar tahun 2000 an, ketika tinggal di kawasan Jati Bening, Bekasi, Rizaldy memutuskan untuk membangun restoran.  “Saya menemukan lokasi tanah yang luasnya sekitar 700 M2.  Alhamdulillah, saya beli dengan harga Rp 600 juta.  Ide Restoran ini muncul setelah bergaul dengan teman Panitia Pembangunan Masjid, beliau adalah pengelola Restoran Padang Sederhana,” kata Rizaldy.

Dengan modal sekitar Rp2 miliar, Rizaldy memulai bisnis Restoran Padang.  Selama setahun menggunakan merek Sederhana, sekaligus mengadopsi pola manajemennya.  Namun, setahun kemudian, setelah pecah kongsi dengan mitranya,  Rizaldy mengubah nama Restorannya menjadi Sari Mande.  “Waktu itu, saya punya dua nama, Sari Mande dan Sari Bungo.  Saya sempat menggunakan nama Sari Mande selama setahun sampai tahun 2002.  Setelah itu, sejak tahun 2003 saya namanya Sari Bungo.  Karena, nama Sari Mande sudah dipatenkan oleh orang lain,” Rizaldy.

Sampai sekarang nama Sari Bungo terpampang di jalan Caman Raya, Jati Bening, Bekasi.  Rizaldy menggunakan sistem kemitraan bagi hasil dengan awak restoran.  Ada modifikasi sistem pembagian bagi hasil yang diterapkan di Sari Bungo dari sebelumnya.  Sistem bagi keuntungan 50:50 yang dikeluarkan setiap bulan.  “Alhamdulillah, dengan sistem bagi keuntungan ini, sekitar 75% awak Sari Bungo bertahan sampai saat ini,” kata Rizaldy.

Dengan Berbagi, Bisnis Menjadi Berkah

Sistem ini menumbuhkan rasa memiliki. Berbeda dengan sistem gaji yang akan menimbulkan suka dan tidak suka.   “Saya owner yang memiliki asset dan modal kerja.  Para awak restoran juga owner yang memiliki modal operasional dan pelayanan.  Kami sama-sama pemilik Restoran Sari Bungo.  Saya tidak akan mampu mengelola Restoran ini seoang diri.  Mereka yang meracik masakan, mereka yang mengelola, dan mereka yang melayani,” ungkap Rizaldy.  Saat ini, Restoran Sari Bungo didukung oleh 34 awak, termasuk Kepala Masak dan Manajer.

Baca kelanjutannya : Kisah Sukses Pengusaha Muslim ; Kembangkan Bisnis Tanpa Riba dan Pinjaman Bank

Rizaldy menuturkan, bahwa dengan sistem berbagi seperti ini, in syaa Allah bisnis menjadi berkah.  Sebagai bukti, Rizaldy membeberkan bahwa seluruh karyawannya sudah memiliki Rumah.  “Keuntungan yang fluktuatif kami nikmati bersama.  Jika ada yang sakit atau masalah Keuangan, kami semua saling mendukung untuk memberikan jalan keluarnya.  Jika ada yang melahirkan atau acara pernikahan, kami saling memberi hadiah sebagai ungkapan kebahagiaan,” kata Rizaldy. (eri/azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here