Sikap Premanisme di Tengah Tumbuhnya Spirit Beragama

0
592

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Toleransi antar umat beragama sepertinya lebih berhasil daripada toleransi antar sesama pemeluk agama. Kalau toleransi antar umat beragama di Indonesia selama ini dianggap baik, karena cepatnya penanganan sehingga tidak membesar menjadi konflik antar umat yang berbeda agama. Tidak halnya dengan toleransi antar umat sesama agama masih menjadi pekerjaan besar yang harus dicarikan solusinya. Dengan kata lain, hubungan antara sesama agama,  seperti sumbu pendek yang mudah meletus dan sulit dipadamkan.

Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 (ABI 212), yang berhasil mengumpulkan 7,3 juta massa umat Islam, masih belum hilang dari memori kita. Hal itu sungguh sulit dibayangkan sebelumnya, karena berbagai elemen umat berkumpul dan bersatu, sehingga persatuan dan kekokohan umat Islam sangat nampak saat itu. Kondisi yang bagus ini sedikit terganggu dengan adanya aksi pembubaran pengajian (2/3/2017). Yang unik, pelaku pembubaran justru  umat Islam sendiri. Alasannya klasik, sang penceramah dituduh Wahabi, pemecah belah umat, dan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagaimana ramai di media sosial bahwa pengajian yang menghadirkan Ustadz Khalid Basalamah, dengan tema ”Manajemen Rumah Tangga Islam” di masjid Sholahuddin, Gedangan, Sidoarjo harus berhenti dan penceramahnya dievakuasi keluar menyusul situasi di luar masjid yang kurang kondusif. Alasan pembubaran, sang penceramah (ustadz Khalid Basalamah) dianggap dai provokatif yang selalu menjelekkan dan membid’ahkan kelompok lain. Pelaku pembubaran pengajian itu adalah salah satu elemen NU, yakni Banser. Banser berhasil merangsek masuk masjid dan menghentikan acara yang sudah berlangsung kurang lebih 40 menit. Sebelum menghentikan kajian, Banser menerikkan yel-yel di pintu  gerbang masjid seraya melontarkan kata-kata provokasi. Saat memasuki masjid guna membubarkan acara tabligh akbar, perilaku anggota Banser itu mengakibatkan jamaah panik dan berhamburan di jalan depan masjid.

Membandingkan dua tamu

Apa yang dilakukan Banser menimbulkan kesan yang kurang bagus di masyarakat. Karena dialog dan pendekatan secara santun seharusnya lebih dikedepankan namun hal itu justru tidak muncul. Masih kuat di ingatan kita ketika salah satu pesantren menghormati dan memuliakan seseorang yang bernama Hary Tanoe. Dia bukan seorang muslim, tetapi dia memperoleh penghormatan yang demikian bagus bahkan cenderung berlebihan. Untuk menghormati tamu non-muslim, tuan rumah menyiapkan karpet merah, disambut luar biasa dengan rebana, hingga dicium tangan oleh beberapa elemen pondok, termasuk santri perempuan yang rela mencium tangannya. Sementara hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan terhadap sesama muslim. yang sangat berbeda, dimana sang penceramah harus dievakuasi keluar arena masjid.

Alih-alih memperoleh penghormatan dan penyambutan, tetapi justru penghinaan dan pengusiran yang dirasakan. Apalagi penghentian pengajian itu dilakukan di masjid ketika menyampaikan ayat-ayat Allah dan Hadits-Hadits Rasulullah dengan tema membangun rumah tangga yang merujuk pribadi Nabi Muhammad. Apakah perlakuan terhadap orang non-muslim lebih dimuliakan daripada memperlakukan saudara sesama muslim. Terlepas dari perbedaan pemahaman, tetapi pengusiran itu tetap saja menjadi noda hitam dalam dunia dakwah. Sementara yang berhak membubarkan adalah aparat keamanan, itupun dengan alasan yang mengganggu stabilitas keamanan.

Kalau selama ini, ormas NU selalu mensosialisasikan bahwa dakwah harus mengedepankan kesantunan dan akhlakul karimah, menghindarkan sikap radikal dan anarkis, serta menghargai perbedaan budaya dan mengutamakan toleransi. Bahkan mereka memberi stempel gerakan itu dengan Islam Nusantara. Di sisi yang lain, kelompok Wahabi selalu diidentikkan dengan ideologi radikal dan intoleran, melawan budaya setempat, dan selalu menggunakan cara-cara kekerasan. Namun apa yang dituduhkan kepada kelompok Wahabi ini justru menjadi pilihan kelompok Banser.

Dengan kata lain, Banser telah masuk dan mengambil langkah-langkah radikal dan intoleran terhadap kelompok yang dianggap berlawanan dengan pemahaman dan penafsirannya. Menghentikan kajian dengan kekerasan fisik bukan hanya menyalahi akhlak Islam tetapi justru menyalahi keyakinannya yang mengedepankan sikap toleran dan menghargai perbedaan.

Penggunaan cara-cara radikal dengan mengedepankan kekerasan sudah seharusnya dihentikan. Penggunaan dan pendekatan kekerasan kepada sesama muslim justru akan merendahkan Islam itu sendiri. Bahkan kewibawaan dan kemuliaan Islam justru mencoreng dengan tindakan kekerasan itu. Apa yang terjadi di masjid Gedangan Sidoarjo ini, sepertinya bukan murni perilaku ormas NU yang selama ini mengedepankan toleransi dan mengedepankan kesantunan, sebagaimana ditunjukkan para kiai mereka.

Politik adu domba inilah yang diinginkan musuh Islam agar umat Islam terus melemah dengan sendirinya. Energi positifnya tidak lagi dipergunakan umat membangun potensi umat, tetapi justru memupuk dan memperbesar permusuhan di antara umat Islam. Musuh-musuh Islam terus menanam ranjau agar umat Islam tidak berhenti mereproduksi konflik. Dengan alasan apapun, pembubaran pengajian bukan hanya sebagai bentuk intoleransi beragama, tetapi menunjukkan hilangnya peradaban santun yang selama ini melekat dalam diri umat Islam.

Dengan kata lain, pembubaran pengajian dengan mengedepankan  kekerasan fisik akan merusak Islam dari dalam. Jika dengan umat lain yang kafir saja bisa duduk dan bertoleransi, mengapa dengan sesama umat Islam justru seperti air dan minyak ? Sudah saatnya elite dan tokoh agama Islam merenungkan hal ini, agar tidak muncul tuduhan menyesatkan bahwa umat Islam tidak bisa menyelesaikan rumah tangganya sendiri kecuali dengan pendekatan kekerasan.

Surabaya, 4 Maret 2017*
Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here