Kajian The Rabbanians Ka’ab Bin Malik Bagian ke-5 ; Mereka Menangisi Satu Kesalahan Yang Sudah Diperbuat

0
169

JAKARTA (fokusislam) – Pembahasan bagian ke-5 dari kisah Ka’ab bin Malik memasuki masa pemboikotan seluruh penduduk Madinah terhadap Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Ar-Rabi.  Mereka bertiga sama sekali tidak dianggap.  Mereka bertiga pun harus menjalani kehidupan seperti orang asing di kota Madinah selama 50 hari.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc pada Kajian Lepas Kerja setiap Rabu malam yang diadakan oleh komunitas The Rabbanians di Masjid Agung Al Azhar, mengungkapkan, dua sahabat Ka’ab, yakni Hilal dan Murarah langsung menutup diri ketika pemboikotan itu mulai berjalan.  Mereka berdua malu dan menangisi kekhilafannya.  Kedua sahabat Ka’ab tidak berani keluar untuk menghadapi sanksi yang diberikan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala melalui Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun, berbeda dengan Ka’ab.  Ia masih berani keluar rumah dan bertemu dengan penduduk Madinah walaupun tidak ditegur dan tidak dijawab ucapan salamnya.  Bahkan, Ka’ab masih ikut sholat berjama’ah besama kaum muslilmin di kota Madinah.  Sampai akhirnya, Ka’ab menjumpai sahabat dan sepupunya Abu Qotadah, saat itulah, hati Ka’ab runtuh.

“Ketika, Ka’ab meminta Abu Qotadah menjadi saksi bahwa dirinya mencintai Allah dan RasulNya.  Setelah ditanya sebanyak tiga kali, Abu Qotadah hanya mengatakan, Allah dan RasulNya lebih tahu.  Perkataan inilah yang membuat Ka’ab merasa dirinya sudah menjadi orang yang munafik.  Maka Ka’ab pun menangis,” kata Ustadz Nuzul.

Setelah meninggalkan Abu Qotadah, Ka’ab pun menuju pasar ditengah semua orang tidak mau menegurnya.  Saat itu, sekelompok datang utusan dari Raja Ghassan yang Kafir dan menawarkan segala faslitas dunia yang menggiurkan kepada Ka’ab bin Malik agar mau pindah ke negeri mereka.

Ustadz Nuzul mengungkapkan bahwa ada pelajaran sangat berharga pada kisah Ka’ab ini.

“Ketiga sahabat Rasullullah ini, menangis menyesali hanya satu kesalahan. Mereka menyesali kesalahannya tersebut.  Maka, kita yang begitu memiliki banyak kesalahan, sudah sewajarnya harus lebih banyak menangis dan malu,” kata Ustadz Nuzul.

Selanjutnya, anda bisa menyimak kajian selengkapnya melalui link berikut

(eri/azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here