Ternyata Orang yang Dituduh Melakukan Suap Terhadap Patrialis Akbar tak Pernah Beri Uang Sepeserpun

0
35022
Basuki Hariman
Basuki Hariman

JAKARTA (fokusislam) – Pengusaha impor daging sapi, Basuki Hariman yang diduga menyuap hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar, akhirnya angkat bicara. Usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Basuki menjelaskan kasus yang menderanya saat ini.

Kepada awak media, Basuki mengatakan, kasus berawal dari maraknya daging impor India yang masuk ke Tanah Air. Hal itu menjadi pemicu kekhawatiran terhadap bisnisnya yang bergerak di sektor pangan tersebut.

Ia lantas mengungkapkan keresahan itu kepada rekannya bernama Kamaluddin. Kamaludin diketahui Basuki, orang yang cukup dekat dengan Patrialis Akbar.

Belakangan ia justru bertemu langsung dengan Patrialis. Namun, Basuki tak merinci apakah pertemuan itu turut dihadiri Kamaludin atau tidak. Begitu juga soal tempat maupun waktunya, Basuki tak menjelaskannya.

“Hari ini kan masuknya daging India terlalu banyak (ke Indonesia). Jadi kalau mereka ada gugatan seperti itu, saya coba membantu saja Pak. Memberikan penjelasan-penjelasan kepada hakim, dalam hal ini Pak Patrialis, masuknya daging India ini pertama merusak peternak lokal karena harganya murah sekali,” kata Basuki usai diperiksa KPK, Jumat (27/1/2017), dilansir Viva.co.id.

Terlebih, lanjut Basuki, daging dari negara dimaksud termasuk dalam daftar yang kurang baik untuk masalah impor daging. Namun, ia heran pemerintah masih saja melakukan hal tersebut.

“Di sana tuh masih terjangkit penyakit PMK, jelas kok di sertifikatnya tertulis dari negara terinfeksi kenapa masih tetap diimpor gitu lho. Jadi saya jelaskan kepada Pak Patrialis biar beliau mengerti. Begitu dia mengerti, dia coba pelajari. Tapi saya tidak pernah memberikan uang apa-apa,” kata Basuki.

KPK dalam sangkaannya menyebutkan Basuki dibantu sekretarisnya Ng Fenny diduga memberikan suap sebesar US$200 ribu dan 2000 dolar Singapura kepada Patrialis melalui Kamaludin. Uang itu diduga untuk memuluskan sidang uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Disinggung, siapa yang memberi uang tersebut, Basuki lantas mengklarifikasinya. Dia bahkan curiga justru uang itu dimakan sendiri oleh Kamaludin.

“Itu ada, namanya Kamal. Dia teman saya dan juga dekat dengan Pak Patrialis. Saya memberi uang kepada dia (Kamal) karena dia kan dekat dengan Pak Patrialis. Dia minta sama saya, US$20 ribu itu buat dia umrah. Tapi saya percaya uang itu buat dia pribadi. Buat Pak Kamal sendiri,” kata Basuki.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT Sumber Laut Perkasa itu pun merasa aneh, alasan KPK menjerat dia sebagai tersangka. Padahal, ketika bertemu Patrialis secara langsung tidak pernah membicarakan soal uang ataupun komitmen fee soal uji materi yang berimbas pada usaha bisnisnya.
“Tidak ada (perintah). Jadi selama saya bicara dengan Pak Patrialis, tidak pernah dia bicara sepatah kata pun soal uang. Yang minta uang itu sebenarnya Pak Kamal. Saya merasa karena dia kenal Pak Patrialis, saya sanggupi untuk membayar kepada dia,” kata Basuki.

Basuki pun meyakini Patrialis tidak terlibat kasus ini. Dia pun mengklaim tidak terlibat. Menurut Basuki, Kamaludin yang harus mempertanggungjawabkan sendiri. “Kalau menurut saya, Pak Patrialis enggak terlibat dalam hal ini,” kata Basuki yang juga Direktur Utama PT Impexindo Pratama itu.

Uang diberikan secara bertahap dua kali. Tapi, Basuki kukuh meyakini uang itu belum sampai ke Patrialis. “Yang ketiga belum terjadi. Yang 200 ribu masih sama saya. Nah, mengenai yang dua kali sebelumnya itu jumlahnya 10 sama 20 ribu USD. Yang 200 ribu itu masih sama saya. Hari ini (rencana) mau diambil sama tim penyidik,” kata Basuki.

Basuki melanjutkan, ketika dia bersama beberapa orang karyawannya diamankan tim KPK di kantornya di bilangan Jakarta Utara, ternyata penyidik membawa Kamaludin. Basuki mengaku tak menyangka kantornya itu ikut digeledah penyidik secara tiba-tiba.

“Mereka (KPK) ke kantor, dia geledah kantor saya, terus saya datang ke kantor. Saya tanya kenapa gitu lho. Rupanya Pak Kamal sudah dibawa duluan ke sini. Kemudian terus saya juga dibawa ke sini (KPK),” kata Basuki.

Basuki lantas mengklaim dalam perkara ini telah menjadi korban Kamaludin. Terlebih, kata Basuki, Kamaludin kerap mengatakan bisa memenangkan perkara judicial review itu.  “Padahal saya tahu Patrialis berjuang ya apa adanya gitu ya. Saya percaya Pak Patrialis ini tidak seperti orang yang kita dugalah hari ini. Terima uang dari saya enggak ada,” kata Basuki.

Saat disinggung alasan tetap memberi uang kepada Kamaludin berkali-kali padahal mencurigai telah ditipu, Basuki tetap menegaskan pernyataannya tadi. Dia mengklaim, hanya merasa tidak enak untuk tidak memberi apa yang diminta Kamaludin.

“Ya dia sering begitu memang. Tapi saya tahu itu enggak bakal nyampe (uangnya). Cuma karena dia yang kenalin, ya sudah, saya kasih aja, gitu lho,” kata Basuki.

Dikonfirmasi kapan saja dia pernah bertemu langsung dengan Patrialis, Basuki mengaku telah beberapa kali. Salah satunya yakni di sebuah lapangan golf di Jakarta Timur. Namun Basuki tidak menjelaskan waktunya.

 

“Saya pernah ketemu di golf di Rawamangun berapa kali saja. Makan sama-sama dua kali kalau enggak salah,” kata Basuki.

 

Disinggung lebih jauh sosok Kamal yang diduga sebagai perantara suap kasus ini, Basuki mengakui kedekatan Patrialis dengan Kamaludin yang sudah sejak lama.

 

“Pak Kamal ini dekatlah sama pak Patrialis. Dia juga punya kerja sama sama saya. Tapi saya enggak tahu dulu kalau deket sama Patrialis. Belakangan saya mengalami, saya juga pedagang daging, ternyata daging itu mulai enggak laku, saya support orang yang gugat lah. Itu saja,” kata pria yang juga pernah diperiksa pada kasus yang melibatkan Ahmad Fathanah itu.(ibn/viva)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here