Hukum Diskon Pada Pembayaran dengan Menggunakan Go-Pay

0
1217

JAKARTA (fokusislam) – Akhir-akhir ini, di media sosial ramai dibicarakan soal  Go-Pay.  Produk baru ini sangat menggiurkan bagi masyarakat.  Karena, dengan menggunakan fasilitas tersebut, konsumen bisa membayar tarif jasa lebih murah atau mendapatkan potongan harga (diskon).  Ini berbeda dengan transaksi tunai, dimana konsumen harus membayar sesuai dengan tariff normal.

Secara umum fasilitas ini tentu saja sangat menarik bagi masyarakat.  Apalagi, saat ini jasa layanan antar online sedang mewabah di kota-kota besar. Namun, apakah transaksi Go-Pay atau yang sejenis ini bebas dari unsur riba?

Sebagian kaum muslimin menanyakan hal ini kepada Dr. Erwandi Tarmizi, MA, ustadz yang mendalami ilmu fikih muamalah.  Karena begitu banyaknya yang ingin mengetahui status hukum transaksi tersebut, Ustadz Erwandi segera meng-update penjelasan di Bukunya yang berjudul Harta Haram Muamalat Kotemporer (HHMK).

Ustadz Erwandi di dalam buku HHMK tersebut memberi judul TAKYIIF FIQHIY DEPOSIT UANG DI GO-PAY. Sebelum menjelaskan hukum boleh/tidaknya, halal/haramnya transaksi GO-PAY, Ustadz Erwandi terebih dahulu menerangkan hakikat deposit uang di GO-PAY menurut tinjauan fiqh.

Wallahu A’lam, dijelaskan bahwa deposit pada Go Pay dapat disamakan hukumnya dengan transaksi nitip uang pada toko sembako yang dekat dari rumah dengan tujuan dapat diambil barang setiap dibutuhkan.  Pada saat itu pembayaran harga barang dapat didebet langsung dari saldo uang yang dititipkan.

Ibnu Abidin (Ulama mazhab Hanafi, wafat 1836M) memasukkan kasus ini ke dalam salah satu bentuk bai’ istijrar, ia berkata,

وَلَوْ أَعْطَاهُ الدَّرَاهِمَ، وَجَعَلَ يَأْخُذُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَةَ أَمْنَانٍ وَلَمْ يَقُلْ فِي الِابْتِدَاءِ اشْتَرَيْتُ مِنْكَ

قُلْت: … وَهَذَا ظَاهِرٌ فِيمَا كَانَ ثَمَنُهُ مَعْلُومًا وَقْتَ الْأَخْذِ مِثْلَ الْخُبْزِ وَاللَّحْمِ أَمَّا إذَا كَانَ ثَمَنُهُ مَجْهُولًا فَإِنَّهُ وَقْتَ الْأَخْذِ لَا يَنْعَقِدُ بَيْعًا بِالتَّعَاطِي لِجَهَالَةِ الثَّمَنِ، فَإِذَا تَصَرَّفَ فِيهِ الْآخِذُ وَقَدْ دَفَعَهُ الْبَيَّاعُ بِرِضَاهُ بِالدَّفْعِ وَبِالتَّصَرُّفِ فِيهِ عَلَى وَجْهِ التَّعْوِيضِ عَنْهُ لَمْ يَنْعَقِدْ بَيْعًا، وَإِنْ كَانَ عَلَى نِيَّةِ الْبَيْعِ لِمَا عَلِمْتَ مِنْ أَنَّ الْبَيْعَ لَا يَنْعَقِدُ بِالنِّيَّةِ، فَيَكُونُ شَبِيهَ الْقَرْضِ الْمَضْمُونِ بِمِثْلِهِ أَوْ بِقِيمَتِهِ فَإِذَا تَوَافَقَا عَلَى شَيْءٍ بَدَلَ الْمِثْلِ أَوْ الْقِيمَةِ بَرِئَتْ ذِمَّةُ الْآخِذِ

“Bila seseorang menyerahkan sejumlah uang kepada penjual, setiap harinya dia mengambil barang sebanyak 5 item dan pada saat menyerahkan uang dia tidak mengatakan, “saya beli darimu 5 item setiap harinya…”

Aku berkata,” Hukumnya boleh jika harga 5 item tersebut telah jelas sebelumnya seperti roti dan daging. Adapun jika harganya tidak diketahui pada saat mengambil barang maka akad jual-belinya tidak sah karena harga pada saat transaksi tidak jelas. Maka apabila barang telah digunakan oleh pihak penitip uang dan sungguh penjual telah menyerahkannya dengan ridha dan dengan tujuan mendapat uang maka sesungguhnya akad jual-beli belum terjadi. Walaupun niat kedua belah pihak untuk melakukan akad jual-beli, hal ini dikarenakan akad jual beli tidak sah dengan niat saja. Maka sesungguhnya yang terjadi hampir serupa dengan akad Qardh (dimana penitip uang meminjamkan uangnya dan penjual meminjamkan barangnya) yang dia menjamin uang atau barang dengan semisalnya atau senilainya .

Berdasarkan takyiif yang dijelaskan oleh Ibnu Abidin bahwa akadnya dapat disamakan dengan qardh maka dalam kasus GO-PAY bahwa khusus pengguna jasa GO-JEK yang membayar jasa dengan GO-PAY mendapat potongan harga maka ini adalah manfaat yang diberikan muqtaridh (penerima pinjaman) kepada muqridh (pemberi pinjaman) dan setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat bagi pemberi pinjaman hukumnya adalah Riba.

Materi menenai Go-Pay ini  terdapat dalam buku HHMK cetakan 15 (Halaman 279 – 281).  Atau masyarakat bisa juga mengakses di sini (eri/azman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here