Sikap Politik GP Anshor Telah Mencederai Umat Islam

0
258

*)Dr. Slamet Muliono

Bukan GP Ansor kalau tidak membuat pernyataan kontroversial dan berbeda dengan pandangan umat Islam pada umumnya. Kalau sebelumnya, menyematkan gelar “sunan” pada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sang penista agama, namun kali ini GP Ansor menolak Indonesia bersyariah. Pernyataan terakhir cukup ramai di tengah pergolakan pemikiran tentang wacana pemisahan politik dengan agama di satu sisi, dan gencarnya perjuangan umat Islam untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penolakan Indonesia bersyariah merujuk pada pernyataan Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Choulil Qoumas ketika membahas situasi kebangsaan yang dinilainya telah kehilangan arah. Adanya fakta yang melabeli orang yang berbeda pendapat dengan cap munafik dan tidak dishalati merupakan fenomena yang mengancam kebangsaan. Alasan tidak mau bersyariah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan bangsa. Kalau Indonesia bersyariah, kita cabut kader kita di PPP. (Jawapos.com.11/4/2017)

Kepentingan Politik atau Agama
Setidaknya ada dua pandangan GP Ansor bisa dikategorikan mencederai perjuangan politik umat Islam. Pertama, menyematkan gelar sunan pada penista agama. Sunan merupakan gelar yang disandang oleh seorang muslim yang gigih dalam membela dan menyebarkan agama dan berjuang untuk menegakkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Tentu saja gelar ini bukan hanya ditujukan untuk manusia yang memiliki identitas Islam, tetapi dianugerahkan oleh manusia pilihan yang ingin menegakkan ajaran dengan resiko pada jiwa dan raganya. Apa yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat, Raden Paku, Syarif Hidayatullah, Raden Makdum, Raden Qasim, Raden Seco, Raden Umar Said jelas memiliki jejak dan catatan sejarah, sehingga dijuluki dengan Sunan.

Kehidupan mereka dipenuhi dengan gejolak dan heroik untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam. Bahkan mereka siap bertempur melawan musuh-musuh Islam yang ingin merongrong dan melanyapkan Islam. Nyawa dan darah mereka dipersembahkan untuk tegaknya ajaran Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Dengan kata lain, gelar Sunan layak disematkan kepada mereka karena perjuangannya yang gigih dalam membela Islam.

Lain halnya dengan apa yang dilakukan Ahok. Alih-alih memeluk dan memperjuangkan Islam, dia justru menistakan Islam dan melecehkan tokoh dan ulama Islam. Apa yang dilakukan Ahok dengan memplesetkan Al-Qur’an, surat Al-Maidah 51, sebagai alat pembodohan, merupakan contoh nyata bahwa dia layak disebut sebagai musuh Islam. Akibat pernyataannya itu, dia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama, sehingga umat Islam tergerak untuk menekan pemerintah untuk segera memenjarakannya. Namun upaya umat Islam itu justru melahirkan kebijakan yang mengkriminalisasi tokoh dan elite yang memperjuangkan tegaknya Islam.
Tentu saja, gelar sunan untuk Ahok bukan saja melukai dan mencederai perjuangan umat Islam tetapi melecehkan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, apa yang dilakukan GP Ansor jelas lebih membela kepentingan politik daripada kepentingan membela agama.

Kedua, menolak Indonesia bersyariah. Dengan alasan kondisi kebangsaan yang dinilainya telah kehilangan arah, GP Ansor sepertinya ingin berkontribusi untuk memberi solusi kepada bangsa ini. Namun apa yang dilakukan GP Ansor bukan memberi benang merah dan arah yang jelas, tetapi justru memperkeruh suasana dan menyudutkan umat Islam. GP Ansor menunjukkan alasan atas kegelisahannya karena adanya pelabelan munafik bagi mereka yang berbeda pendapat, serta adanya ancaman tidak akan dishalati jika mati.

Apa yang digulirkan GP Ansor tentang pelabelan yang dianggap merusak kebangsaan sepertinya ingin melepaskan konteks pelabelan itu. Pelabelan munafik dan ancaman tidak dishalati jika mati, karena ada sebagian umat Islam yang menjual agamanya untuk kepentingan politik. Betapa tidak, ketika Al-Qur’an memandu umat Islam untuk tidak memilih pemimpin non-muslim, justru tetapi muncul sekelompok umat Islam yang justru mengaburkan dan berbalik membolehkan memilih pemimpin kafir.

Adapun alasan tidak mau bersyariah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan bangsa, justru merupakan pernyataan yang mengada-ada. Kalau umat Islam tidak memperhatikan beragam suku, budaya, dan agama, tentu Indonesia sudah menjadi negara Islam karena kekuasaan sudah di tangan umat Islam ketika era kemerdekaan. Tetapi karena solidaritas dan jiwa kebangsaan tokoh dan ulama Islam yang demikian kokoh, maka Pancasila dipilih sebagai ideologi negara. Pancasila merupakan jalan Tengah yang dipilih tokoh dan ulama Islam agar kebhinnekaan bangsa tetap terjaga. Tetapi yang terjadi saat ini, umat Islam justru mengalami marginalisasi. Atas nama kebhinnekaan, umat Islam harus mengalami teror dan ancaman karena dianggap sebagai ancaman bagi bangsa dan negara.

Perjuangan ulama dan tokoh Islam selama ini dalam mengusir penjajah tidak lain karena didorong oleh adanya spirit untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai yang diperjuangkan itu tidak lain adalah tegaknya pranata dan institusi negara berdasarkan syariat Islam. Oleh karena itu, apa yang dikatakan GP Ansor dengan menolak syariat, bukan hanya a-historis tetapi justru mencederai dan menghinakan perjuangan ulama Islam yang demikian gigih ingin tegaknya syariat Islam di bumi Nusantara ini.

Dengan demikian, apa yang dilontarkan GP Ansor untuk menolak tegaknya syariat bukan hanya menyalahi sejarah perjuangan tokoh dan ulama Islam di era perjuangan, tetapi melukai hati tokoh dan ulama Islam yang saat ini. Kalau ulama era kemerdekaan berhasil menggerakkan rakyat untuk tegaknya nilai-nilai Islam dengan mengusir para penjajah, maka tokoh dan ulama Islam saat ini terus berjuang untuk menyadarkan umat Islam dari upaya jahat musuh-musuh Islam yang terus menerus melakukan langkah-langkah terencana dan sistematis untuk menghancurkan Islam, baik lewat ekonomi, budaya maupun politik. Maka tidak salah bila lontaran GP Ansor untuk menolak Indonesia bersyariat lebih condong untuk memenuhi syahwat politik daripada untuk memperjuangkan agama Islam.

Surabaya, 12 April 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here