OKI : Myanmar Harus Akui Rohingya Sebagai Etnis Resmi Negara

0
90

RAKHINE (fokusislam) – Organisasi Kerjasama Negara Islam (OKI) mendesak pemerintah Myanmar mengakui kaum minoritas Muslim Rohingya sebagai etnis resmi negara. Hal itu bisa dilakukan dengan memperbaiki undang-undang kewarganegaraan tahun 1982 yang diterapkan pemerintah mereka.

“Negara OKI mendesak pemerintah Myanmar menghilangkan akar masalah dengan mengembalikaan status kewarganegaraan kaum Rohingya yang dicabut dalam UU Kewarganegaraan Tahun 1982,” kutip komunike resmi hasil pertemuan luar biasa OKI di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis lalu.

Selama ini, status kaum Rohingya memang tidak diakui dalam konstitusi Myanmar, sehingga mereka kerap jadi sasaran diskriminasi. Mereka tidak memiliki akta kelahiran, surat kematian, serta tidak dapat bersekolah dan bekerja.

Dikutip dari CNN, Senin (23/1/2017), OKI menganggap bahwa adanya pengakuan dan pemenuhan hak, serta kebijakan transparan terhadap etnis beragama merupakan salah satu solusi mengakhiri diskriminasi dan konflik kemanusiaan yang menimpa kaum minoritas di Myanmar selama ini.

“OKI meminta Myanmar memastikan kebijakan yang transparan dan inklusif pada komunitas keagamaan dengan melibatkan Rohingya sebagai bagian integral dari negara dan mempertimbangkan mereka sebagai etnis minoritas, seperti yang diserukan PBB,” tulis OKI.

Baca : OKI Desak Pemerintah Myanmar Berikan Akses Bagi Delegasi Yang Hendak Tinjau Etnis Rohingya

Dalam pertemuan tingkat menteri yang dihadiri sekitar 56 negara itu, OKI juga mengadposi sebuah resolusi yang mendorong negara anggota untuk turut memberikan bantuan kemanusiaan yang inklusif bagi Myanmar.

Resolusi itu juga meminta pemerintahan de facto Aung San Suu Kyi untuk membuka akses bagi bantuan kemanusiaan ke negara bagian Rakhine, tempat bentrokan dan kekerasan terhadap kaum Rohingya marak terjadi.

Warga Rohingya beberapa waktu belakangan kembali menjadi korban kekerasan dari militer Myanmar.Rangkaian kekerasan ini bermula dari penyerangan pos polisi perbatasan di Rakhine pada 9 Oktober lalu. Militer menuding “teroris Rohingya” bertanggung jawab atas serangan itu, meski tidak ada bukti jelas.

Bukannya menangkap pelaku, militer Myanmar malah menyerang kaum Rohingya hingga menewaskan sekitar 86 orang dan menyebabkan ribuan lainnya melarikan diri keluar Myanmar. (azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here