Toleransi Kebablasan

0
421
ilustrasi Masjid Agung Jawa Tengah
ilustrasi Masjid Agung Jawa Tengah

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Upaya memaknai toleransi terus dilakukan, dan saat ini mengalami kebablasan. Sasaran tembaknya sudah pasti, yakni umat Islam. Dengan kata lain, gagasan besarnya bukan hanya untuk membelokkan makna toleransi itu sendiri tetapi untuk membidik dan menyasar kepada umat Islam sebagai target kambing hitam.

Penyesatan terhadap makna toleransi ini bukan tanpa skenario, tetapi merupakan rencana sistematis untuk menggiring opini publik bahwa umat Islam adalah kelompok masyarakat yang tidak mengenal toleransi. Kalau selama ini, toleransi bermakna bersikap menghargai atau membiarkan pendirian, baik pendapat, pandangan, kepercayaan, yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Namun saat ini makna toleransi sudah ingin digeser. Toleransi sudah dimaknai dengan menghadiri, mengikuti, membantu, serta aktif masuk ke dalam domain keyakinan orang lain.

Menghangatnya perbincangan soal toleransi yang kebablasan ini berkenaan dengan adanya rencana perayaan budaya Cina, yakni Cap Go Meh yang rencananya dilaksanakan di masjid Agung Jawa Tengah. Rencananya, acara itu akan digelar hari Ahad (19/2/2017), setelah mendapat persetujuan pemerintah setempat dan juga aparat (hidayatulloh.com.17/2/2017). Namun beruntung, acara ini tidak jadi digelar setelah dialog dengan tokoh Islam dan masyarakat setempat.

Toleransi dan Upaya Penyudutan Islam

Dalam perspektif ajaran Islam, masjid bukan hanya tempat ibadah yang suci tetapi tempat steril dari berbagai macam ritual yang bertentangan dengan Islam. Masjid tidak bisa dimasuki secara bebas dan senaknya tanpa memperhatikan prinsip-prinsip yang berlaku di masjid. Tidak semua orang muslim bisa masuk secara bebas kecuali sudah memenuhi beberapa persyaratan, seperti dalam keadaan suci (berwudhu), berpakaian yang baik dan syar’i, tidak duduk di dalamnya sebelum melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, tidak membuat gaduh, atau omong kotor. Hal ini bukan saja untuk menghormati masjid, tetapi untuk menghormati dan memuliakan “Sang pemilik” masjid yakni Allah yang agung dan mulia. Oleh karena itu, cara mengagungkan dan memuliakan “Sang pemilik” masjid tentu ada cara yang baik

Sementara perayaan Cap Go Meh di dalam masjid sudah menyalahi beberapa prinsip.

Pertama, campurbaurnya berbagai kelompok agama. Bukankah tempat ibadah hanya diperuntukkan untuk pemeluk agama itu. Masjid adalah tempat beribadah miliki kaum muslimin guna melakukan pendekatan atau pengagungan terhadap sang pencipta dan penguasa alam semesta. Demikian pula gereja adalah temapt peribadatan yang dimuliakan oleh penganut agama Nasrani dengan berbagai ritual yang mereka yakini. Datang dan masuknya orang Cina untuk merayakan ritual Cap Go Meh di masjid, jelas-jelas merupakan pencampuradukkan antara pemeluk agama untuk melakukan sebuah ritus budaya yang bertentangan dengan keyakinan umat Islam.

Kedua, campuraduknya praktek beragama. Islam sangat melarang perbuatan pencampuradukan praktek beragama, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi. Nabi Muhammad mendapat tawaran orang kafir Quraisy untuk melakukan penyembahan tuhan mereka, dengan imbalan bahwa orang kafir Quraisy akan melakukan peribadatan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Namun Nabi Muhammad dengan tegas menolaknya karena tidak adalah persekutuan dan kerjasama dalam beribadah (lakum diinukum waliyadiin)

Ketiga, ramainya masjid dengan alat musik. Masjid merupakan tempat untuk mensucikan hati guna mendekatkan diri kepada Allah. Untuk melakukan ibadah itu harus dilakukan penuh dengan ketenangan dan suasana hening. Sementara perayaan Cap Go Meh, bukan hanya gaduh tetapi membuat manusia lalai dan jauh dari rasa tenang. Bahkan dengan adanya alat musik itu justru akan merusak suasana kebatinan di dalam masjid.

Meramaikan acara Cap Go Meh di masjid dengan berbagai ritual yang bertentangan dengan Islam bukan hanya menghinakan fungsi masjid tetapi menghancurkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Apa yang diupayakan oleh sekelompok orang kafir untuk merayakan ritual Cap Go Meh di masjid adalah sebuah upaya untuk menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai agung yang terdapat dalam Al-Qur’an sebagaimana yang disinyalir Allah dalam firman-Nya :

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka” (QS. Fushshilat : 26)

Orang-orang kafir senantiasa membuat tipu daya untuk menjauhkan umat Islam dari upaya memahami isi Al-Qur’an. Ketika dicampuri dengan alat musik di dalam masjid maka masjid bukan lagi menjadi tempat yang sakral tetapi menjadi tempat hiburan yang melalaikan umat Islam dari menyimak isi Al-Qur’an.

Mengubur Toleransi Kebablasan

Apa yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mewacanakan toleransi, sebagaimana kasus keinginan untuk merayakan ritual Cap Go Meh di masjid, telah dilakukan dengan melakukan pemaknaan tentang Kebhinnekaan. Kalau selama ini kebhinnekaan dimaknai dengan mengakui adanya budaya atau pemikiran pihak lain serta mengakui prinsip-prinsip yang dianutnya dengan tidak melecehkan nilai-nilai kemanusiaan dan keindonesiaan. Dengan adanya prinsip ini, maka tumbuh saling menghargai dan menghormati eksistensi budaya dan pemikiran lain tanpa mengganggu dan mempertentangkan di antara yang berbeda.

Namun yang terjadi saat ini mengalami kebablasan dimana Kebhinnekaan ditunjukkan dengan berkumpulnya berbagai macam aliran dan pemikiran, baik yang lurus maupun menyimpang. Di antara yang berbeda itu, bukan hanya berkumpul dalam satu wadah, tetapi tidak boleh saling menyalahkan atau saling. Hal inilah yang dimaknai dengan kebhinnekaan. Kebhinnekaan dalam konteks ini tidak boleh ada pihak yang menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan pihak lain.

Wacana toleransi dalam perayaan Cap Go Meh tidak lain hanyalah upaya penyesatan yang berujung menyudutkan umat Islam sebagai pihak yang tidak toleran karena menolak masjid dipergunakan sebagai tempat untuk menyemai tumbuhnya sikap toleransi. Padahal toleransi dalam konteks ini sangat menyesatkan dan kebablasan.

Boyolali, 18 Pebruari 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here