Arab Saudi dan Munculnya Suara Nyinyir

0
697
Presiden Joko Widodo menyambut Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud (kiri) saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3/2017)
Presiden Joko Widodo menyambut Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud (kiri) saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3/2017)

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Kedatangan raja Salman disambut baik oleh sebagian besar umat Islam. Hal itu bisa dilihat dari antusiasme masyarakat muslim yang bergembira dan bangga dengan kedatangannya. Namun ada sekelompok kecil dari umat Islam yang justru memiliki pandangan miring, dan bahkan mencibir kedatangannya. Pandangan miring ini terus dilakukan seolah kehilangan kontrol sehingga rela menciptakan opini dengan fakta yang dibuat-buat. Mereka ini  memandang buruk apa saja yang dilakukan oleh Arab Saudi dengan berbagai argumen yang dicari-cari. Sekelompok kecil itu direpresentasikan oleh Zuhairi Misrawi yang menulis artikel dengan judul “Hubungan Indonesia-Arab Saudi.”di harian Kompas hari Selasa (28/2/2017).

Dalam artikel itu, Zuhairi Misrawi mengawali sikap optimismenya dalam memandang Indonesia memiliki peran penting dan strategis dengan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Hal inilah yang membuat Arab Saudi melirik dan melakukan investasi ke Indonesia serta menganggap Indonesia sebagai mitra kerja yang baik. Adapun argumentasinya bisa disarikan sebagai berikut :

Pertama, Indonesia tidak bisa dipandang sebagai negara remeh. Arab saudi yang selama ini memandang Indonesia dengan sebelah dengan bukti  tidak ada kerjasama hingga 47 tahun. Namun saat ini, raja Salman datang untuk melakukan kerjasama. Kedua, Indonesia adalah negara terbesar dengan mayoritas muslim sehingga menguntungkan Saudi bila kerjasama dilakukan. Jamaah haji dan umrah Indonesia berpotensi besar menghasilkan devisa bagi negara Arab Saudi.

Ketiga, Indonesia sebagai negara moderat sehingga mampu memelihara kearifan lokal dan kekayaan budaya. Indonesia dianggap sebagai negara impian dalam menciptakan perdamaian. Hal ini tidak lepas dari peran NU dan Muhammadiyah. Demokrasi Indonesia yang semakin berkualitas merupakan contoh adanya kearifan lokal. Keempat, Indonesia dilirik oleh Arab Saudi setelah Iran bekerjasama dan melakukan investasi di Indonesia melalui Pertamina yang melakukan investasi minyak Mansouri dan Ab-Theymor. Sikap agresif Iran inilah yang mendorong Saudi untuk bertindak jauh lebih spektakuler.

Antara Inferior dan Kebencian

Pandangan Misrawi bukan hanya pandangan memprihatinkan tetapi juga menyesatkan. Dikatakan memprihatinkan karena pandangan kebenciannya terhadap Arab Saudi telah mendorong dia untuk membuat data yang meragukan guna mendukung argumentasinya. Pandangan dengan data yang meragukan itu bisa menyesatkan orang lain.

Ketika dia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat baik dan stabil, sehingga membuat Arab Saudi mau menginvestasikan dananya. Padahal kondisi Indonesia bukan hanya mengkhawatirkan tetapi dalam keadaan memprihatinkan. Memprihatinkan karena ekonomi Indonesia saat ini kurang baik. Pemangkasan anggaran pemerintahan Jokowi akhir tahun 2016 sangat dirasakan di berbagai lini birokrasi. Kondisi ekonomi yang terpuruk inilah yang membuat Cina semakin leluasa. Salah satunya dengan memberi pinjaman. Jalur ekonomi dan politik yang dikuasai etnis Cina benar-benar dimanfaatkan sehingga bisa menjadi ancaman ideologi Indonesia.

Demikian pula, ketika dikatakan Indonesia sebagai negara moderat sehingga mampu memelihara kearifan lokal dan kekayaan budaya, maka Indonesia saat ini justru berada pada tingkat yang memprihatinkan. Berbagai aksi umat untuk menegakkan hukum bagi penista agama belum menunjukkan hasil yang signifikan. Ketidakberdayaan negara dalam menegakkan hukum dengan menangkap dan memenjarakan penista agama, yang sudah jelas ditetapkan sebagai terdakwa, merupakan contoh betapa negara ini tidak menjamin kearifan lokal dan kurang memelihara budaya masyarakat yang menginginkan tegaknya keadilan. Kondisi ini jelas bukan menunjukkan negara moderat tetapi dalam situasi anomali yang membiarkan ketidakadilan dipermainkan oleh sekelompok orang.

Ketika dikatakan demokrasi di Indonesia semakin membaik, justru menunjukkan pikiran anomalinya. Berbagai fakta tidak tersalurkannya aspirasi umat Islam dalam menegakkan kebenaran sangat terlihat, dimana kelompok mayoritas dari anggota legislatif tidak berjalan efektif dengan membiarkan negara melakukan kriminalisasi terhadap tokoh dan ulama Islam yang berjuang untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Bahkan menyebarnya ideologi komunis (PKI) benar-benar meresahkan masyarakat, khususnya umat Islam, tetapi aparatur negara seolah mendiamkan dan bahkan menganggapnya sebagai ketakutan yang berlebihan.

Menutup Celah Kebencian

Kebencian terhadap Arab Saudi telah menutup mata tanpa melihat lagi berbagai niat baik negara kaya minyak itu. Apa yang dilakukan oleh Arab Saudi semuanya dipandang buruk dengan penuh kecurigaan dan prasangka negatif. Bahkan apa yang dilakukan oleh Arab Saudi dengan menanamkan dananya sebanyak 335 T, justru dikatakan sebagai langkah buruk karena kedengkiannya terhadap Iran yang telah melakukan langkah lebih dahulu dalam bekerjasama dengan Indonesia.

Langkah Arab Saudi dikatakan langkah spektakulernya setelah adanya agresivitas Iran yang telah lebih awal menggandeng Indonesia sebagai mitra kerja. Dengan kata lain, apapun langkah Arab Saudi selalu negatif. Kenapa tidak mau sedikit jujur dengan menilai secara adil dengan menutup celah kebencian sedikit saja, sebagaimana yang diajurkan Allah dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah : 8)

Secara umum, pandangan Misrawi ini merupakan representasi kelompok yang ingin mencari-cari kesalahan Arab Saudi dengan menutup-nutupi fakta yang sebenarnya. Mencari-cari kesalahan Arab Saudi dengan mengaitkan dengan keterpurukan negara itu karena harga minyak yang terus menurun, dan untuk menyelamatkan negaranya, maka harus menggandeng Indonesia. Pandangan yang kritis terhadap Arab Saudi telah menutup mata adanya ancaman riil dari berkembangnya PKI yang sangat jelas membahayakan bangsa dan bernegara.

Surabaya, 1 Maret 2017
Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here