Agenda Terselubung Di Balik Pelarangan Istilah “Kafir” di NKRI

0
862
gambar ilustrasi
gambar ilustrasi

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Proses membidik dan menyudutkan umat Islam akhir-akhir ini semakin massif. Bahkan reproduksi untuk menyudutkan Islam seolah-olah sudah dirancang secara sistematis dan terencana. Tujuan akhirnya, umat Islam merasa terancam dan tidak berdaya untuk melakukan apa-apa. Bahkan segala aktivitas umat Islam akan dijerat dengan berbagai pasal dan undang-undang dengan fakta-fakta yang direkayasa. Hal ini membuat umat Islam tidak bebas bergerak untuk menyuarakan aspirasinya.

Yang unik dan agak janggal, bahwa proses penyudutan itu dilakukan dengan menggunakan pemikiran umat Islam sendiri, khususnya mereka yang memiliki pemikiran berbasis liberal, pluralis, dan sekuler. Pandangan-pandangan mereka bukan menyejukkan dan membesarkan hati umat Islam, untuk hidup nyaman dengan keislamannya, tetapi justru memberi ancaman dan ketidaktenangan.

Istilah “Kafir” dan Perang Wacana

Salah satu gagasan yang dilontarkan oleh Ahmad Sahal yang menulis bahwa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak ada istilah “orang kafir”. Menurutnya, pemeluk agama disebut berdasar agama masing-masing. Orang Islam, orang Kristen, orang Katolik, orang Budha, orang Hindu, orang Konghucu. Mereka tidak disebut kafir karena titik acuan NKRI adalah Pancasila, bukan Islam.

Dia menegaskan bahwa kafir adalah term bahasa arab yang artinya “orang yang menutup diri” dan itu merupakan istilah keagamaan dalam Islam untuk menyebut orang yang mengingkari dan menentang ajaran Islam. Dia berkilah dengan mengatakan bahwa kriteria tentang apa dan siapa “kafir” bersandar pada doktrin Islam, dan karena itu penilaiannya pun dari sudut pandang Islam. Sementara dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, sehingga mereka tidak berhak mendesakkan sudut pandangan agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Dengan kata lain, di dalam NKRI tidak ada tempat bagi sebutan “kafir” terhadap warganya yang non muslim, karena status mereka adalah warga negara (citizen) bukan kafir dzimmi atau kafir harbi. (geotimes.co.id.18/2/2017).

Pemikiran di atas sah-sah saja untuk dituangkan tetapi kurang absah dan terkesan menyudutkan umat Islam. Seolah-olah “mengkafirkan” pemeluk agama lain hanya hak milik dan pekerjaan umat Islam. Ketidak-proporsionalannya sangat terlihat dan tidak berimbang. Kalau orang-orang Kristen menyebut orang yang beragama lain sebagai domba-domba tersesat yang harus diselamatkan, dan umat Islam tidak pernah mempersoalkan. Hal itu merupakan sesuatu yang lumrah dan wajar. Tetapi ketika umat Islam menyebut term kafir kepada orang di luar Islam, maka diblow-up dan dipersoalkan.

Memblow-up hal ini, seolah umat Islam menjadi kelompok yang menciptakan keonaran dan kegaduhan, ketika menyebut pemeluk agama lain sebagai kafir. Padahal kelompok agama lainpun memiliki konsep keselamatan diri dan menyebut pemeluk agama lain sebagai kelompok sesat yang harus dibimbing dan diselematkan. Konsep sesat dan keselamatan itu merujuk pada konsep dan ajaran agamanya.

Demikian pula konsep neraka dan surga juga merupakan hal milik sebuah ajaran, sehingga wacana ini berkembang dan bergaung di di kalangan internal pemeluk agamanya.

Wacana pelarangan penggunaan istilah kafir jelas mengarah kepada umat  Islam dan ujungnya adalah menyudutkan umat Islam. Hal ini semakin lengkap dan sempurna untuk menyorot setiap gerak umat Islam. Ketika ada umat Islam melakukan tindakan untuk membela agamanya, dengan melakukan tindakan pengeboman atau pembunuhan kepada orang lain, maka tuduhan terorisme dan radikalisme langsung muncul. Tetapi begitu yang melakukan kelompok di luar Islam melakukan hal yang sama, dan bahkan lebih dahsyat dan massif terhadap umat Islam, maka penyebutan terorisme dan radikalisme tidak ada muncul. Kalau pun muncul penamaan, cukup dengan menyebut tindakan kriminal biasa.

“Kafir” dan Pengkambinghitaman Umat Islam

Proses penyudutan umat Islam seperti ini bukan pertama kali, dan hal itu berulang kali. Ketika tokoh umat Islam bergerak untuk menggulirkan wacana agar umat Islam peduli terhadap kepemimpinan dan mengajaknya untuk memilih pemimpin muslim dan menolak pemimpin non muslim, maka muncul tuduhan bahwa umat Islam sedang menggalang kekuatan untuk mendirikan negara Islam. Yang aneh, ajakan untuk menolak kepemimpinan non muslim dianggap membahayakan NKRI.

Oleh karena itu, wacana menghilangkan kata “kafir” untuk orang di luar Islam, sarat dengan kepentingan yang tujuan akhirnya adalah membunuh spirit beragama umat Islam. Kalau mau jujur, penyebutan istilah “kafir” pun tidak merujuk pada pemikiran seseorang tetapi merujuk pada kitab suci Al-Qur’an dan ucapan Nabi Muhammad. Betapa banyak Al-Qur’an mengingatkan umat Islam untuk waspada dengan perilaku orang kafir yang membahayakan keselamatan umat Islam. Orang kafir bukan hanya musuh Islam tetapi memusuhi hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Mereka bukan hanya membuat tipu daya terhadap orang Islam tetapi membuat tipu daya terhadap Allah.

Kalau tidak menyebut identitas orang-orang yang memusuhi umat Islam dan menentang hukum-hukum Allah serta membuat makar (tipu daya), dengan sebutan kafir, maka disebut dengan apa orang-orang yang demikian. Orang yang suka mengambil hak milik orang lain harus disebut apa, kecuali disebut pencuri.

Demikian pula orang yang menghabiskan harta rakyat secara illegal dengan menempuhnya dengan segala cara serta digunakan untuk memperkaya diri, disebut apa orang yang demikian, kalau tidak disebut koruptor. Sementara orang Islam, dengan celana cingkrang, berjenggot dan jidat hitam langsung dicurigai sebagai kelompok teroris dan membahayakan negara, dan pihak non- muslim atau kelompok liberal-sekuler tidak pernah mempermasalahkan. Maka jelas sekali bahwa wacana pelarangan penggunaan istilah “kafir” merupakan agenda tersembunyi untuk menyudutkan umat Islam dan memberi kebebasan kepada kelompok non-muslim, dengan menggunakan orang-orang liberal-sekuler berbagai cara untuk menciptakan ketidaknyamanan dan rasa terancam bagi umat Islam.

Surabaya, 21 Pebruari 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here