Hegemoni Iran Sumber Kekacauan di Suriah

0
189
Nine-year-old Syrian Abdel Basset Al-Satuf (C) is seen inside an ambulance in the town of Al-Hbeit, in northwest Idlib province, on february 17, 2017, ahead of being transferred to Turkey for medical treatment . Abdel Basset was caught in a barrel bomb attack by regime forces on February 16 in the town of Al-Hbeit, in northwest Idlib province. The harrowing footage of the young boy screaming for his father as he struggles to sit up, his legs turned to bloody stumps, quickly spread on social media. The child who was taken to a hospital in the provincial capital Idlib city for preliminary treatment, was transferred to Turkey for specialised care with his father on February 17. / AFP PHOTO / Omar haj kadour

*)Dr. Slamet Muliono

Iran bukan hanya layak untuk disebut sebagai sumber kekacauan tetapi pantas disebut sebagai agen kekacauan di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari peran Iran atas berbagai kekacauan yang muncul silih berganti di kawasan Timur Tengah ini. Suriah merupakan salah satu contoh negara yang terus mengalami pergolakan yang tidak akan selesai selama Iran masih terlibat dalam krisis yang menimpa negeri ini. Apa yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dengan operasi militernya dengan menyerang pangkalan udara Suriah, menjadi alasan bagi Iran untuk menancapkan taringnya di negeri dengan penduduk mayoritas Sunni ini. Teroris menjadi pintu masuk bagi Iran untuk mengesahkan keberlangsungan perang guna menghabisi kelompok Sunni yang merupakan mayoritas warga negara ini.

Kekacauan semakin besar dengan munculnya pernyataan Iran yang tidak akan berhenti beroperasi untuk membantu menyelesaikan persoalan di Suriah menyusul adanya operasi militer AS di pangkalan udara Suriah. Pernyataan terbaru kepala staf angkatan bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, merupakan contoh bagaimana kegigihan Iran untuk terus menciptakan konflik dan kekacauan. Membela pemerintah Suriah dijadikan alasan untuk melanggengkan kekacauan di Suriah. Mohammad Bagheri menyatakan, ketika bersama petinggi Rusia, Jenderal Valery Gerasimov untuk mengutuk operasi militer Amerika Serikat (AS) di pangkalan udara Suriah. Mereka menuduh AS bukan hanya memperlambat kemenangan tentara Suriah dan sekutunya, dan tetapi justru memperkuat kelompok teroris. Kedua pemimpin itu bersumpah untuk melanjutkan kerjasama militer dalam mendukung presiden Suriah Bashar Assad hingga kekalahan total teroris dan orang yang mendukung mereka. (sindonews.com.9/4/2017)
Isu Teroris dan Keterlibatan Iran Membunuh Warga Sunni

Awal konflik di Suriah berakar karena adanya kelompok pemberontak yang merongrong pemerntahan Bashar Assad. Memerangi para pemberontak dijadikan dasar bagi Bashar dan akhirnya menjadi krisis negara, sehingga mengundang sekutunya untuk ikut menciptakan ketenangan dan kedamaian. Persekutuan jahat Bashar dan sekutunya mengakibatkan terjadinya pembunuhan massal atas warga Suriah. Akibatnya adanya pembunuhan massal itu banyak yang ketakutan hingga melarikan ke luar negeri. Dalam perkembangannya, Bashar melabeli siapapun yang melawan dirinya dengan label teroris, dan inilah yang menjadi pintu masuk bagi Bashar untuk melakukan apa saja demi terciptanya ketenangan dam kedamaian di negaranya.
Dalam konteks ini, Iran yang kebetulan berideologi sama dengan Suriah, dalam hal ini Syiah, terdorong untuk membantu mewujudkan keinginan Bashar. Dalam perspektif sejarah, Sunni merupakan musuh bersama bagi pemimpin dua negara itu, sehingga hal itu membuat Iran dan Suriah satu langkah dalam membunuh warga Suriah. Oleh karena itu, Iran merekomendasi Bashar untuk mengundang Rusia dalam memerangi para pemberontak, yang tidak lain adalah warganya sendiri. Oleh karena itu, korban terbanyak dalam peperangan itu adalah warga sipil.

Persekutuan Bashar dengan Iran semakin lengkap setelah munculnya operasi militer yang dilakukan oleh AS. AS beralasan bahwa operasi militernya karena tentara Bashar menggunakan bom Sarin saat menggempur rumah warga sipil. Bashar pun berkelit bahwa serangannya bukan untuk menyerang warga sipil tetapi untuk menghajar para pemberontak. AS merasa perlu untuk ikut menciptakan perdamaian dengan memberi pelajaran pada Bashar, karena dianggap telah menngunakan gas Sarin yang menewaskan sedikitnya 100 orang di wilayah Khan Syaikhun, Selasa (4/4/2017). Apa yang dilakukan Bashar itu diakui oleh seorang pejabat Kementrian Pertahanan Rusia yang menyebut bahwa memang serangan itu dilakukan oleh jet-jet milik rezim Suriah. Rusia juga berdalih bahwa serangan itu ditujukan untuk kelompok pemberontak – istilah yang biasa disematkan untuk kelompok mujahidin. Rusia bersama Suriah menyebut bahwa lokasi penargetan bom Sarin itu adalah tempat pembuatan senjata milik kelompok pemberontak, demikian seperti dikutip dari alarabiya, Rabu (5/4/2017).

Apa yang dilakukan Iran, dalam menciptakan kekacauan ini bukanlah pertama dilakukan, tetapi sudah berjalan sekian lama dan berulang. Hal ini tidak lepas dari ideologi Iran (Syiah) yang ingin menundukkan dan menguasai dunia Sunni dengan kekuatan senjata yang mereka miliki. Sebagaimana diketahui, Iran merupakan kekuatan besar negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir. Kepemilikan senjata nuklir inilah menjadi modal besar bagi Iran untuk melakukan apa saja di kawasan Timur Tengah. Berbagai kekacauan dan konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah tidak lepas dari peran Iran. Iran senantiasa di belakang negara-negara yang melakukan perlawanan dan pemberontakan di negara-negara yang bermadzhab Sunni. Apa yang terjadi di Yaman dengan Houtsi, atau Lebanon dengan Hizbullah, merupakan contoh dua negara yang banyak disokong Iran, sehingga berani melawanan pemerinahan yang sah.

Apa yang terjadi di Suriah, dengan berbagai kekacauan yang belum menemukan titik terang, tidak lepas dari peran Iran. Sokongan Iran yang demikian kuat dan gigih dalam menyokong pemerintah Bashar, untuk memerangi warganya, tidak lain karena kesamaan ideologi (Syiah). Iran membantu Bashar bukan semata untuk memerangi para pemberontak yang dianggap mengganggu ketenteraman negara, tetapi karena ditopang oleh kesamaan faham keagamaan yang demikian kental. Konflik yang yang di Suriah bukan semata kepentingan ekonomi dan politik, tetapi karena kepentingan faham keagamaan. Kalau Rusia dan Cina mau bergabung dengan tentara Bashar karena dorongan dan kepentingan ekonomi, tetapi Iran lebih banyak karena kesamaan faham keagamaan, yakni Syiah.
Senin, 10 April 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here