Mahfud MD dan Tindakan Kontraproduktif Ansor

0
737

oleh : Dr. Slamet Muliono*

Pasca kejadian pembubaran kajian Ust. Khalid Basalamah, di Masjid Shalahuddin Gedangan Sidoarjo pada tanggal 4 Maret 2017, muncul polemik di kalangan masyarakat. Berbagai elemen masyarakat banyak mengecam tindakan Banser karena dianggap menimbulkan dampak sosial yang luas dan berkepanjangan. Kecaman berbagai elemen masyarakat itu karena pendekatan yang dilakukan Banser lebih mengedepankan pada penggunaan kekerasan fisik daripada pendekatan sosial dan persuasif. Masyarakat mayayangkan Banser karena bisa berkompromi dengan menjaga gereja tetapi justru mengambil langkah pendekatan fisik terhadap sekelompok umat Islam yang sedang pengajian.

Kritik terhadap penggunaan pendekatan kekerasan juga dilontarkan oleh Mahfud MD yang menyayangkan tindakan Banser itu, sekaligus meminta agar NU menjernihkannya agar tidak disusupi para pemecah belah. Yang dikhawatirkan Mahfud bahwa apa yang dilakukan Banser akan mengundang reaksi serupa dengan membalas dengan pendekatan yang sama karena ingin memaksakan pendapatnya. Tidak menutup kemungkinan jika suatu saat pendukung yang dibubarkan akan membalas dengan tindakan serupa.

Di satu sisi, Mahfud MD mempertanyakan pembubaran pengajian yang membahas tentang akhlak berkeluarga, tetapi juga tidak membenarkan pernyataan yang membid’ah-bid’ahkan kelompok masyarakat, bagi Mahfud, membahas tentang bid’ah boleh-boleh saja, dan pembubaran itu acara pengajian hanya bisa dilakukan oleh polisi.

Pandangan Mahfud MD menimbulkan reaksi dari Ansor. Ansor bukan hanya menyayangkan pandangan itu, tetapi menganggap bahwa pandangan pria asal Madura karena tidak mengetahui duduk persoalan dan fakta di lapangan, serta hanya mendengar dari media online. Pandangan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini, menurut Ansor, akan dijadikan rujukan bagi siapapun yang ingin mendiskreditkan organisasinya.

Ansor dan Intoleransi

Merunut pada pandangan Mahfud MD, bahwa apa yang dilakukan Banser dengan membubarkan kajian sangat bertentangan dengan karakter atau budaya masyarakat Indonesia yang lebih mengedepankan kesantunan dan kesopanan. Apa yang dilakukan Banser dengan pembubaran pengajian bukan hanya  kontraproduktif bagi terciptanya kehidupan sosial yang harmonis dan dinamis tetapi juga memupuk bibit-bibit permusuhan di masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh Banser, dengan membubarkan acara yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berbeda pandangan, maka akan ditiru dan dilakukan oleh elemen masyarakat lain yang merasa berbeda pandangan. Apabila pendekatan ini dilakukan oleh berbagai elemen dalam menyelesaikan perbedaan pandangan, bukan tidak mungkin muncul terjadi kerusuhan dan kekacauan sosial. Hal ini disebabkan pihak yang merasa banyak ingin memaksakan pandangannya kepada pihak yang sedikit.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa jalur fisik yang menjadi pilihan, bukan dengan berdialog, sehingga mengesankan bahwa perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan unjuk kekuatan fisik. Kalau pendekatan fisik dan kekerasan yang dipergunakan maka orang yang menghadiri pengajian, dengan jumlah yang lebih banyak, akan bisa menghentikan show of force itu. Dan apabila hal ini dilakukan, maka dampak berikutnya akan lebih buruk lagi, sehingga terjadi aksi balasan yang serupa. Sangat beruntung massa pengajian yang banyak itu tidak melampiaskan amarahnya karena pengajian itu dibubarkan secara sepihak.

Apa yang dilakukan oleh Banser bisa dikatakan mengambil alih peran dan fungsi polisi yang memiliki tugas untuk menjaga ketertiban dan keamanan di masyarakat. Andaikata pengajian itu meresahkan maka polisilah yang seharusnya menghentikannya. Dan polisipun tidak sembarangan dalam menghentikan acara kajian ini, sebelum terbukti ditemukan fakta-fakta yang meresahkan dan membahayakan ketertiban dan rasa aman masyarakat. Sementara di lapangan terlihat bahwa umat Islam yang menghadiri pengajian itu duduk dan mendengarkan dengan tenang tanpa ada keributan dan kegaduhan. Dan bahkan saat pembubaran pengajian pun, mereka bubar dengan tertib tanpa membalas dengan kekerasan.

Sudah waktunya masyarakat menyelesaikan persoalan dengan mengedepankan dialog dan memperhitungkan dampaknya pada persatuan umat Islam yang baru-baru in i terlihat dengan baik. Tetapi dengan adanya kasus ini setidaknya ada implikasi berupa adanya jarak atau keretakan sosial. Konflik umat Islam senantiasa diciptakan oleh musuh-musuh Islam baik orang kafir atau munafik, sehingga mereka mengambil keuntungan sesat.

Saatnya umat Islam menghargai perbedaan dan mengedepankan toleransi antar sesama seagama. Kalau umat Islam selama dikenal bisa menciptakan toleransi antar umat yang berbeda agama, sehingga berbagai konflik yang bernunasa agama bisa secepatnya diredam, tetapi mengapa dengan sesama muslim tidak bisa bertoleransi dengan menghargai perbedaan dan tidak saling mengganggu. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap dewasa dengan mengutamakan dialog dan menghindarkan diri penggunaan fisik dan kekerasan.

Pesan moral yang disampaikan oleh Mahfud MD bahwa umat Islam hendaknya bisa menahan diri dan bisa mentoleransi perbedaan serta mendudukkan persoalan sesuai dengan posisinya. Ketika terjadi perbedaan di antara  umat Islam, maka di antara umat Islam bisa menghargai perbedaan itu dan tidak mudah untuk melenyapkan perbedaan itu. Toleransi terhadap umat Islam lebih berhak dan porsinya harus diperbesar, sehingga konflik dalam bentuk fisik bisa dihindari sejauh mungkin. Perbedaan itu bisa ditoleransi selama tidak menyangkut hal yang prinsip dan esensial sehingga lebih mudah untu diselesaikan.

Sementara pihak keamananlah, dalam hal ini polisi, yang berhak untuk melakukan pembubaran terhadap kegiatan yang dianggap meresahkan publik. Tentu saja polisi sebagai aparatur negara memiliki standar dalam menentukan rawan tidaknya situasi yang berkembang. Mempercayakan kepada pihak keamanan, dalam menertibkan dan mengamankan suasana, adalah langkah dewasa dan bisa menghindarkan konflik dan kerusuhan sosial.

Surabaya, 8 Maret 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here