Pergeseran dari Islam Puritan Menjadi Islam Kejawen

0
206
ilustrasi peta indonesia zaman dahulu
ilustrasi peta indonesia zaman dahulu

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Perkembangan Islam di Jawa mengalami dinamika dan pergeseran yang unik. Di awal perkembangannya, Islam di Jawa berkembang secara damai dengan corak murni tanpa berbalut dengan menentang budaya lokal, serta tidak ada konflik yang membuat masyarakat terpecah belah. Peran Walisongo generasi awal sangat besar dalam mengislamkan masyarakat Jawa dengan berbagai pendekatan tanpa harus menghilangkan prinsip-prinsip ajaran Islam. Namun dalam perkembangannya, Islam digambarkan dengan dua wajah yang berbeda dengan awal mulanya, yakni Islam berkembang dengan wajah sinkretis, dan perkembangan Islam dilumuri dengan kekerasan dan peperangan.

Sebagaimana terekam dalam sejarah masuknya di Jawa, Islam berkembang di Jawa tidak lepas dari peran Walisongo. Hal itu merujuk pada sejarah dakwah yang dipelopori oleh para Walisongo. Kalau di awal perjuangan memperjuang Islam di Jawa dipelopori oleh Maulana Malik Ibrahim yang disusul oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel, dan Sunan Giri. Mereka berwarna puritan atau Islam murni. Warna Islam puritan itu mulai mengalami pergeseran setelah masuknya Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Tempayat, yang merupakan bangsawan pribumi bukan keturunan Arab. Mereka lebih kental tradisi Jawa feodal dan kejawen. Mereka inilah yang mengubah secara drastis pakem dakwah para Walisongo yang awalnya berbasis Islam murni, dan kemudian berubah dan longgar dengan budaya setempat. (Zainal Abidin bin Syamsuddin, Fakta Baru Walisongo, 76-77)

Islam Murni dan Dominasi Budaya  

Pergeseran pakem dakwah yang berbasis Islam murni menjadi berbasis budaya lokal tidak lepas karena situasi dan kondisi sosial budaya yang dihadapi oleh generasi penerus dati tokoh Walisongo. Hal ini merujuk pada peran yang dimainkan oleh Sunan Kalijogo dkk. yang telah melakukan perubahan pakem itu. Sebagai keturunan bangsawan Jawa tentu tidak mudah bagi Sunan Kalijogo untuk melepas warna Jawa dan tidak bisa mengikuti nilai-nilai Islam murni yang digariskan oleh pendahulu Walisongo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, dan Sunan Giri). Keinginan untuk mengislamkan masyarakat secara luas dan cepat serta berpikir positif terhadap para penerus dakwah setelahnya, yang akan memperbaiki masyarakatnya. Kondisi ini menjadikan corak Islam yang berkembang adalah Islam yang kompromistis atau Islam Sinkretis.

Kondisi di dalam lingkungan keraton, yang dominan dengan tradisi Jawa, sangat melekat dengan budaya sinkretis. Budaya sinkretis itu bersumber pada tradisi Hindu dan Budha. Maka tidak heran apabila dijumpai para raja dan sultan memiliki kegemaran untuk mengumpulkan benda-benda keramat seperti keris, cincin dan sebagainya. Bahkan mereka lebih mengagungkan tradisi-tradisi Kejawen, seperti nyekar ke kuburan atau larung sesajen ke laut, dan kurang sekali dalam memaksimalkan masjid sebagai tempat untuk mendekatkan masyarakat dan dirinya kepada Allah.

Implikasi Islam sinkretis bukan hanya berdampak pada pemahaman Islam yang sebagaimana digariskan oleh Nabi Muhammad, tetapi berpengaruh pada kehidupan berpolitik dan menata pemerintahan. Watak Islam sinkretis bukan menjaddikan agama sebagai rujukan dan pedoman, tetapi agama hanya dipakai sebagai alat justifikasi perilakunya. Dengan kata lain, agama dipaksakan untuk mengikuti dan menuruti kemauan penguasa bukan penguasa yang mengikuti dan taat pada agama.

Dalam konteks ini, sultan atau raja tidak heran bila melakukan penyingkiran terhadap ulama, dan bahkan membunuhnya, ketika menentang kepentingannya. Hal itu bisa dilacak dalam sejarah Islam Mataram, sebagaimana yang ditulis Hamka dalam “Sejarah Umat Islam”, dimana Amangkut I yang melakukan pembunuhan terhadap 6.000 ulama di lapangan karena para ulama itu menentang keinginannya. Itulah sejarah kelam yang dialami ulama ketika ingin menegakkan nilai-nilai Islam di lingkungan masyarakat, sementara sang raja lebih suka dengan tradisi lokal yang tidak bersumber dari Islam.

Islamisasi Damai dan Distorsi Kolonial

Kalau saat ini banyak opini menyesatkan bahwa Islam dikembangkan di Jawa dengan ketegangan dan peperangan. Maka hal itu menyalahi sejarah. Proses Islamisisasi Jawa berkembang pesat melalui masjid atau langgar yang sebelumnya dengan media perdagangan. Ketika masyarakat Islam bertemu dan berkumpul, maka mereka mendirikan tempat ibadah. Lewat masjid dan langgar itulah interaksi di antara orang-orang muslim terjalin secara intensif. Perkembangan Islam itu semakin massif setelah berdirinya kerajaan Islam Demak, wilayah pesisir Jawa, yang beriringan dengan melemahnya kerajaan Majapahit yang berbasis Hindu.

Kedatangan Maulana Malik Ibrahim sebagai tokoh Walisongo pertama kali berhasil dakwahnya di pulau Jawa (tahun 1404) pasca jatuhnya kerajaan Majapahit. Kedatangan Maulana Malik Ibrahim inilah yang berhasil memberi suntikan tumbuh berkembangnya Islam di pulau Jawa.  Hal ini tidak lepas dari hubungan yang baik antara kaum pendatang dengan masyarakat pribumi Jawa. Bahkan perkawinan pun terjalin dengan baik antara pendakwah Islam dengan wanita Jawa, sehingga terbentuk masyarakat Islam yang damai dan alami. Perkawinan di antara pendatang Arab dengan wanita-wanita keluarga bangsawan pun tidak lepas dari budi luhur mereka yang kebetulan memahmi agama dan berprofesi sebagai saudagar yang kaya.

Maka proses Islamisasi mulai merambah dari masyarakat biasa dan bergerak kepada keluarga istana dan berhasil mempengaruhi pola dan gaya hidup lingkungan kerajaan. Sehingga hubungan Islam dan masyarakat begitu dekat. Proses inilah yang menggambarkan bahwa Islam berkembang dengan cara damai hingga terbentuknya Islam Demak. Tetapi musuh-musuh Islam, dalam hal ini sejarawan Belanda, melakukan distorsi dengan membalikkan fakta bahwa Islam berkembang melalui jalur peperangan dan ingin menghabisi tradisi lokal.

Padahal kolonial Belanda itulah yang memiliki andil dalam melakukan politik belah bambu (devide et impera) dengan menghasut masyarakat lokal, dengan membesar-besarkan perbedaan, untuk dipertentangkan dengan penganut ajaran Islam. Watak kolonial itulah yang terus diwariskan kepada generasi saat ini dengan menyebarkan bahwa Islam diajarkan dengan kekerasan tanpa toleransi, dan ingin menghancurkan tradisi-tradisi lokal.

Surabaya, 22 Pebruari 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here