Orang Tua, Yuk Introspeksi Diri

0
199
Anak shaleh
Anak shaleh

Setia orang tua punya keinginan yang sama, harapan serupa miliki anak shalih. Buah hati yang dekat dengan Pencipta juga berbakti pada sosok-sosok yang telah membesarkannya

Berbicara mengenai keshalihan anak, ada syariat yang mungkin banyak orang lupa. Keshalihan dan ketakwaan orang tua adalah modal utama untuk meraih anak-anak yang bertakwa.

Perlu dicatat bahwa karakter orang tua di masa kini berperan besar dalam membentuk kepribadian anak, bahkan kunci kebaikannya di dunia dan akhirat. Hal ini berarti baiknya anak merupakan berkah dan balasan atas amal-amal shalih kita. Allah mengisyaratkan hal tersebut melalui kisah yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi. Peristiwa yang melibatkan Nabi Musa, Nabi Khidir dan dua orang anak yatim.

Disebutkan bahwa Nabi Musa bersama Nabi Khidr melewati sebuah perkampungan. Keduanya meminta penduduk menjamu mereka. Namun masyarakat setempat menolak. Selanjutnya utusa-utusan Allah ini melihat bangunan yang hampir roboh, yang kemudian diperbaiki oleh Nabi Khidir. Melihat aksi teman seperjalanan, Nabi Musa berkata:

“Jika engkau berkehendak, tentu engkau bisa mengambil upah atasnya.” (QS. Al-Kahfi 18: 77)

Merespon utusan Allah untuk Bani Israel ini, Nabi Khidir berkata:

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatirn di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS.Al-Kahfi 18: 82 )

Simaklah potongan ayat, “sedang ayahnya adalah seorang yang shalih”. Penggalan tersebut wahyu tersebut menjadi bukti keshalihan orang tua medatangkan kebaikan bagi anak. Oleh karena bapak-ibu kedua anak yatim ini adalah hamba yang taat, Allah jaga harta yang diwariskan untuk mereka, melalui tangan Nabi Khidir.

Sejarah yang diabadikan di Al Qur’an ini adalah dorongan bagi segenap orang tua, yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya, agar menjadikan takwa dan amal shalih sebagai salah satu wasilah, yang dengannya Allah akan menjaga keturunan mereka. Lebih tegas Allah terangkan mengenai sebab-sebab kebaikan untuk anak dalam ayat berikut:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang se-andainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan per-kataan yang benar.” (QS. An-Nisa’ 4: 9 Terj. )

Inilah diantara sebab yang memacu ulama-ulama terdahulu bersungguh-sungguh beribadah. Diantara mereka adalah seorang tokoh tabi’in Sa’id Ibnul Musayyib, yang pernah berkata:

“Sesungguhnya ketika shalat aku ingat anakku, maka aku menambah shalatku.”

Demikianlah bekal yang disiapkan orang-orang shaleh di masa lalu untuk anak-anak mereka. Berharap kebaikan untuk keturunan dengan bertransformasi menuju hal-hal yang Allah ridhoi.

Melalui uraian singkat ini, yuk introspeksi diri. Sudahkah keshalehan yang diharapkan ada pada jiwa anak, diupayakan dengan serius. Usaha sungguh-sungguh yang diaktualisasikan dengan amal-amal baik di masa kini.

Pen: Fajar/Ed: Ariza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here