Distorsi Sejarah dan Fitnah Kaum Penjajah Pada Umat Islam

0
258
ilustrasi peta Indonesia
ilustrasi peta Indonesia

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Dengan sengaja, sejarawan Belanda pada masa pemerintah kolonial Belanda membuat periodisasi sejarah Indonesia, memundurkan waktu masuknya agama Islam berada jauh di belakang atau sesudah keruntuhan kekuasaan politik Hindu atau Keradjaan Hindoe Madjapahit. Dengan berdasarkan periodisasi itu, menjadikan Islam baru dibicarakan setelah Keradjaan Hindoe Madjapahit runtuh pada 1478 M. Tidak dijelaskan pula sejak abad 7 M agama Islam sudah mulai didakwahkan ajarannya oleh para wiraswasta di Nusantara Indonesia. Ditambahkan pula bahwa runtuhnya Keradjaan Hindoe Madjapahit akibat serangan dari keradjaan Islam Demak yang dipimpin Panembahan Fatah.

Mengapa demikian ? N.A. Baloch menjawab strategi pemerintah kolonial Belanda, anti Islam, dan bermotivasi devide and rule atau pecah belah untuk dikuasai melalui salah satunya penulisan sejarah. Oleh karena itu, dalam penulisan sejarah Indonesia bertolak dari pandangan Hindoe Sentrisme  atau dari Neerlando Sentrisme. Lebih mengutamakan sejarah Hindu Buddha atau sejarah Belanda di Indonesia. Islam yang dijadikan dasar gerakan perlawanan terhadap penjajahan Protestan Belanda, dinegatifkan analisis sejarahnya. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Islam, jilid I, 120-121)

Sinergi Islam-Nusantara dan Manipulasi Penjajah

Islam dan Nusantara (Indonesia) bisa dikatakan seperti dua sisi mata uang. Islam datang dan menginspirasi masyarakat sehingga berhasil membentuk pola berpikir warganya dengan nilai-nilainya. Sebaliknya, rakyat Nusantara merespon dan menerima dengan baik nilai-nilai Islam sehingga meresap dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berjalan dan berlangsung secara simultan dan berkelanjutan sehingga membentuk sebuah peradaban yang memiliki jejak sejarah yang dikenal dunia sebagai bangsa mayoritas muslim. Setelah itu, Nusantara dikenal oleh dunia sebagai masyarakat yang santun, beradab karena inflitrasi atau resapan nilai-nilai Islam.

Namun dengan berjalannya waktu, muncullah kelompok penjajah, yang awalnya ingin berdagang guna menyambung kehidupan, dan kemudian berubah menjadi perampok kekayaan bangsa.  Mereka bukan lagi menyambung hidup tetapi mengeksploitasi sumberdaya alam dan menindas serta memecah belah warga masyarakatnya. Maka disinilah terjadi proses kolonisasi (penjajahan). Komplotan penjajah ini, dalam tahap berikutnya, memiliki otoritas untuk menentukan arah dan sejarah bangsa Indonesia. Hal ini bukan hanya untuk menutupi fakta sejarah yang nyata tetapi ingin menghilangkan jejak Islam yang demikian kokoh di bumi Nusantara. Dalam konteks ini, muncul gagasan untuk melakukan penyimpangan sejarah penulisan masuknya Islam di Indonesia.

Bentuk manipulasi sejarah, di antaranya dengan membuat periodisasi sejarah masuknya Islam di Indonesia. Kalau ada teori Mekkah dari Buya Hamka yang menyatakan bahwa Islam masuk sejak abad ke 7, dan dibawa langsung dari Arab Saudi, maka dimanipulasi dengan dimunculkannya teori Gujarat yang dicetuskan oleh Snouck Horgronje. Teori Gujarat meyakini bahwa Islam masuk sejak abad 13 M yang berawal dari Gujarat, India. Konsekuensi dari manipulasi sejarah masuknya Islam begitu besar. Kalau teori Mekkah berasumsi bahwa Islam yang masuk ke Indonesia, berada pada puncak kejayaan dan kemuliaannya. Dengan adanya teori Gujarat,  maka Islam yang datang di Nusantara merupakan Islam yang sudah runtuh, dimana Baghdad sebagai pusat Islam, jatuh ke tangan Mongol)

Konsekuensi lain dari teori Gujarat bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah bukan hanya Islam yang kalah, tetapi nilai-nilainya sudah bercampur dengan tradisi lokal. Artinya Islam yang datang bukanlah Islam yang murni, tetapi Islam yang sudah bercampur dengan budaya agama Hindu dan Budha. Ketika teori Mekkah dipercaya sebagai acuhan, maka masyarakat Indonesia telah memeluk Islam sebelum datangnya penjajah Belanda dan berkembangnya agama Hindu-Budha. Implikasi dari kepercayaan teori Gujarat bahwa bukan hanya masyakarat Indonesia identik dengan nilai-nilai Hindu dan Budha, tetapi Islam dianggap mengganggu keberadaan masyarakat Indonesia yang sudah mapan dengan tradisi animisme dan dinamisme. Maka disini Belanda benar-benar melakukan manipulasi secara sistematis.

Memanipulasi sejarah untuk kepentingan kolonial merupakan watak yang melekat pada pemerintah Belanda, dan hal itu terus berlangsung hingga saat ini. Kalau dahulu Islam masuk ke Indonesia dengan damai melalui jalur perdagangan, sehingga membentuk watak dan karakter masyarakat dengan nilai-nilai Islam. Maka saat ini muncul anggapan bahwa orang-orang Islam menyebarkan agamanya dengan cara radikal sehingga merusak karakter dasar masyarakat Indonesia, yang santun-beradab. Islam kemudian dituduh sebagai agama yang memecah belah masyarakat dan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemutarbalikan fakta sejarah dengan melakukan periodisasi bahwa Islam datang pada abad 13, mengandung konsekuensi sebagai berikut.

Pertama, Islam masuk di Indonesia bukan Islam yang murni, tetapi Islam yang telah bercampur dengan tradisi dan budaya lokal. Artinya, tradisi dan budaya menjadi tolok ukur dan Islam harus menyesuaikan atau memperhatikannya. Tradisi atau budaya akan lebih diutamakan dan Islam dianggap sebagai ancaman tradisi lokal sehingga harus disingkirkan bila bertentangan dengan tradisi masyarakat.

Kedua, Islam masuk di Indonesia dengan jalan peperangan. Hal ini dibuktikan dengan jatuh dan runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit yang diserang oleh kerajaan Islam Demak. Padahal jatuhnya kerajaan Majapahit itu karena serangan dari kerajaan Kediri yang membalaskan amarah dendamnya karena pendiri Majapahit dulu pernah menyerang kerajaan Kediri hingga kalah. Pemutarbalikan sejarah saat ini juga berlangsung, dimana ulama dan tokoh Islam dianggap sebagai ancaman negara dan perusak NKRI, sehingga mereka harus ditangkap dan dipenjarakan dengan berbagai rekayasa jahat. Rekayasa jahat ini merupakan  bentuk distorsi sejarah yang dikloning, sekaligus sebagai warisan agung dari penjajah.

Surabaya, 10 Pebruari 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here