Tono, Pria Berjenggot yang Diperiksa Polisi karena Ledakan “Bom Sarang Tawon” Kuningan

0
1561
Tono didepan Kantor Polsek Jalaksana usai diperiksa polisi
Tono didepan Kantor Polsek Jalaksana usai diperiksa polisi

KUNINGAN (fokusislam) – Tono (31 tahun) tak menyangka dirinya bakal berurusan dengan pihak kepolisian. Pria dua anak ini sejak 10 tahun lalu bekerja di pabrik pupuk dan menetap di Karawang.

Tiba-tiba pada Ahad (5/2/2017) malam, Tono diminta pulang segera oleh pihak Kepolisian. Pasalnya, tepat di depan rumah mertuanya, di Desa Manis Kidul RT/RW 01/01 Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan ada sebuah benda yang meledak kencang. Polisi menduga bahwa benda itu adalah bom. Tim gegana dari Polda Jawa Barat pun segera menuju TKP untuk memeriksa.

Mertua Tono, Sutri (54 tahun), sangat kaget ketika mendengar ledakan kencang di depan rumahnya. Sutri yang tinggal sendirian di rumahnya ini melihat asap membumbung tinggi, orang-orangpun berlarian menuju sumber suara ledakan. Di tempat kejadian, warga mendapati pipa yang yang sudah hancur. Sutri ingat ledakan itu terjadi sekitar pukul 20.00 WIB.

Untuk mengurai kasus ini, polisi kemudian memanggil orang-orang yang rumahnya paling dekat dengan sumber ledakan. Keluarga Sutrilah yang diperiksa oleh petugas kepolisian.

Sutri memang tinggal sendirian di rumah. Tetapi dia punya anak dan menantu, sedangkan suaminya telah lama wafat. Anak dan menantu Sutri merantau ke luar kota. Deni dan Nani di Jakarta sedangkan Tono dan Irna di Karawang.

Siang harinya, Senin (6/2/2017), Sutri beserta anak dan menantunya diboyong ke kantor polisi. Petugas memeriksa keluarga ini sejak pukul 10 hingga 17.30 WIB. Pemeriksaan paling lama dilakukan kepada Tono. Pria berjenggot ini masuk ke ruangan pemeriksaan dari pukul 11 sampai 17.30 WIB.

Penampilan Tono yang berjenggot dan mengenakan celana diatas mata kaki, membuat polisi detail melontarkan pertanyaan. Polisi mendalami, apakah Tono ada keterkaitan dengan kelompok-kelompok yang kerap melakukan teror.

“Ada sih pertanyaan-pertanyaan tentang itu, tetapi tidak secara terang-terangan. Digiring mengarah kesana,” kata Tono, usai menjalani pemeriksaan di Kantor Polsek Jalaksana saat ditemui Fokus Islam, Senin (6/2/2017).

Tono tidak ingat jumlah pasti pertanyaan yang dilontarkan kepadanya ada berapa, karena sangat banyak.

“Mungkin sampai ratusan pertanyaan ya,” kata Tono.

Selain karena penampilan, Tono juga dicecar banyak pertanyaan terkait dengan profesinya sebagai karyawan bagian produksi di perusahaan pupuk. Mengingat, pupuk bisa dijadikan untuk membuat bom

“Ditanya-tanya, bagaimana cara pembuatan pupuk dan kaitannya dengan pembuatan bom. Ada juga pertanyaan tentang kelompok-kelompok tertentu yang dianggap menebarkan teror,” ujar Tono.

Kesaksian Orang-Orang Terdekat

Rifal, tetangga Tono di Desa Manis Kidul, Kuningan, mengenal Sutri dan anak menantunya adalah sosok yang baik.

“Ibu Sutri, anak dan menantunya ya saya kenal, namanya juga tetangga dekat,” kata Rifal.

Rifal menuturkan, Sutri memiliki putri bernama Irna dan menikah dengan Tono, pemuda asal Cirendang Kuningan. Tono dikenal sosok yang biasa-biasa saja, tidak ada keanehan.

“Biasa aja yah, tidak ada yang aneh. Kalau Tono dan Irna tinggal di Karawang, pulang ke sini sesekali saja dan saya kenal orangnya baik,” ujar Rifal.

Rifal sendiri mendengar suara ledakan tersebut. Dirinya keluar menuju sumber ledakan dan melihat asap membumbung tinggi.

“Kayaknya itu ada yang melempar dari kebon. Kalau ibu Sutri gak mungkin yang meledakkannya. Dia tinggal sendirian di rumah dan sudah tua,” terang Rifal.

Tokoh masyarakat setempat, Dadan Rahmatul Ramdan, juga mengenal Tono dan istrinya dengan baik.

“Saya kenal betul dengan Tono dan istrinya. Mereka ini tidak ada kaitan dengan kelompok teror,” ujar Dadan.

Dadan berani menjamin hal tersebut, karena sejak kecil Irna rajin mengaji padanya. “Irna itu mengaji sama saya. Tono juga kalau pulang sering ikut pengajian yang saya selenggarakan,” papar Dadan.

Dadan khawatir, ledakan bom tersebut adalah fitnah yang dituduhkan kepada Tono, mengingat penampilan Tono yang berjenggot dan mengenakan celana cingkrang.

“Khawatirnya ini adalah fitnah. Saya tahu betul Tono dan istrinya itu tidak ada kaitan dengan kelompok teror,” tegas Dadan.

Kekhawatiran Dadan tak terjadi. Tono dan keluarga dipulangkan kembali oleh polisi karena ada tetangganya yang mengaku membuat bom tersebut sebagai alat untuk mengusir tawon.

Ternyata Alat Pengusir Tawon

Sekitar pukul 16.30 WIB, ada seorang pria paruh baya datang ke Kantor Polsek Jalaksana dan mengaku sebagai pembuat bom tersebut dengan tujuan untuk mengusir tawon yang membuat sarang didekat rumah Sutri.

“Tidak ada kaitannya dengan aksi teror ya. Yang meledak itu ternyata alat pengusir tawon yang terbuat dari racun tikus yang ditempatkan di pipa besi,” kata Kapolres Kuningan, AKBP Muhammad Syahduddi kepada wartawan.

Syahduddi menambahkan, pelaku yang membuat alat pengusir tawon ini tak menyangka akan terjadi seperti ini.

“Pelaku bernama Urip, usia 51 tahun. Dia sudah 3 kali pakai alat tersebut. Selama ini selalu berhasil, tapi kali ini terjadi ledakan,” terang Syahduddi.

Syahduddi menegaskan bahwa Urip mengusir tawon ini atas inisiatif sendiri. Tindakannya juga tidak ada kaitan dengan jaringan terorisme manapun. (ibn)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here