Ketika Mereka Menantang Allah ; Pelajaran dari Kesombongan Umat-Umat Terdahulu

0
331
ilustrasi : Jakarta banjir
ilustrasi : Jakarta banjir

oleh : Aziz Rachman*

Apa yang menyebabkan Iblis terusir dari surga?. Mengapa ia membangkang perintah Allah ketika ia diminta untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam?. Apa yang membuat Iblis begitu membenci Nabi Adam?. Lantas bagaimanakah akhir dari kisah Iblis tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bermuara pada satu jawaban yang sama. Iblis memiliki kesombongan yang luar biasa. Dengan kesombongannya, perintah Allah pun berani ia abaikan, bahkan tak ragu ia membangkang. Tak tanggung-tanggung, kesombongannya bahkan ia tampakkan langsung di hadapan Allah.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76)

Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (QS Shad : 75)

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS Shad : 76)

Kesombongan itu kemudian membuahkan hasil. Ada harga yang harus dibayar ketika kesombongan menjadi sifat dalam diri Iblis.

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (78)

Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, (QS Shad : 77)

Sesungguhnya laknat-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. (QS Shad : 78)

Kesombongan Umat Terdahulu

Dalam pengertiannya, kesombongan dimaknai sebagai suatu sikap merasa hebat, tinggi dan merasa lebih dibandingkan dengan orang lain. Ditambah lagi, kesombongan juga akan melahirkan perasaan meremehkan, mengecilkan dan menghinakan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (HR. Muslim)

Pelajaran tentang kesombongan dan akibat yang didapat karenanya, telah Allah sampaikan kepada kita. Dalam Al-Quran, dijelaskan tentang tiga umat pertama yang dihancurkan oleh Allah akibat kesombongan mereka.

Allah berbicara tentang umat Nabi Nuh ‘alaihissalam :

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS Hud : 32)

Lihatlah ayat ini dengan teliti. Tidak hanya membantah, umat Nabi Nuh bahkan dengan pongah dan congkaknya menantang Nabi Nuh agar mendatangkan adzab yang telah dijanjikan. Kesombongan yang disertai dengan tantangan kepada Rasul, yang berarti juga tantangan kepada Allah. Bagaimanakah hasil akhirnya? Allah mengdzab umat Nabi Nuh dengan mengirimkan air bah yang luar biasa.

Pelajaran tentang kesombongan juga kita dapati dari umatnya Nabi Hud ‘alaihissalam. Selain menyombongkan diri, umat Nabi Hud bahkan sempat-sempatnya menghina, menistakan dan merendahkan Nabi Hud. Allah berfirman :

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta”. (QS Al-A’raf : 66)

Setelah puas menghina dan menistakan Nabi Hud, umat yang sombong ini kemudian menantang Nabi Hud dan meminta agar segera diturunkan adzab kalau memang Hud adalah benar-benar seorang Rasul.

أْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS Al-A’raf : 70).

Kisah yang sama juga menimpa umatnya Nabi Shalih ‘alaihissalam.

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”.  (QS Al-A’raf : 77)

Lantas bagaimanakah hasil dari kesombongan dan tatntangan mereka?. Lihat kelanjutan ayat berikut ini

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (QS Al-A’raf : 78)

Belajar dari Umat Terdahulu

Allah menurunkan Al-Quran, dimana salah satu kandungan Al-Quran adalah berisikan kisah dan ceritera orang-orang terdahulu. Bukan tanpa sebab Allah menceritakan kisah mereka. Allah berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS Yusuf : 111)

Ada pelajaran yang bisa diambil. Ada hikmah yang bisa dipetik. Cukuplah kesombongan umat-umat terdahulu membuat mereka merasakan adzab yang ditimpakan oleh Allah. Janganlah kemudian kesombongan ini diadopsi, dan keluar dari mulut-mulut kita.

Bisa jadi Allah akan menurunkan sedikit peringatan, sebelum adzab yang besar datang bagi orang-orang yang sombong, orang-orang yang bahkan menantang turunnya adzab dari Allah.

Sebuah pepatah dalam bahasa Arab menyebutkan :

الشقي من لم يتعظ بغيره

Orang yang celaka, adalah orang yang tidak mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa orang lain.

*Penulis adalah pengajar di salah satu Madrasah Aliyah di Kota Cirebon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here