Spirit Islam dan Tumbangnya Penista Agama

0
140

* Dr. Slamet Muliono

Kemarahan umat Islam yang begitu menggelora dan disampaikan secara damai, berhasil menumbangkan kesombongan dan kepongahan yang mengandalkan harta, media, dan kekuasaan. Itulah kira-kira kata kunci kemenangan pasangan calon nomor 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang menumbangkan Ahok-Djarot. Kemenangan itu patut disambut dengan sujud syukur karena semuanya itu adalah anugerah Allah yang sangat agung. Perjuangan umat Islam yang demikian gigih dan tangguh untuk memperjuangkan pemimpin muslim dan menyingkirkan pemimpin non-muslim, tidak lain terinspirasi oleh pelecehena terhadap Al-Qur’an Surat Al-Maidah 51. Perjuangan tak mengenal lelah dan menghabiskan ongkos sosial yang sangat besar ini, tidak lain digerakkan oleh adanya spirit Islam setelah munculnya ucapan Ahok yang menista agama.

Ketegaran Umat Islam Menghadapi Penista Agama
Spirit Al-Qur’an benar-benar menggerakkan umat Islam untuk melakukan berbagai aksi secara damai. Aksi damai umat Islam berlangsung secara simultan meski terus direcoki dan dihalangai dengan berbagai isu negatif dan menyesatkan. Betapa tidak, aksi damai itu dikatakan telah disusupi oleh pemikiran Islam radikal yang ingin mendirikan negara Islam. Bahkan aksi damai itu dikatakan sebagai gerakan yang membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Aparat kepolisian bekerja demikian maksimal untuk menghalangi aksi damai dengan berbagai kebijakan yang disertai teror dan ancaman. Namun aksi-aksi umat Islam tetap berlangsung damai meski sempat direkayasa agar terjadi kerusuhan.

Ketegaran umat Islam terlihat ketika tidak adanya tindakan terhadap Ahok yang telah menistakan agama. Bahkan umat Islam begitu bersemangat untuk terus menekan pemerintah untuk memenjarakan Ahok, setelah ditetapkan sebagai terdakwa namun tidak segera dijebloskan ke penjara. Kesabaran umat Islam untuk menahan amarah semakin teruji ketika terjadi kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh Islam.
Puncak keteguhan dan ketegaran umat Islam bisa dilihat ketika ada gerakan yang bersifat Machiavelis dengan menghalalkan cara untuk memenangkan pertarungan. Apa yang dilakukan oleh tim Ahok-Djarot benar-benar di luar nalar dan akal sehat. Menjelang detik-detik terakhir, di saat masa tenang, mereka membuat pelanggaran secara kasat mata dan massif. Dengan membagi-bagi sembako, uang dan barang-barang tertentu secara terbuka, justru membuat umat Islam semakin tegar menghadapi musuh yang sudah kalap. Membagi-bagi sembako secara gratis di masa tenang bukan hanya pelanggaran tetapi merupakan tindakan gelap mata demi memanangkan pertarungan.

Tumbangnya Ahok dan Peran AS
Di tengah euforia kemenangan Anies-Sandiaga muncul suara sumbang dan mengecilkan peran umat Islam. Dikatakan sumbang dan mengecilkan peran umat Islam karena tumbangnya Ahok-Djarot karena peran Amerika Serikat (AS). Argumentasi yang dibangun bahwa kemenangan Anies jarena tekanan AS terhadap Jokowi, Tito, dan mafia Cina yang diwakili CSIS. AS lebih mudah “menangani” pribumi daripada daripada Cina-cina di Indonesia. Anies sejak pulang ke Indonesia dibidik AS dan sengaja disusupkan ke Indonesia. Kedatangan Wapres AS, Mike Pence merupakan indikasi kuat. Jokowi dan mafia-mafianya memang membahayakan AS dalam proyek-proyek pengerjaan laut Cina Selatan atau tol laut.

Suara sumbang di atas seolah mengecilkan peran dan perjuangan umat Islam dan menempatkan AS sebagai kekuatan dominan. Padahal perjuangan umat Islam demikian besar dengan resiko dan bahaya yang tidak kecil. Betapa tidak, di tengah perjuangan untuk memenjarakan sang penista agama, tokoh-tokoh Islam justru diteror dan dicari-cari kesalahan. Teror dalam bentuk pemeriksaan di kepolisian dengan tuduhan melakukan makar. Bahkan harus berurusan dengan pihak kepolisian dengan tuduhan melakukan penyimpangan dalam pengelolaan yayasan.

Di tengah perjuangan untuk memenjarakan Ahok, ternyata ada parpol dan ormas berbasis Islam yang justru membelanya. Apa yang dilakukan oleh GP Ansor dengan mendukung Ahok, dan support dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk maju dan bertarung dalam Pilkada DKI merupakan bentuk penggembosan terhadap perjuangan umat Islam. Bukannya mendukung aspirasi umat Islam, mereka justru mendukung Ahok dengan alasan yang dicari-cari. Dengan adanya pengkhianatan itu, justru menambah spirit perjuangan umat Islam. Hal ini tidak lain karena energi dan spirit Al-Qur’an yang demikian merasuk sehingga benar-benar menggerakkan umat Islam untuk terus melakukan gerakan pentingnya memilih gubernur muslim.

Kemenangan Anies-Sandiaga merupakan simbol kemenangan umat Islam yang didorong oleh spirit Al-Qur’an, sehingga menumbangkan kemunkaran dan kesemena-menahan. Namun euforia kemenangan itu, umat Islam harus terus waspada hingga diumumkan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Berbagai kemungkinan akan dilakukan oleh orang yang sudah gelap mata dan telah kehilangan harga diri. Kehilangan sumberdaya dan logistik yang sangat besar bukan hanya membuka peluang bagi perilaku ngawur, tetapi akan melakukan apa saja sebagai kompensasi atas kekalahannya. Kewaspadaan memang harus dilakukan oleh kubu Anies-Sandiaga guna menghalangi kelompok yang hilang kesadaran dan akal sehatnya.

Akhirnya, kemenangan Anies-Sandiaga adalah kemenangan politik umat Islam. Dengan keringat, tenaga, pikiran, dan berbagai sumberdaya benar-benar telah menumbangkan kekuatan besar yang akan menghinakan umat Islam, bangsa dan negara Indonesia. Spirit Al-Qur’an merupakan kata kunci yang menggerakkan umat Islam untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan besar yang jelas-jelas menghina Islam dan memarginalisasikan peran politik umat Islam.
Surabaya, 20 April 2017

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here