Kedatangan Raja Salman di Tengah Ketertindasan Umat Islam

0
723

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al-Saud, di Indonesia benar-benar mengalihkan sorotan dan mata dunia. Bahkan tidak sedikit yang kaget dan terperangah. Momentum kunjungan Raja Salman ini bisa jadi akan mengubah tatanan politik-ekonomi dunia, khususnya negara Indonesia yang saat ini sedang menghadapi ombak dan badai besar.

Dalam perspektif politik, Indonesia sedang menghadapi kekuatan dan kerakusan Cina yang ingin menancapkan taring dan kukunya di panggung kekuasaan. Dalam perspektif ekonomi, kelompok Cina tinggal menunggu waktu untuk melahap seluruh aset ekonomi Indonesia. Dengan menguasai politik-ekonomi ini membuat mereka bisa melakukan apa saja untuk menghitamputihkan Indonesia sesuai dengan keinginan dan hasratnya. Bahkan hukum dan peradilan pun bisa direkayasa sesuai dengan kepentingannya, termasuk dalam membela-bela yang salah dan menyalah-nyalahkan yang benar. Kasus pembelaan Ahok yang luar biasa dan kriminalisasi tokoh-ulama Islam merupakan contoh adanya ranah hukum dan peradilan yang sudah tergadaikan oleh politik Cina.

Sebagaimana ramai di berbagai media sosial bahwa Raja Salman akan melakukan kunjungan kenegaraan di Indonesia tanggal 1-9 Maret 2017. Kedatangan Raja Arab Saudi itu dikabarkan menanamkan investasi senilai Rp.94 triliun. Hal ini berkaitan dengan kesepakatan antara Indonesia dan Arab Saudi di bidang energi. Penandatangan investasi ini diwujudkan oleh perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco untuk pembangunan kilang minyak di Cilacap dengan nilai US 6 Miliar dollar. Selain itu, juga ada proyek lain yang akan ditandatangani kurang lebih senilai 1 Milliar dollar, sehingga total investasi sebesar 94,5 Trilliun. Bahkan presiden Jokowi berharap nilai investasi keseluruhan senilai US 25 Miliar dollar atau senilai 335,4 Triliun.

Hal ini sebagaimana dikatakan sekretaris Kabinet, Pramono Anung. Kunjungan raja Salman ini sangat bersejarah karena kunjungan terakhir raja Arab saudi tahun 1970. Bahkan dalam kunjungan ini negara Arab Saudi membawa 1.500 orang, 10 menteri, 25 pangeran. Dalam kesempatan itu, presiden Jokowi akan menganugerahkan bintang kehormatan tertinggi RI kepada raja Salman. (Detikfinance.24/2/2017)

Terkuburnya Stereotype Arab Saudi

Kedatangan Raja Salman kali ini bukan hanya spektakuler tetapi juga memberi angin dan harapan baru bagi umat Islam. Dikatakan spektakuler karena Raja Arab Saudi ini membawa uang yang nilainya tidak tanggung-tanggung (335,5 T) guna melakukan investasi ekonomi di negara mayoritas muslim ini. Yang lebih membanggakan adalah investasi Raja Arab Saudi itu, tidak sebagaimana umumnya negara-negara yang memberi utang, yakni tanpa membawa tenaga kerja, tanpa tenaga Ahli, serta tanpa bunga.

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan negara Cina yang telah mengikat kerjasama dengan Indonesia, dengan menanamkan investasi hanya senilai Rp. 60 T dengan syarat membawa tenaga kerja dan teknologi serta bunganya yang sangat tinggi serta membawa konsekuensi buruk lainnya, seperti hilangnya kedaulatan dan ideologi negara.

Kedatangan Raja Salman ini sekaligus bisa menepis berbagai tuduhan miring dari beberapa pihak yang menganggap Arab Saudi sebagai negara yang pelit, kurang bersahabat, dan bahkan sebagai pusat lahirnya gerakan radikalisme dan terorisme. Tuduhan miring inilah yang kemudian menjadi bahan olok-olok dari tokoh politik di negeri ini dengan mengajak rakyat Indonesia untuk tidak menjadikan Arab sebagai kiblat dan rujukan. Kedatangan Raja Salman ini bukan hanya menghilangkan stereotype Arab yang negatif, tetapi akan membuka mata dunia bahwa Arab Saudi memiliki kemuliaan. Kedatangan Arab Saudi tanpa memanfaatkan fasilitas dari negara yang diberi hutang tetapi justru memfasilitasi dirinya sendiri, seperti membawa pesawat pribadi dan segala sesuatu yang akan menunjang kelancaran urusannya saat di Indonesia. Bahkan hotel untuk menginap rombongan mereka sudah selesai dibayar sebelum kedatangannya. Kebutuhan untuk menginap di hotel itu senilai Rp. 10 miliar.

Namun, kunjungan Raja Salman ini tidak menghilangkan sifat dengki dari pihak-pihak yang selalu ingin mencari cela untuk membongkar aib negara kaya minyak itu. Pernyataan nyinyir juga muncul dengan mengatakan bahwa Arab Saudi sedang menancapkan faham Wahabinya, dan berpotensi mensupport kelompok-kelompok radikal. Mereka seolah menutup mata bahwa Arab Saudi saat ini sedang gencar memerangi radikalisme dan terorisme. Kalau selama ini Arab Saudi selalu dituduh sebagai gembong terorisme dan radikalisme, maka justru penuduh itulah sebenarnya yang melahirkan terorisme dan radikalisme itu. Iran merupakan contoh sebuah negara yang mensupport tindakan terorisme dan mendanai beberapa negara untuk melakukan tindakan radikalisme. Politik adu domba merupakan strategi awal untuk menciptakan konflik dan kekacauan. Dengan adanya konflik dan kekacauan itulah akan mensupport penggulingan penguasa.

Kalau politik Cina dalam memberi bantuan ekonomi kepada Indonesia, telah  membuat rakyat Indonesia tersandera dan hina. Bahkan bayang-bayang Indonesia telah menjadi koloni Cina sudah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tetapi dengan kedatangan raja Salman ini seolah memberi energi baru bagi Indonesia dan umat Islam untuk bangkit dan sadar dari ancaman Cina atas negaranya. Investasi Arab Saudi merupakan energi untuk membangkitkan kesadaran Indonesia atas kebusukan politik Cina. Apa yang dilakukan Raja Salman, sebagai negara yang berhukum Islam, memberi spirit baru kepada umat Islam untuk tetap kokoh menjadi umat yang mulia dengan berpegang pada agama yang mulia (Islam).

Surabaya, 26 Pebruari 2017

*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here