Ambisi Politik Telah Mencabik-cabik Demokrasi

0
196

*)Dr. Slamet Muliono

Demokrasi sebagai sebuah sistem politik harus rela untuk dijadikan tunggangan untuk mewujudkan ambisi politik. Betapa tidak, dengan ambisi kekuasaan yang memuncak, sementara target untuk memenangkan pertarungan begitu mengkhawatirkan, maka berbagai langkah permisif dan menyimpang dilakukan. Meskipun menabrak aturan dan menghancurkan tatanan sosial, langkah menghalalkan segala cara dilakukan demi tercapainya tujuan. Menabrak aturan hukum, mengorbankan rakyat jelata dan melakukan berbagai perilaku buruk.

Narasi di atas merupakan gambaran empirik menjelang perayaan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin DKI Jakarta. Kalau demokrasi memberi peluang yang besar kepada rakyat untuk menjunjung nilai-nilai kebebasan dengan mengedepankan kejujuran dan ketulusan, maka langkah-langkah menyimpang yang dilakukan oleh salah satu paslon justru menginjak-injak nilai-nilai demokrasi. Pelanggaran dan penyimpangan nilai-nilai demokrasi kali ini bukan saja massif tetapi dilakukan secara kasat mata. Mereka seolah tidak peduli dengan berbagai elemen penyelenggara Pilkada seperti Bawaslu, KPU, atau aparatur negara seperti legislatif, eksekutif, yudikatif, serta tentara dan polisi. Penghalalan segala cara, sebagaimana yang dianjurkan Machiaveli, benar-benar dilakukan untuk mewujudkan impian politik.

Praktek penyimpangan dan kecurangan yang dilakukan oleh para pendukung paslon Ahok-Djarot terlihat jelas, ketika memasuki masa tenang (jelang Pilkada DKI Jakarta 19 April 2017), merupakan tindakan pelanggaran politik. Prilaku politik menyimpang dengan membagi-bagi sembako dan uang dilakukan secara massif dan kasat mata di berbagai tempat. Hal ini dilakukan tanpa rasa risih dan malu. Beruntung bahwa barang-barang itu berhasil disita oleh Panwaslu. Sebagaimana diberitakan bahwa Panwaslu Kepulauan Seribu menyita 17 ekor sapi dan 150 paket sembako beserta berbagai alat penyandang distabilitas, seperti kursi roda, tongkat dan sembako. (fokusislam.com.17/4/2017)

Demokrasi dan Penyimpangan Politik
Kalau negara Amerika, sebagai kampium demokrasi, pernah mengagung-agungkan demokrasi, namun Pilkada DKI Jakarta kali ini, demokrasi benar-benar menjadi barang hina yang bisa dicabik-cabik untuk memenuhi ambisi politik dari paslon incumbent. Demokrasi telah digadaikan untuk menyokong kepentingan pemilik modal yang telah menguasai aset-aset ekonomi guna ingin menguasai jalur politik dan kekuasaan. Praktek menghalalkan segala cara yang terlihat saat ini merupakan anti klimaks atas kerja-kerja mereka yang terencana dan sistematis. Langkah-langkah terencana dan sistematis itu bisa dilihat dari fenomena berikut.

Pertama, pembungkaman media massa. Kalau sebelumnya, media massa sangat mengagungkan kebebasan dan bersikap kritis terhadap realitas yang dianggap menyimpang. Namun saat ini, suara kritis dari media mainstream sudah tidak terdengar lagi. Mereka seolah tidur pulas dan menikmati mimpi panjang menikmati puasa bicara. Berbagai realitas menyimpang tidak lagi dikritisi tetapi dibiarkan karena kepentingan mereka sepertinya sejalan dengan kepentingan pemilik modal.

Kedua, memandulkan fungsi legislatif. Keterlibatan anggota perwakilan rakyat dalam kasus korupsi e-KTP membuat wakil rakyat ini diam dan tak memiliki spirit untuk melakukan kontrol atas penyimpangan dan pelanggaran yang terjadi. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seharusnya memiliki fungsi kontrol tetapi justru menjadi pesakitan dan bungkam terhadap ketika terjadi berbagai penyimpangan yang massif dan kasat mata. Penetapan terdakwa terhadap Ahok dan tidak segera dipenjarakan, serta banyaknya kasus kriminalisasi terhadap ulama tidak membuat anggota DPR bangun untuk membelanya, meskipun mereka yang berasal dari partai politik berbasis massa Islam.

Ketiga, menyeret salah satu ormas dan parpol Islam. Salah satu di antara langkah untuk mewujudkan orgasme politik dengan menggandeng GP. Ansor dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dua kekuatan ini bukan hanya menjadi untuk mewujudkan ambisi Ahok untuk menjadi penguasa DKI Jakarta, tetapi berhasil menciptakan konflik dan munculkan keterbelahan kekuatan massa Islam.

Keempat, memperalat oknum aparat kepolisian. Padahal masyarakat berharap institusi kepolisian menjadi alat negara untuk menciptakan ketenangan dan ketertiban sosial di masyarakat. Namun kenyataannya, ada oknum-oknum kepolisian yang banyak membela dan mengamankan kepentingan politik etnis Tionghoa. Masyarakat muslim merasakan adanya pergeseran peran institusi kepolisian dan berubah menjadi benteng penghalang yang sangat kuat bagi rakyat Indonesia untuk melawan kekuatan politik etnis Tionghoa.

Penundaan pembacaan putusan atas kasus Ahok yang telah menista agama tidak lain karena peran pihak kepolisian yang begitu besar. Harapan masyarakat saat ini hanya tertuju pada tentara yang dianggap masih lebih netral dan belum terkontaminasi oleh kepentingan politik.
Kecurangan yang Dilegalkan

Pembagian sembako yang dilakukan secara massif dan terbuka oleh para pendukung paslon Ahok-Djarot merupakan langkah untuk menghindari kekalahan mereka saat Pilkada besok. Hasil survei dari 9 lembaga survei (Lingkaran Survei Indonesia, Media Survei Nasional, Saiful Mujani Research and Consulting, Indikator Politik Indonesia, Survei dan Polling Indonesia, Indomatrik, Sinergi Data Indonesia, Polmark, dan Charta Politika) telah menunjukkan bahwa Anies-Sandiaga berpeluang besar untuk memenangkan Pilkada putaran kedua ini. Pembagian sembako secara illegal tidak lepas untuk membalik hasil survei di atas.

Disadari atau tidak bahwa Pilkada kali ini bukan lagi pertarungan politik antara Anies-Sandiaga melawan Ahok-Djarot, tetapi merupakan perlawanan terhadap kekuatan ideologi komunis yang diback up oleh RRC. Ahok, sebagai representasi kepentingan Tionghoa memang harus dimenangkan dalam pertarungan ini. Kekalahan Ahok adalah kekalahan dari ideologi Tionghoa yang tinggal selangkah lagi akan memenginjakkan kakinya di Indonesia secara leluasa.
Surabaya, 18 April 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here