Penghinaan Steven Telah Menyulut Konfrontasi Pribumi dan Non-Pribumi

0
237

*)Dr. Slamet Muliono

Penghinaan yang dilakukan Steven Hadisurya Sulistyo bukanlah fenomena baru dalam memandang warga pribumi. Perilaku buruk itu seakan merupakan sejarah berulang yang telah dilakukan bangsa Belanda terhadap penduduk pribumi Indonesia saat menjajah. Apa yang diucapkan Steven bukan saja memiliki kemiripan dengan apa yang telah dilakukan penjajah Belanda, tetapi merupakan sebuah stereotype masyarakat yang merasa unggul sehingga sah untuk menghina orang lain. Bisa dikatakan bahwa yang direpresentasikan oleh Steven merupakan fenomena gunung es (ice berg) di tengah meningkatnya kebencian umat Islam terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dari sisi etnis dan perilaku, Steven dan Ahok memiliki kesamaan, yakni memandang rendah kelompok lain. Kalau Steven merendahkan seorang gubernur dengan mengatakan “Tiko” (Tikus Kotor), namun Ahok merendahkan agama Islam ketika di pulau Seribu. Ucapan yang keluar dari mulut Steven kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat ini, disadari atau tidak, bukan hanya meresahkan masyarakat Indonesia tetapi akan membuka peluang konfrontasi antara penduduj pribumi dan non-pribumi.

Penghinaan Atas Pribumi : Sejarah Yang Berulang
Realitas penghinaan yang dilakukan oleh pria kelahiran tahun 1991 terhadap Tuan Guru Bajang (TGB), Muhammad Zainul Majdi saat di bandara udara Changi, Singapore (9/4/2017) benar-benar menguak pandangan etnis Tionghoa terhadap pribumi Indonesia. Tindakan dan perilaku buruk Steven ini layak untuk diungkap karena penghinaan yang dilakukannya berpotensi akan menumbuhkan rasa benci masyarakat pribumi terhadap non-pribumi (etnis Cina). Ucapan Steven terhadap TGB dengan kata-kata “Tiko” (Tikus Kotor) berpotensi semakin merusak hubungan sosial yang belakangan ini, khususnya adanya fenomena Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menista agama dan ulama. Meskipun TGB sudah memaafkan, namun ucapan Steven ini tentu tidak akan terlupakan dalam memori TGB. TGB merupakan seorang tokoh berpengaruh dan sangat dihormati masyarakat NTB, sehingga penghinaan itu jelas menyakiti perasaan masyarakat NTB khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum.

Kalau selama ini penghinaan etnis Cina terhadap warga pribumi dianggap mengada-ada, namun fakta di masyarakat, perilaku buruk ini banyak didapati. Banyak etnis Cina yang mengatakan kata-kata kotor dan menghina terhadap warga pribumi yang bekerja dengan mereka. Ucapan-ucapan kotor dan menjijikkan sering keluar dari mulut mereka, seperti babi dan anjing untuk memanggil warga pribumi yang melakukan kesalahan. Kata-kata kotor dan merendahkan itu sering terucap terhadap pembantu-pembantu yang memiliki kesalahan kecil. Seolah tidak ada perkataan yang mendidik untuk meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh warga pribumi. Pembantu-pembantu yang bekerja pada dianggap sebagai orang yang sudah dibeli sehingga layak untuk dimaki dan dihina ketika melakukan kesalahan.

Dalam pandangan masyarakat Cina, selain mereka adalah tikus kotor atau binatang menjijikkan, yang layak untuk dihardik dan dimaki-maki habis. Ketika masih minoritas saja, perilaku mereka terekam di benak masyarakat, apalagi saat ini, ketika jumlah mereka bertambah dan telah menguasai perekonomian dan merangsek masuk di ranah politik. Watak asli mereka demikian kasat mata. Apa yang dilakukan Ahok selama memimpin Jakarta, tidak sedikit ucapan-ucapan kebencian yang keluar dari mulutnya. Ucapan santun dan mengarahkan dengan memberi teladan yang baik tidak menghiasi kepemimpinannya. Penghinaan terhadap Al-Qur’an dan ulama sangat nyata dan terdokumentasikan dalam benak masyarakat muslim, sehingga dalam pandangan umat Islam. Ahok adalah pemimpin yang angkuh, sombong dan semena-mena. Meski Ahok telah meminta maaf, namun perilaku dan watak aslinya yang sombong dan angkuh tidak berubah dan tidak menghentikan perilakunya yang merendahkan orang lain.

Permintaan maaf seolah menjadi lips service ketika mereka sadar bahwa ucapannya telah mengganggu dan melukai perasaan publik. Namun karena watak dasar dalam memandang warga pribumi rendah dan hina, maka ucapan kotor dan menjijikkan itu akan terus berulang. Hal ini bisa kita lihat ketika Steven menulis surat permohonan maaf ke publik karena merasa ucapannya sudah mengganggu masyarakat secara luas dan menjadi pembicaraan umum. Namun belakangan dia justru mengumpat publik karena merespon ucapannya secara berlebihan dan lebih buruk daripada ucapannya.

Andai Penghina itu Muslim dan Korbannya Non-Muslim
Kalau saja seorang gubernur mereka lecehkan sedemikian hebat, apalagi masyarakat biasa. Watak buruk seperti ini bukan hanya akan menciptakan kekacauan tetapi akan membuka konfrontasi antara pribumi dan non-pribumi. Seseorang yang sudah menjadi warga negara Indonesia sudah sekayaknya menganggap warga lain secara baik karena memiliki status dan kedudukan yang sama dan tidak selayaknya saling merendahkan.

Permintaan maaf merupakan sebuah perilaku yang baik, namun proses hukum atas perilaku penghinaan itu harus ditegakkan agar kasus serupa tidak terjadi lagi dan menimpa siapapun. Andai kata kelakuan buruk Steven ini dilakukan orang muslim terhadap gubernur yang non-muslim, maka akan terjadi bahan berita yang tak ada habisnya. Ujungnya terjadi stigmatisasi berkepanjangan terhadap warga muslim, dan warga dunia akan mengecam habis dan terus memojokkan umat Islam. Apa yang terjadi bila korban itu menimpa pada warga non-muslim. Tentu ceritanya akan panjang dan akan dimuat secara serial dan kolosal.

Surabaya, 15 April 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here