Muhammad, Pejuang Tauhid dan Pebisnis

0
268

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Dunia dikejutkan dengan turunnya wahyu Allah yang disampaikan Malaikat Jibril as.  kepada seorang yang berprofesi sebagai wirausahawan, Muhammad. Beliaupun berubah statusnya menjadi Rasulullah. Sebuah wahyu yang memberi ajaran bagaimana caranya untuk mencapai Islam yang berarti selamat dan menjadikan diri sebagai muslim yang berarati menyerahkan kehendak diri kepada kehendak Allah. Ajaran wahyu ini oleh malaikat Jibril as. disampaikan keada seorang wirausahawan yang ummi, orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Diturunkan tidak di istana yang mewah, melainkan di sebuah bukit batu yang gersang, Jabal Nur dengan guanya, Gua Hira. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2015, hal. 26)

Ada dua hal yang patut digarisbawahi dari sosok Muhammad bin Abdullah. Pertama, seorang wirausahawan (pebisnis) yang memiliki keuletan, sehingga bisa bertemu dan berkomunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat. Kedua, pemegang prinsip tauhid yang kokoh, sehingga tegar dalam menghadapi berbagai problem yang rumit dan pelik sekalipun. Dua kemampuan itu bukan saja memperkuat penyebaran dakwah tetapi menopang tegaknya kekuasaan Islam di berbagai wilayah.

Wirausaha dan Penyebaran Dakwah

Pebisnis, disadari atau tidak, memberi peluang bagi dirinya untuk bisa berkomunikasi dengan siapapun. Profesi sebagai pebisnis membuka peluang untuk mengetahui segala hal sebelum sampai pada transaksi. Bahkan pembicaraan di luar transaksi akan berlanjut apabila hal itu menarik untuk ditindaklanjuti. Maka disinilah peluang untuk menyebarkan misi yang akan disampaikan. Demikian pula bagi Muhammad, dalam proses bisnis, dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan yang bisa dilihat dan dipahami oleh mitranya.

Dengan bergelut di bidang perdagangan, maka sifat dan watak nabi yang jujur dan terpercaya dikenal banyak orang, sehingga opini masyarakat luas mengenal Muhammad sebagai sosok yang baik. Modal dasar sebagai pebisnis inilah yang nantinya akan mempercepat tersebarnya dakwah karena masyarakat mengenal sosok Muhammad sebagai pribadi yang jujur dan terpercaya.

Ruh bisnis pada diri Muhammad ini sudah tertanam kuat sejak kecil. Hal itu bisa dilacak dalam sejarahnya, dimana pada usia 12 tahun diajak melakukan perjalanan niaga ke Syiria bersama pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muththalib. Muhammad tercatat sebagai pengikut rombongan wiraniagawan termuda.

Abu Thalib menyatakan bahwa Muhammad selalu dilibatkan dalam berniaga, termasuk berdagang hingga ke Busra, Syiria. Rombongan itu bertemu dengan Bahira, seorang pendeta Nasrani dan tiba-tiba mengundang santap makan bersama. Hal ini tidak pernah dia lakukan terhadap rombongan lain. Setelah jamuan makan selesai, dan Bahira melihat tanda kenabian Muhammad, maka dia mengingatkan agar Abu Thalib segera pulang dan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Dikatakan bahwa “Demi Allah, bila Yahudi melihatnya, akan sangat berbahaya.

Darah pebisnis yang mengalir dalam diri Nabi Muhammad, benar-benar membantunya dalam menyebarkan Islam. Nabi Muhammad seolah-olah mengubah cara berpikir masyarakat bahwa pasar bukan hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan materi dengan jual beli barang, tetapi juga untuk pertukaran bahasa, ekonomi, politik, ideologi, sosial, budaya, ketahanan dan pertahanan. Bahkan tidak jarang terjadi konversi (perpindahan) agama karena pengaruh pasar. Artinya, pasar dipergunakan sebagai medan niaga dan dakwah sdekaligus. Dari pasar, dibangun masjid, kemudian masjid dipergunakan untuk membina generasi muda melalui lembaga pendidikan, yang akhirnya berlanjut tuntutan komunitas Islam, hingga melahirkan kekuasan politik Islam.

Nilai-nilai Tauhid dan Perluasan Kekuasaan

Kekuatan nilai tauhid yang ditopang oleh jiwa pebisnis menjadi modal utama  tersebarnya dakwah hingga tegaknya kekuasaan di bidang politik. Inti ajaran Nabi Muhammad adalah tauhid, sebagaimana merujuk pada peristiwa diterima lima ayat pertama saat menerima wahyu (QS. 96 : 1-5), yang berisikan peringatan Allah bahwa manusia diciptakan dari darah, dan Allah pulalah yang menjadikan manusia berilmu. Proses menjadi orang berilmu melalui bekal membaca dan menulis.

Dahsyatnya kekuatan tauhid, bukan hanya mencatat sejarah cepatnya Islam tersebar, tetapi menjadikan bangsa arab yang terendam dalam era jahiliyah berubah menjadi bangsa besar yang mampu menumbangkan singgasana penguasa yang beristana megah, seperti kekaisaran Persia dengan ajaran Majusinya, dan kerajaan Romawi Bizantium dengan Nasraninya. Betapa tidak, tenggang waktu 23 tahun mtelah mengubah dunia hingga  mewarisi kekuasaan yang tersebar di berbagai hamparan dan pelosok bumi.

Sebagai pebisnis, bisa berkomunikasi dengan berbagai level sosial, dan ditopang oleh tauhid yang kuat dan kokoh, maka kekuatan Islam bukan hanya terlalu kuat di mata bangsa lain, tetapi sekaligus menjadi daya tarik yang demikian besar bagi masyarakat untuk memeluk Islam. Nabi Muhammad telah memberi contoh sebagai sosok pejuang tauhid yang memiliki jiwa bisnis, yang gigih dalam berjuang untuk menyebarkan Islam.

Dua modal dasar ini (pejuang tauhid dan pebisnis) dimiliki oleh sebagian besar para sahabat utama sehingga menjadi kekuatan yang mampu menembus dan menumbangkan dua kerajaan besar yang sangat kokoh pada zaman itu. Kalau dahulu, kekuasaan dunia yang selalu berganti di antara kerajaan Persia dan Romawi, maka dengan datangnya era sahabat itu yang telah ditempa Nabi Muhammad, keduanya bukan hanya tumbang, tetapi masyarakatnya berhasil masuk dan tunduk memeluk Islam. Tidak salah bila nabi menjuluki generasinya ssebagai generasi terbaik yang pernah hidup di dunia ini. Dengan kata lain, Islam berkembang sebagai kekuatan besar yang tak terkalahkan karena dilandasi oleh pondasi tauhid yang kuat dan ditopang oleh kekuatan ekonomi yang melekat dalam diri kaum muslimin. Kekuatan Islam menjadi ambruk, ketika pondasi tauhid rapuh dan pondasi ekonomi lemah.

Surabaya, 3 Pebruari 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here