Insiden Penghinaan Steven ; Menggalang Konfrontasi Pribumi dan Non Pribumi

0
248
Gubernur NTB
Gubernur NTB

Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Penghinaan yang dilakukan Steven Hadisurya Sulistyo bukanlah fenomena baru dalam memandang warga pribumi. Perilaku buruk itu seakan merupakan sejarah berulang yang telah dilakukan bangsa Belanda terhadap masyarakat pribumi di Indonesia. Apa yang diucapkan Steven bukan saja memiliki kemiripan dengan apa yang telah dilakukan penjajah Belanda, tetapi merupakan sebuah stereotype masyarakat yang merasa unggul sehingga harus menghina orang lain. Bisa dikatakan bahwa  yang direpresentasikan oleh Steven merupakan fenomena gunung es (ice berg) di tengah meningkatnya  kebencian umat Islam terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dari sisi etnis dan perilaku, Steven dan Ahok memiliki kesamaan, yakni memandang rendah orang lain. Kalau Steven merendahkan seorang gubernur dengan mengatakan “Tiko” (Tikus Kotor), namun Ahok merendahkan agama Islam ketika di pulau Seribu. Ucapan  yang keluar dari mulut Steven kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat ini, disadari atau tidak, akan meresahkan masyarakat Indonesia karena ada pelecehan dan penghinaan yang tidak pantas dilakukan.

Penghinaan Atas Pribumi : Sejarah Yang Berulang

Realitas  penghinaan yang dilakukan oleh pria kelahiran tahun 1991 terhadap Tuan Guru Bajang (TGB), Muhammad Zainul Majdi  saat di bandara udara Changi, Singapore (9/4/2017) benar-benar menguak pandangan etnis Tionghoa terhadap pribumi Indonesia. Tindakan dan perilaku buruk Steven ini layak untuk diungkap karena penghinaan yang dilakukannya berpotensi akan menumbuhkan rasa benci masyarakat pribumi terhadap etnis Cina. Hal ini menjadi bibit yang akan merusak keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Ucapan Steven terhadap TGB dengan kata-kata “Tiko” (Tikus Kotor) berpotensi semakin merusak hubungan sosial yang belakangan ini, khususnya adanya fenomena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menista agama dan ulama.

Meskipun TGB sudah memaafkan, namun ucapan Steven ini tentu tidak akan terlupakan dalam memori TGB. Diakui atau tidak, TGB merupakan seorang tokoh berpengaruh dan sangat dihormati masyarakat NTB, sehingga penghinaan itu menyakini perasaan masyarakat NTB khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum.

Kalau selama ini penghinaan etnis Cina terhadap warga pribumi dianggap mengada-ada, namun fakta di masyarakat, perilaku buruk ini banyak didapati. Banyak etnis Cina yang mengatakankata-kata kotor dan menghina terhadap warga pribumi yang bekerja dengan mereka. Ucapan-ucapan kotor dan menjijikkan sering keluar dari mulut  mereka, seperti babi, anjing untuk memanggil warga pribumi ketika dianggap melakukan kesalahan. Kata-kata kotor dan merendahkan itu sering terucap terhadap pembantu-pembantu yang memiliki kesalahan kecil. Seolah tidak ada perkataan yang mendidik untuk meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh warga pribumi. Pembantu-pembantu yang bekerja dengan dianggap sebagai orang yang sudah dibeli sehingga layak untuk dimaki dan dihina ketika melakukan kesalahan.

Ucapan “tiko” bukan kali ini terjadi tetapi merupakan sejarah yang berulang. Dalam pandangan masyarakat Cina, selain mereka adalah tikus kotor atau binatang menjijikkan, yang layak untuk dihardik dan dimaki-maki habis. Ketika masih minoritas saja, perilaku mereka terekam dan terus berulang, apalagi saat ini, ketika jumlah mereka semakin banyak dan telah menguasai perekonomian dan merangsek masuk di ranah politik. Watak asli mereka demikian kasat mata.

Apa yang dilakukan Ahok selama memimpin Jakarta, tidak sedikit ucapan-ucapan kebencian yang keluar dari mulutnya. Ucapan santun dan mengarahkan dengan memberi teladan yang baik tidak menghiasi kepemimpinannya. Penghinaan terhadap Al-Qur’an dan ulama sangat nyata dan terdokumentasikan dalam benak masyarakat muslim, sehingga dalam pandangan umat Islam adalah pemimpin yang angkuh, sombong dan semena-mena. Meski Ahok telah meminta maaf, namun perilaku dan watak aslinya yang sombong dan angkuh tidak berubah dan tidak menghentikan perilakunya yang merendahkan orang lain.

Permintaan maaf seolah menjadi lips service ketika mereka sadar bahwa ucapannya telah mengganggu dan melukai perasaan publik. Namun karena watak dasar dalam memandang warga pribumi rendan dan hina, maka ucapan kotor dan menjijikkan itu akan terus berulang. Hal ini bisa kita lihat ketika Steven menulis surat permohonan maaf ke publik karena merasa ucapannya sudah mengganggu masyarakat secara luas dan menjadi pembicaraan umum.

Andai Penghina itu Muslim dan Korbannya Non-Muslim

Kalau saja seorang gubernur mereka lecehkan sedemikian hebat, apalagi masyarakat biasa. Watak buruk seperti ini jelas akan mengganggu ketertiban sosial dan sulit untuk menyatukan masyarakat. Seorang yang sudah menjadi warga negara Indonesia sudah seharusnya menganggap warga lain memiliki status dan kedudukan yang sama dan tidak saling merendahkan.

Permintaan maaf merupakan sebuah perilaku yang baik, namun proses hukum atas perilaku penghinaan itu harus ditegakkan agar kasus serupa tidak terjadi lagi dan menimpa siapapun. Andai kata kelakuan buruk Steven ini dilakukan orang muslim terhadap gubernur yang non-muslim, maka akan terjadi bahan berita yang tak ada habisnya. Ujungnya terjadi stigmatisasi berkepanjangan terhadap warga muslim, dan warga dunia akan mengecam habis  dan terus memojokkan umat Islam. Sungguh beruntung TGB tidak mempermasalahkan dan melanjutkannya ke jalur hukum, bahkan kasusnya dianggap selesai dengan memaafkannya. Apa yang terjadi bila korban itu menimpa pada warga non-muslim. Tentu ceritanya akan panjang dan akan dimuat secara serial dan kolosal.

Surabaya, 15 April 2017
*Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bi Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here